Jalan Raya Tempat Efektif untuk Menindas HAM

Jalan raya diciptakan sedemikian rupa agar bisa dengan nyaman dilewati oleh kendaraan. Pembangunan jalan raya memerlukan hitungan yang cermat, berkaca dari pengalaman dulu saat masih ikut merintis jalan tembus. Survey dan pengukuran jarak, kecuraman, sudut elevasi, material penyusun tanah, kondisi sekitar dan masih banyak sekali yang diperhitungkan. Langkah selanjutnya adalah dengan pengerukan, pemerataan, pengerasan dan pengaspalan, semua begitu dilakukan dengan cermat untuk sebuah sungai hitam yang keras. Keselamatan dan kenyamanan menjadi prioritas untuk mobilitas.

Bagaimana dengan keselamatan pejalan kaki?. Pembangunan trotoar, zebracros, jembatan penyebrangan merupakan wujud nyata untuk memanjakan pejalan kaki. Saat ini yang saya rasakan, kaki saya sudah tidak lagi dimanjakan, nyaman apalagi selamat saat saya harus berjalan di trotoar, zebracross, dan jembatan penyebrangan. Rasa deg-degan dan was-was selalu menghantui.

Semua hanya menjadi pelengkap dan beralih fungsi. Suatu saat saya ingin menyebrang dengan lewat jembatan layang, bukannya selamat tetapi malah mau cilaka. Kaki saya kejeblos di papan lantai tangga, ternyata papan sudah lapuk (mungkin jarang dipakai) dan saya cek disisi lain juga begitu. Nah lebih mengerikan bukan, sudah kejeblos, jatuh, ditubruk motor lagi (imajinasi kelewatan…).

Zebracros juga hanya sebagai hiasan dijalan raya yang ramai. Saya berani bertaruh bagi pengendara, tidak semua tahu bagaimana aturan main di zebracros. Di negara maju, sekencang apapun mobil, motor akan berhenti apabila dizebracross ada orang mau menyebrang. Begitu santun dan tertib berkendara, nah berbeda dengan disini. Ora Edan Ora keduman (tidak gila tidak kebagian), semua seolah menangnya sendiri.

Jadi ingat kata guru SD “kalau nyebrang tengok kanan kiri, kalau sudah sepi baru nyebrang” nah… sekarang sepinya kapan? (kalau jembatan putus atau rombongan Presiden lewat baru sepi kaliii?). Saat menyebrang memang dibutuhkan keberanian tersendiri, acapkali tripod atau monopod saya kelurakan semu kakinya, “anda kelewat saya sikat” (hati-hati dijalan kalau lihat orang pakai tripod atau monopod, ngalah saja daripada diajak hunting jalan kaki).

Trotoar tidak mau kalah dengan zebra cross dan jembatan layang yang acapkali melanggar HAM (hak asasi melangkah). Saat enak berjalan disusunan paving dan rimbunya pepohonan, langkah kaki harus berhenti sesaat untuk berfikir bagaimana melintas. Terlihat dari ujung ke ujung pedagang kaki lima berbaris semrawut. Badan trotoar nyaris tidak ada yang tersisa secuilpun untuk kaki melangkah, terpaksa jalan di aspal sambil adu balam dengan mobil, motor, becak, siapa apes dia ludes.

Selesai barisan pedagang kaki lima, kaki aman dan nyaman lagi untuk berjalan. Mendekati lampu pengatur lalulintas, suasana tambah mengerikan. Beberapa motor asyik mengoyak trotoar demi untuk mencari start terdepan saat lampu menyala hijau. Saya iseng jalan ditrotoar dengan santai, seperti biasa tripod saya kembangkan dan panggul. Dibelakang terdengar suara klakson motor yang menggertak “minggir suu… emang jalan moyang loe!!!”. Saya tetap konsisten berjalan, dan akhirnya mendekat pula seorang pemuda.

“yesss…. dapat mangsa”, dengan tubuh kecilnya pemuda tersebut, membentak “woi minggir saya mau lewat ini”. Kamera saya On, autoamtic mode dan jepret tepat muka, motor dan bahu trotoar. Dengan tripod ditangan saya hampiri untuk cari gara-gara. “mas bunuh tuh motor…!!!” bentak saya tidak kalah keras (ya jelas berani, dia lebih muda dan kecil, ABG kayaknya). Dengan tripod didepan mukannya… saya hampiri “ni lihat…!!!” sambil menunjukan review dari jepretan kamera saya. “ni gambar tak kasih Poltas, cilaka sampeyan..!”.

Dengan gaya mirip wartawan (wartawan mulkiply iya…) coba berargumen padahal lampu sudah ijo, kuning,merah dan ijo lagi, tetapi ingin kutumpahkan ke pemuda kecil ini. Pertemuan di akhiri dengan damai dan bersalaman penuh dengan kedamaian. Setelah merenung sebentar, saya tersadar bahwa sayalah yang bersalah.

Sudah saatnya pejalan kaki seperti saya untuk menyebrang lewat zebracross dan jembatan layang, karena sedemikian bahayanya. Hindari juga berjalan ditrotoar, karena sudah menjadi daerah kekuasaan pedagang kaki lima dan kendaraan bermotor yang ingin start terdepan. Lebih enak jalan dikampung, bisa merasakan aroma debu, keramahan penduduk “pinarak rumiyin mas” (mampir dulu mas). Jalan di gunung lebih enak lagi, lengang, sepi, solidaritas, saling menghormati dan penuh persahabatan.

