Kamuflase Ramadhan Ajang Pembebasan Kesombongan

Semalaman suara takbir berkumandang, suara bedug bertalu-talu menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Malam berlalu dengan menyebut asma Allah atas curahan kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa. Pagi menyingsing, saatnya memulai hari baru dengan diawali sholat ied di Lapangan Kecamatan.

Selesai shalat ied kembali kerumah masing-masing untuk menikmati hidangan istimewa dihari pertama idul fitri. Sajian khas lebaran tidak berbeda jauh dari tahun-tahun kemarin; opor, ketupat, srundeng, kari ayam dan aneka makanan kecil dan kue. Perut kenyang dan mata kembali terang. Acara selanjutnya adalah kunjungan silaturahmi keluarga besar.

Disebut keluarga besar karena semua keturunan eyang buyut berkumpul dalam sebuah lokasi yang sudah ditentukan. Jarak sekitar 300m, maka jalan kaki menjadi pilihan. Sudah banyak family yang jauh dan dekat berkumpul dan bercengkrama satu dengan yang lainnya. Ini adalah pertama kali mengikuti acara temu keluarga besar, sebab sebelumnya tidak pernah mau dan malau, entah kenapa enggan hati ini untuk ikut serta.

Terpaksa dan dipaksa itu yang dialami, sungkan dan tidak enak membuat mau tidak mau harus dijalani. Benar saja, apa yang dibayangkan menjadi sebuah realita.
“o… ini mas yang baru lulus kuliah, katanya kerja dipabrik?”
“ini anak saya yang ke dua, baru lulus kuliah langsung kerja di bank”
“sudah nikah beluum…? masak kalah sama adiknya”
“ih norak, ora mbois blas, masak baju koko ama celana jeans..”
“lah kamu dulu kan yang pemalu dan goblognya minta ampus pas SD”
Banyak lagi pujian yang mendarat dan hanya bisa cengar-cengir saja.

Hal yang memuakan adalah saat dibandingkan dengan generasi seangkatan yang jauh lebih mapan hidupnya.
“ntuh si XXXXX sudah jadi polisi, hidupnya mapan dan enak”
“dik ZZZZ sudah jadi PNS, gajian tidak telat jaminan masa depan”
“mas kae, lulus kuliah langsung ditarik kerja dikampusnya”
“mbak VVVVVV malah wis nikah oleh pejabat”
“kapan kowe nyusul mereka….?”

Cengengesan sambil menengok keatas melihat kesuksesan sodara yang pulang dengan membawa mobil dan motor, kontras dengan yang jalan kaki dan memakai jasa angkutan umum. Terlihat semua kesuksesan dipatok dari sebuah materi, pangkat, kedudukan dan kehormatan. Apakah yang bisa dibanggakan dibanding dengan yang lain, tidak ada kecuali sebuah menera kesombongan.

Segera menuju ruang makan, mengambil secukupnya hidangan dan duduk sendiri sambil melamun mencerna pujian-pujian dari sodara.
“polisi…polisi… dihormati saat berseragam dan bertatap muka, dibelakang dikasih pantat dan hinaan, kamuflase kemunafikan”
“PNS, 804, berangkat jam 8 kontribusi 0 dan pulang tepat jam 4, abdi pemerintah gebleg”
“pegawai kampus, staf yang diperalat orang pintar dan otaknya dibekukan untuk dicuci, tak ayal sebagai budak belian pendidikan”
“istri pejabat, pintar sekali menghargai diri dan nikmatnya menikmati uang negara untuk keluarga”
“ngapain nyusul mereka, aku sudah punya jalan sendiri”

Lamunan buyar bersamaan dengan isi piring yang ludes. Kembali ke meja makan sambil mengambil teh hangat dan kembali mengangkasakan pikiran.
“apa polisi bisa motret dan terus hunting ya….?”
“PNS bisakah ngeMPi kaya gini”
“pegawai kampus bisakah traveling dan naik gunung serta bersepeda”
“istri pejabat maukah berpakaian sederhana, makan apa adanya dan jalan kaki kemana-mana”
Apa yang mereka dapat, bisa diperoleh, tetapi apa yang kudapat belum tentu mereka punya.

Mencoba menengok kesamping, ternyata ada yang lebih daripada yang diatas. Seorang sepupu yang berhasil memiliki sapi perah, dengan puluhan sapi perah sebagai mesin uangnya. Keseharian dipeternakan membuat penampilan nampak sederhana dan tidak menunjukan kalau ratusan juta siap diperah. Adalagi yang menjadi petani yang cukup berhasil, menjelang musim panen tiba membeli sebuah mobil pick up bukanlah hal yang sulit dan mustahil. Penampilan ala petani dengan kulit hitam legam, dan otot menonjol.

Melihat sebuah pemandangan kontras bila peternak vs polisi, pns vs petani. Kamuflase kesombongan dari sebuah prestis untuk menutupi lubang kemunafikan. Penampilan apa adanya, kesederhanaan menonjolkan sebuah kearifan dan kebijakan untuk menutupi sebuah keberhasilan. Mencoba menunduk terlihat masih banyak yang belum seberuntung dan harus terus berjuang.

Dibulan yang penuh liburan ini, coba kita tengadahkan keatas untuk bermimpi, coba menengok kesamping dan belakang untuk melihat peluang, menunduk sejenak untuk bersyukur dan tatap lurus kedepan untuk masa mendatang. Semua ditangan untuk sebuah pilihan….

Semoga memberi inspirasi…

Salam

DhaVe
Jaga Warung, 20 September 2009; 10:45

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    @pilar; hehehe… enak ya… gak enaknya gimana coba..?

  2. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    hooh.. mereka nggak bisa kayak kita-kita..naik gunung, manjat, bersepeda, hunting, kembulan de-el-el nya hihihiHalaaaah ki-ta lagi 😀

  3. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    @lala; bener juga yoooo…?

  4. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    toleh kanan, kiri, bawah, atas, depan ato belakangyg penting dapet angel yg bagus ehehheheehehehehe

  5. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    @sulisyk; wokeh Om…. syap… pulisi, pns ora bisa hunting hahaha, tapi istri pejabat iso bunting….

  6. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    Wis lah vokoke hunting potoh wae 🙂

  7. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    @tjah;matursuwun mas sudah berbagi pengalaman…. yach mencoba menjalani apa yang benar saja… suwun dan salam

  8. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    sukses adalah proses bagaimana ia meraihnya, bukan materi yang didapat..(menurutku lho…).. 1 hal yg saya yakini sejeki tdk akan ketukar..akeh men komennya,kyk yg udh bener aj,hehehe..piss

  9. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    @acorbusie; makasih banyak Om…. buat apresiasinya… salam

  10. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    Setuju mas.. 🙂

  11. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    @harataya; wes pokoke makasih deh… mendudul tenan kie…

  12. dhave29 said: @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

    hmmm…. hehehehhee….. just touched by what you posted here……

  13. @hrotoyokono…. wis bisa ngguyu… hehehe

  14. hehehehe…*tawa haru*…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...