Menjadi Jongos itu Asyik untuk Dikenang

Diskrimansi atau pembedaan dan pengelompokan berdasarkan ciri morfologi seringkali menjadi bahan perdebatan dan pertentangan. Nelson Mandela adalah seorang yang mampu mengubah diskriminasi (apharteid) menjadi sebuah kemerdekaan bagi kaum yang disingkirkan. Suku, Rasa, Golongan, Agama adalah beberapa faktor yang mendukung adanya diskriminasi. Apapun bentuknya pembedaan, adalah sebuah diskriminasi berdasarkan penilaian kwalitatif morfologi.

Saya memiliki sebuah keluarga besar, apabila dirunut dari eyang buyut (generasi pertama dan saya generasi ke empat) hampir sekitar 200 orang. Lebih menciut lagi dikeluarga kakek nenek hampir sekitar 60an orang. Diskriminasi, sering orang melihat hanya dalam cakupan global/dunia, saya mencoba melihat dari arus bawah atau keluarga. Generasi saya yang berjumlah sekitar 30an orang secara fisik dan latar belakang yang berbeda-beda, sehingga acapkali adanya pembedaan/diskriminasi.

Saya, 2 adik dan 2 sepupu adalah yang masih tinggal didesa, sedangkan 25 sodara yang lain tinggal dikota besar. Nah Hari paling menyiksa adalah saat lebaran datang, hampir 60 nyawa tumplek blek dirumah kakek. Kami berlima yang mendapat jatah sebagai tuan rumah harus kerja ekstra keras untuk menjamu para sodara-sodara. Dari mulai bersih-bersih rumah, belanja dipasar, membantu masak, nyuci piring, yang dimulai dari subuh sampai menjelang tengah malam. Semua sodara seolah cuek dengan menikmati liburan dan servis dari kami. Lebaran, Natal, adalah hal yang kami benci karena harus menjadi pelayan, pesuruh kadang dimaki dan dimarahi, penghinaan ndeso, katrok, culun, sudah hal yang biasa.

Suatu hari, kakak sepupu tertua menikah, maka keluarga besar mengadakan rapat panitian. Kami berlima sudah yakin dan pasti apa yang bakalan menjadi tugas kami. Seksi dapaur, yups dimulai dari menyiapkan makanan, minuman, cuci piring gelas yang tiada henti-hentinya sepanjang acara. Sambil sesekali mengintip sodara kami yang diluar, dirias cantik dan cakep sebagai penerima tamu, pager bagus, pager ayu, tetapi kami hanyalah seorang “jongos”. Beberapa kali setiap acara pasti didapur, bersih-bersih dan full servis, kadang membuat hati ini muak dengan perlakuan kami yang dibeda-bedakan.

Waktu terus beranjak, saya dan adik melanjutkan kuliah dan 3 sodara kami menempuh pendidikan di kepolisian. Menjelang liburan, pulang ke desa berharap sodara yang lain bisa melihat siapa kami, ternyata cap pelayan masih melekat kuat. Akhirnya kuliah kelar juga dan pendidikan polisi usai, bekerja di perusahaan dan berdinas di polda. Saat liburan kembali datang, harapan buat sodara untuk melihat siapa kami dibuang jauh-jauh, kami tidak ingin menunjukan siapa diri kami. Kami masih tetap menjadi seorang jongos, pesuruh, pelayan dan seperti biasa kami melakukan tugas tersebut.

Jika dahulu melayani sambil menggerutu, marah-marah, tapi sekarang hanyalah ucapan syukur. Sodara kami tidak ada yang tahu kalau yang sedang mencuci gelas piringnya adalah seorang anggota polisi elit anti teror, sodara kami tidak tahu yang menyediakan minum dan makanan adalah seorang reserse dan jihandak, sodara kami tidak tahu yang masak didapur 2 orang sarjana. Kami bangga sudah menjadi sarjana, anggota polri dibanding dengan sodara kami yang sekolah tidak jelas dan masih menikmati kemewahan dari orang tuanya.