Banguuunnn sudah pagi… Kerjaaa… ngimpi saja…
Semoga berkenan… “ingat jangan sendirianjalan ditrotoar, zebracros, pastikan Tripod menemani”

Salam

DhaVe
Kamar kost, 3 September 2009 06:58

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. otto13 said: Karena itu, saya lebih suka jalur kereta api….

    hemmm begitu yah…

  2. dhave29 said: pastikan Tripod menemani

    Karena itu, saya lebih suka jalur kereta api….

  3. dhave29 said: pastikan Tripod menemani

    @alex; udah ah… masa lalu dan aib.. besok ketemu, pasti tak gebug pake velbon yang 10kg hahaha… piss saja deh… maksudnya bawa tripot, mau hunting dan merenda cahaya hehehe… woke…?

  4. dhave29 said: pastikan Tripod menemani

    buat gebukin pengendara motor…. (Dendam ModeOn)

  5. lalarosa said: paru punya twopd mas, itupun dari Tuhanbelum mampu untuk beli Tripod….. masih ngimpi aja neh 😀

    hahaha…. pake gagang sapu juga bisa.. asal bisa berdiri dan kuat buat gebug hahaha… semoga lekas di berkati untuk dapat tripot.. hehehe piss 😀

  6. dhave29 said: “ingat jangan sendirianjalan ditrotoar, zebracros, pastikan Tripod menemani”

    paru punya twopd mas, itupun dari Tuhanbelum mampu untuk beli Tripod….. masih ngimpi aja neh 😀

  7. harataya said: dan itu adalah hal yang tersulit buat kita lakukan sebagai mahluk sosial….

    bethull.. wes hantam rata.. saja.. kaya bencana alam..ntar kan homeostatis dengan sendirinya.. hehehe

  8. dhave29 said: harus bisa memilah dan meilih mana yang layak di bela…

    dan itu adalah hal yang tersulit buat kita lakukan sebagai mahluk sosial….

  9. harataya said: hehehhee….akuuur!…..hehehhe!saya dulu lumayan aktif di dunia per punk jalanan…yang biasa ngurus orang2 “tertindas” kayak mereka yang ngelapak dijalan itu…tapi, jujur ya? setelah melihat dengan mata kepala sendiri, ternyata mereka itu ga semua nya layak dibela dan dikasihani…..

    setuju hehehe… aku dulu pernah berkelahi ama punk jalanan hehehe.. Piss ya benar, harus bisa memilah dan meilih mana yang layak di bela…

  10. hehehhee….akuuur!…..hehehhe!saya dulu lumayan aktif di dunia per punk jalanan…yang biasa ngurus orang2 “tertindas” kayak mereka yang ngelapak dijalan itu…tapi, jujur ya? setelah melihat dengan mata kepala sendiri, ternyata mereka itu ga semua nya layak dibela dan dikasihani…..

  11. @harataya; ini tripod yang dari besi buat camcorder… lebih gede dan manteb… 5kg lebih… hehehe… genti di jegog-i… (oww dasar asuuu…) memang susah buat efek jera buat mereka.. ironis dan dilematis.. tapi yang penting kita yang tahu dan sadar harus bisa memberi contoh yang baik tho hehehe 😀

  12. eman eman tripod’e…hehhehehhee…. suwi nabung ngge tuku kok bar tuku malah dingge gebug wong…hehhehehee… leh mending aku dirumah saja… enak, ga ada yang perlu diajak brantem…hehehhee…palingan si Shiro minta bagian makananku sambil ngotot jenggong2…hehhehehee… bukannya saya jahat, tapi saya lebih senang mereka yang ga tertib diobrak abrik…karena udah digituin ajah mereka ga kapok2 kok…gimana dihalusin….hehehhehee….

  13. @harataya; yups mbak… aku dulu masuk keluar tenda biru… untung gak disiram kuah bakso hehehe… mau jalan aman? lewat selokan saja… dijamin gak ada yang nabrak.. pak sat pol pp, tertibkan itu trotoar, tapi yang manusiawi jangan melanggar HAM lho ya…? memang susah melihat kondisi yang ada… gebug pake tripot sajah… bug..prak…praak…

  14. Di Jakarta pun yang namanya trotoar, sudah beralih fungsi menjadi pasar dadakan… Sudah turun pangkat fungsinya. Mau jalan di trotoar otomatis jadi sangat sulit… mana jalan raya nya rame banget, jadi tambah bingung gimana mau liwat. Pernah sekali saya nekat jalan sambil nginjekin lapak yang jualan diujung luarnya. Segala caci maki keluar dari mulut orang2 Madura, Padang dan Batak. Lempeng ajah…hehehhehee…. kalo saya jalan di sisi jalan raya trus kesrempet dan luka, apa mereka mau nolongin? paling cuman bisa nyorakin doang…..

  15. @sole; bener Om… banyak orang lupa cangkang-nya… padahal dulu juga jalan kaki, begitu udah naik roda karet nindes yang masih pake sol karet hahahaha… kejamnya jalan raya… xixixixii… makasih buat apresiasinya…

  16. @sulisyk: iya Om… nie mentalitas lalulintas yang bobrok… muak saya.. enakan naik gunung hahaha.. tapi bagaimanapun ya harus dihadapi apa adanya… makasih sudah bisa tertawa… salam

  17. hehehe..segerr dan kocak mazindonesia emang nggaramah ama pedestrian

  18. hahahaha uneg2 yang lucu mas, jadi senyum2 sendiri pagi ini :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...