Pohon Nangka Penaung Kaum Tersingkir (memori ramadhan)

Lebaran memang saatnya kumpul dan bertemu keluarga, disain waktu yang serentak diseluruh tanah air dimanfaatkan untuk kembali kedaerah asal. Hanya sebatas berkumpul, kangen-kangenan, mengunjungi sanak famili atau hanya sebatas absen mudik diperjuangkan mati-matian asal bisa pulang kampung.

Lebaran hari pertama versi nasional, saat jalan-jalan dipasar bertemu dengan kawan lama. 12 tahun yang lalu kami berempat duduk dibangku SMP dilereng Gunung Merbabu. Sejak kelas 1 sampai kelas 3 kami ber empat utuh dalam 1 kelas, bahkan tempat duduk kami saling berdekatan. Kami mencoba memutar waktu yang lama kami simpan serapat mungkin agar tidak bocor, sebab akan sungguh memalukan apabila diketahui orang lain.

Berawal dari masuk sekolah, 3 teman kami harus berangkat saat matahari belum mengintip permukaan bumi. Cahaya lembayung kekuningan memberikan penerangan 3 sahabat untuk berangkat sekolah. Jarak tempuh 5 KM melewati jalan setapak yang masih basah karena guyuran embun pagi, kicau burung menjadi musik alam dan hembusan kabut pagi menjadi tabir kebekuan. Jam 06:45 kami bertemu digerbang sekolah, berbeda dengan saya yang cukup berjalan 1 km dan kebetula posisi rumah ditengan kota kecamatan.

Masuk kelas dan mulai pelajaran, semangat belajar 3 teman nampak begitu menyala dibanding saya masih melempem dan anget-anget tahi cecak. Istirahat pertama meraung-raung, bergegas kami meninggalkan ruang kelas dan menuju keperpustakaan. Gila… gayane perpustakaan, bukannya kami sok intelek, pinter atau ingin dicap rajin, tetapi perpustakaan adalah sebuah pelarian. Kami berlari dari yang namanya kantin dan warung, sebab tak ada sepeserpun uang disaku. Daripada ngiler lihat orang jajan, lebih baik ngiler diatas buku sambil tiduran diperpustakaan.

Peljaran dimulai lagi, begitu juga jam istirahat kedua, kembali keperpustakaan. Hampir sekian lama sekolah di SMP tersebut, kami tak tahu menu dan harga jenis makanan yang disajikan. Jam pulang sudah meraung-raung, sorak kelegaan muncul dan diteriakan, tetapi belum boleh pulang karena ada peljaran tambahan. Ada jeda waktu istirahat 45 menit, untuk makan siang, sholat atau apapun.

Kami berempat bergegas keluar menuju pemakanam dan mendekam dibawah pohon nangka yang rindang. Beralaskan rerumputan kami membongkar logistik kami masing-masing. Saya seperti biasa; nasi, kering tempe dan telur ceplok, terasa kontras dengan ketiga teman. Rantang dibuka, bull aroma nasi jagung, ikan asin, kluban (lalapan sayur), sambel terasi menjadi menu ketiga teman kami.

Bak mobil molen, semua makanan kami tumpahkan jadi satu dalam lembaran daun pisang. Kami merasakan nasi beras+jagung, telor kombinasi ikan asin dan kluban lauk kering tempe. Makan kami begitu lahap dengan muluk (memakan dengan tangan), sambil sesekali air teh dalam botol bekas sirop yang ditutup plastik dengan ikatan karet menjadi pelumas tenggorokan. Rasa kenyang begitu terasa, sambil memanfaatkaan 30 menit untuk memejamkan mata sambil melupakan kepenatan. Pohon nangka dan makam menjadi saksi betapi terpinggirnya kami diantara anak-anak yang lain, tetapi kami semua bisa membuktikan, bahwa nasi jagung bisa mengalahkan soto kantin.

Kenangan tersebut menjadi sebuah bumbu memory kami dihari lebaran ini. 3 sahabat sudah menikah, 2 diantaranya dikaruniai masing-masing seorang putra, dan yang 1-nya bangga dengan anak kembarnya. Terlihat 4 ponakan yang lucu-lucu sedang asyiknya bermain dipelataran rumah, ketiga istri asyik ngrumpi dan kami berempat kembali bercerita tentang masalalu kami. !, 2,3 gelas teh hangat habis sudah, dan makanan kecil sudah berkurang, anak-anak merengek minta pulang.

Saatnya kami harus berpisah, kembali ke pekerjaan dan keluarga masing-masing. Terlihat 3 teman yang begitu bahagia dengan keluarga kecilnya yang sederhana disebuah dusun. Saat berpamitan pulang serempak terlontar kata.
“ndi ponakanku….?”
Nanar hati ini mendengar celotehan 3 sahabat yang berharap segera mengikuti jejak mereka.
“hemmm…mmm…mmm” sebuah senyuman dan anggukan kepala tanda mengerti serempak kami layangkan.

Terimakasih sahabatku, perjuangan kalian telah memberi inspirasi…
Wahyu “kwek”
Djum “DJ”
Jum “kemi”

Salam
DhaVe
Gondang, 20 September 2009; 13:00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. @lala; lebih mahal pacaran perasaan… buat cowok kamsute..

  2. @lala; enak pacarane kie hehehe… iri.com

  3. persahabatan dan kebersamaan adalah sesuatu yang sangat mahal ketimbang sebuah pacaran

  4. @ndipe; yo cuma mbuka lembaran masa lalu, kui nek gak kumpul kanca lawas yo ora bakal njedul hahaha… based true story wehehehe

  5. wah kontras bgt mas..haha..jamanku sudah ada bis sekolah..hehe..tp sip..belajar pasti lebih sungguh2..ra mikir aneh2..inget SMP dadi inget kbeh..wah..wah..tengkyu bgt mas

  6. @tjah; iya mas..coba bernostalgia dimasa lalu, semoga tidak lupa kulit yang menjadikan seperti saat ini… suwun, mari saling berbagi untuk inspirasi

  7. nice posting…memutar kembali kenangan yang menjadikan kita smua seperti sekarang ini..

  8. @sulisyk; wah perlu dijemur biar ntar kalo dogoreng lagi bisa renyah hehehe…. @haratanya; kembali tersenyum hehehe

  9. Ah jd malu kl inget dl nasibnya jauh lbh baik tp belajarnya melempem

  10. @harataya; matursembah nuwun mbak Dyan… best pren yach…

  11. nice posting, Mas…. i long for a best friend…. i really do.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...