Monopoli Fotografer

Waktu adalah momment yang tidak bisa di ulang, bagaimana pun caranya. Tidak bisa lebih cepat atau lebih lambat dari waktu, tetapi hanya bisa mengikuti berjalan seiring dengan masanya. Moment setiap orang juga begitupula yang terjadi, berjalan seiring dengan waktu.

Pagi ini kumencoba peruntungan untuk memotret teman kantor yang menikah. Permintaan tolong teman lah yang membuat saya beralih arah ke model memotret saya, dan untung saya sudah sedikit mendapat ilmu dasar tentang memotret indoor, modeling dan human interest.

Sampai dilokasi, terlihat beberapa orang sudah bersiap dengan kamera masing-masing, mereka adalah dari EO weeding untuk dokumentasinya. Terlihat wajah yang agak kurang bersahabat ketika saya ikut nimbrung dalam satu angel.

Beberapa momment sempat tertinggal buat saya, bukan karena saya telat, tetapi tidak mendapat tempat. Mempelai berdua langsung di direct oleh fotografer acara, setelah di jepret lalu suruh ganti gaya, padahal saya sudah siap take juga tetapi sudah keburu ganti. Wuffhhhh…. sebel kenapa mesti begi bradher tukang lensa?. Apakah gara-gara kamu mendapat bayaran dan punya tanggung jawab lebih, tetapi mengkesampingkan kami relawan yang rela datang, rela gak dibayar, rela menghabiskan shuter count, energi dan muka tentunya.

Situasi yang tidak nyaman tersebut membuat problem solving sendiri, coba dari sudut pandang lain yang unik, ekstrem dan nyleneh. Kucoba membuat panorama dalam gedung resepsi, human interest, lobang jarum, arsitektur, candid dan lain sebagainya, intinya jangan dekat-dekat dengan fotografernya nanti hasilnya tidak jauh berbeda.

We are different and unique, yach berbeda dan unik. Setiap juru masak memiliki resep yang berbeda dan cara masaknya tentunya berbeda pula, walau memakai alat dan bahan yang sama. Kutemukan cara yang lain dan proses yang lain, biar hasilnya berbeda pula tentunya.

Yach selamat bekerja mas-mas fotografer, semoga tidak mengganggu profesi anda, saya hanyalah pendatang. Catatanku cuma satu, kulihat mas-mas mencet tombol preview (<I) deleted – Yes beberapa kali? ada apa denganmu, gambarnya flat dan over yach? flashmu ntuh ngantem di muka…. ama kain putih…? aku mah cuma lenskeper yang gak peduli ama muka orang, asal sedap dipandang sudah cukup dan biarkan software saya yang bekerja.

Salam

DhaVe

Gedung Manten, 12 Juli 2009 10:00WIB 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. agungsudrajat said: lah wong dasarnya landscaper kok beralih ke foto manten….hehe…..

    @tjahjokoe; iya om… wes ah cuek ae yang penting feel ini bisa keluar dan dapet gambar yang bagus,”tapi jangan gitu donk sesama tukang lensa”

  2. agungsudrajat said: lah wong dasarnya landscaper kok beralih ke foto manten….hehe…..

    sing penting happy jepret.. 🙂

  3. agungsudrajat said: lah wong dasarnya landscaper kok beralih ke foto manten….hehe…..

    hahaha… kebetulan ana kanca merit.. tapi tetap dengan model landscaper hahaha,.,,,,,, pitijuiiiiiiiiiiiiiiiiii weshhh

  4. polarbugs said: hehe.. iyah,, brp kali? :p

    lah wong dasarnya landscaper kok beralih ke foto manten….hehe…..

  5. polarbugs said: hehe.. iyah,, brp kali? :p

    berapa kali ya… berkali-kali, akhir acara iseng lihat hasilnya, ternyata punya saya lebih ancoor,,,, hahaha… punyaku penuh pemandangan landscape gedung manten heheh…e…

  6. dhave29 said: Catatanku cuma satu, kulihat mas-mas mencet tombol preview (<I) deleted – Yes beberapa kali?

    hehe.. iyah,, brp kali? :p

  7. hehehe… bisa ketauan aja tuh mencet preview nya.. ;)sip mas.. yangpenting beda angle malah seru.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...