Sang Presiden Angon Bebek


Menjiplak dari ajaran Suwardi Suryaningrat “Ing ngarso sing Tulada, Ing Madya Mangunkarsa dan Tut Wuri Handayani”. Selepas pemilu 9 april lalau, apakah semboyan yang melekat sejak SD dalam pelajaran PSPB atau sejarah tempo dulu masih digemborkan. Para calon wakil rakyat yang sudah pasti dengan suara banyak mampu duduk di kursi parlemen sudah adem ayem dirumah, sedang yang masih was-was dengan perolehan suara masih setia menunggu hasil pengitungan. Bagi yang gagal total sudah bersiap dan berkemas kerumah sakit seger waras atau tetap sebagai gentle man yang sadar akan potensi dirinya.

Bagi yang sudah yakin melenggang ke kursi empuk bersiaplah menepati janji yang telah diteriakan waktu kampanye, atau bersiap pula menerima karma dari perbuatan. Nah bagaimana menjadi wakil dan pemimpin yang idealis dilihat dari lensa mata saya…?

Yach “Angon Bebek” atawa gembala bebek. Bebek dengan segala karakter dan sifat mampu dikendalikan oleh seorang navigator hanya dengan sebuah pentungan kecil. Tidak dengan kekuatan masa, uang, atau koalisinya plus kroninya. Untuk mengarahkan bebek yang keluar jalur, sang gembala akan segera menggiring kejalan yang benar dan tidak mungkin akan memukul bebek layaknya satpol pp atau aparat yang menggebuk demonstran nakal.

Seorang pengangon bebek bekerja sendiri untuk mengendalikan arah dan tujuan bebek kemana akan dibawa, hal sama dengan nasib bangsa ini. Seorang gembala harus berani melepas sandal dan merelakan dirinya telanjang kaki, Jalanan politik yang licin, kotor, berlumpur dan berkerikil tajam harus dijalani dan dirasakan. Bukan dengan mengenakan sepatu boot pelindung militer, masa, money power, sehingga tidak tahu rasanya perihnya luka dikaki yang masih dialami rakyat bawah dan bangsa ini. Ayo yang masih pakai sepatu, sandal, teklek/bakiak, atau apapun saatnya “nyeker” (telanjang kaki), rasakan nikmatnya penderitaan ini, jangan hanya berlindung dalam nikmatnya fasilitas negera. Dengan telor negara ini kami sokong, mana ransum sebagai ganti telur kami..?

Gembala bebek tidak lupa harus memotong celana lebih keatas untuk menghindari lumpur dosa yang mengotori jiwa dan karir, dari mulai lumpur korupsi, suap, fitnah bahkan samoai lumpur Sidoarjo yang masih menyembur. Jangan lupa mengenakan pakaian identitas diri, entah dari nomer urut partai, nomer absen kuliah atau nomer KTP, jadi rakyat bisa memilah, memilih dan menentukan dari mana yang layak menjadi gembala negeri ini. Pakaian pelindung juga harus dipersiapkan, siapa tahu ada nyamuk-nyamuk nakal yang menyedot darah kas negara.

Jangan takut hitam oleh sengatan mentari lawan politik dan oposisi, selama masih dijalur yang benar untuk membawa bebek negeri ini ketempat aman dan nyaman, banyak makanan juga tentunya. Hitamnya kulit sang gembala menjadi bukti bersih dan tulusnya hati dalam menggembala dan berani untuk tidak berlindung dibawah payung kekuasaan dan uang.

Bawalah bebek dengan dengan berani dan jangan takut lawan arus, walaupun dengan roda modernisasi atau teknologi. Lawan semua yang tidak sesuai dengan jalan idealisme kaum bebek negara ini. Sudah saatnya bebek memiliki jalan sendiri, sehingga tidak lagi berpapasan dengan dunia luar yang bisa melindas kita dijalanan dunia ini.

Ini yang terpenting dan menjadi senjata pamungkas sang gembala. Penggembala harus memiliki potensi dan kemampuan manejerial mengatur kemana bebek akan dibawa, serta harus mengerti tempat mana yang menjadi area penggembalaan. Jangan sampai salah jalan dan salah tempat, para bebek negeri ini sudah lelah berjalan kesana-kemari tetapi tidak menemukan tempat yang tepat untuk kami makan, bermain, belajar, tiduran, atau beranak pinak. Saat senja mulai datang jangan lupa bawa kami bebek-bebek negeri ini kekandang hangat kami untuk kami bisa beristirahat untuk menantikan esok pagi yang cerah, pastikan PERUT KAMI KENYANG, sehingga bebek bisa tidur NYENYAK dan tunggu besok pagi kami berikan TELOR bergizi buat negeri ini.

Siapakan yang akan menjadi gembala Bebek Indonesia tempat yang banyak makan, aman dan nyaman, sehingga bisa menghasilkan telur dan keturunan yang baik…., kita tunggu… salam

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. haha… bisa wae.. nek neng galeri kan bisa di omyang terus hehe… latihan terus kok.. salam

  2. weleh langsung njajal HDR iq…mantep tenan deh…hehehehe

  3. mbekk..mbekk… auf..auf.auuww… tuh pemimpin srigala berbulu domba hehe.. salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...