Menjadi pelayan bukan kehendak dan cita-cita kami, tetapi tugas kami. Kami masih beruntung cuma didapur, dimarahi, dihina, dimaki-maki, dibandingkan dengan Nabi Kami. Nabi kami, adalah seorang hamba, pelayan, yang tak segan membasuh kaki murid-Nya, bahkan rela menjadi korban untuk umatnya dengan meregang nyawa dikayu salib. Diskriminasi bahkan dirasakanNya lebih sadis, di usir, dimaki, dikutuk, bahkan disingkirkan, sampai keluar kalimat “seorang Nabi akan tersingkir ditanah kelahirannya”

Sebuah permenungan disaat kami berlima berkumpul dan mengenang masa lalu…
Mari melayani sesasama… “let it be to me, according to Your words”

Salam

DhaVe
Lereng Telomoyo; 29 November 2009, 11:20

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. @alexamz; amieeen puji syukuur Cak…. suwun…

  2. “bersyukurlah… maka akan Aku tambah nikmatmu”

  3. @elok;iya…ya hehe… piss dah…

  4. kita kan senasib sepenangunggan to mas

  5. @mbam; hehe kupi…kupi…paste..paste…. @elok;weh ada yang senasib yow… yuuups melayani yook hayuuu……….

  6. waaaaaaah sama :)hehehehetapi berhubung udah biasa ya jadinya udah biasa jugangedumelpun rugi heheheso yah layani sebaik mungkin itung itung cari pahala 🙂

  7. Semua ada jamannyaCopy paste ah..hahahaha

  8. @lala; siiip dah.. sumantab…

  9. ayoooo ajaaaaaa 😀

  10. @lala;kuberharap semakin rendah diri dan percaya diri tentunya…makasih dan salam mBak lala… huntiiiing terusss…

  11. semoga tak membuat tinggi hati pada para saudara kotakisah yang hebat beruntunglah:D

  12. @sulis; menurut kehendakmu terjadilah… hehehe mari hayuuuk Om..

  13. Siap sedia melayani tanpa membeda-bedakan 🙂

  14. Pelayan? Jadi inget lagu.. Melayani.. Melayani lebih sungguh…

  15. @addict; yups… mari kita tungkak buat diskriminasi untuk itu mari melayaniii…. yuuuk marii…yuuuk nungkak… hehehe trims Dabs..

  16. @sam; makasihOm.. buat tambahannya… Gbu…@Kohan; kembali kasih Om…untuk menjadi orang besar.. mari menjadi orang kecil dulu, sebab itu permulaannya..@vivi;makasih mBak.. syukur dan bersyukur….@rirhik; kembali kasih mBak… cuma renungan setelah melamun sajah… ingat kata nabi dan lakukan…@alam; wedalah nDuk… siap-siap untuk melayani dikau deh…@centna; terimakasih.. mari melayani… Dia sudah mengajariku….@trexma; terimakasih Om… terimakasih.. mari melayani dan memberi… GBU too… salam kasih..

  17. Selagi tungkak masih bengkak, mari kita merangkak.. Bwehehe..

  18. pelayanan adalah memberi…barangsiapa banyak memberi ia akan banyak menerima…GBU mas!

  19. salut mas..selamat melayani dalam kasih seperti Dia..cool..!

  20. Asiikk… Suk aq dolan mrono ra usah repot2 nyuci piring, kan udah ada pean yg berpengalaman. Cihuuii….

  21. TFS banget Mas…. naisss banget… ^_^*remind me to Our Nabi*

  22. tulisan yang bagusss…..-kapan ya bisa jadi orang besar-

  23. Barang siapa yg mau menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayanan dia antara kamu. Siapa yg mau menjadi yg terdahulu hendaklah ia menjadi yg terkemudian…Ingat kan kata Sang Nabi… ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...