Bencana Alam dan Perspektif Evolusi Kejiwaan ''Merapi Tepati Janji #11''

Bencana alam, tidak lepas dari manusia dan lingkungan. Sebuah interaksi yang terguncang akibat kekuatan alam yang ingin menyesuikan diri dengan sekitarnya. Kekuatan alam memang luar biasa dalam mencapai kestabilannya, tak ayal harus memakan korban mahluk hidup yang disekitarnya. Bencana alam, berarti ada yang meretas untuk sebuah suksesi baru kehidupan, begitu juga manusia. Ada kajian evolusi pasca bencana disaat semua harus ”strugle for life” berjuang untuk hidup.

Pernyataan Herbert Spencer tentang kajian evolusi nampak didalam konteks bencana alam. Sebab evolusi, alam juga yang mengambil peran dalam setiap perubahan. ”Survival of the Fittest”, yang paling bisa menyesuaikan diri, dialah yang mampu bertahan hidup. Mahluk hidup dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada ”bencana alam” dan siapa yang tidak mampu maka bersiap untuk tersingkir. Bukti nyata adalah banyaknya korban jiwa, baik hewan maupun manusia dan kerusakan lingkungan. Semua yang tersusun dari materi hancur luluh lantak disapu ganasnya alam, namun tetap saja ada yang masih bisa bertahan.

Erupsi Gunung Merapi adalah satu fenomena alam yang mampu mengguncang proses evolusi dalam rangka pertahanan diri agar tetap hidup. Konsep evolusi ada dan nyata, sebab siapa yang masih bertahan hidup dialah yang bisa menyesuaikan dengan keadaan. Mengungsi, berlindung atau hanya sekedar waspada adalah salah satu bentuk ”survival of the fittest”, dalam rangka agar tetap hidup. Disaat awan panas turun, maka semua berlari mengungsi dan yang tidak bisa menyesuaikan dengan keadaan dialah yang harus tersingkir.

Kurang etis jika harus membicarakan korban jiwa berkaitan dengan evolusi, sebab akan terjadi singgungan antara kearifan lokal sebagai pengetahuan dengan ilmu pengetahuan ”evolusi”. Melihat situasi yang ada seperti di pengungsian, makan akan nampak kajian dari sebuah evolusi. Mereka yang mengungsi adalah sebagian yang lolos dari seleksi alam, sebab merekan mampu menyesuaikan diri dan bertahan hidup. Konteks menyesuaikan diri bisa diartikan, mengikuti anjuran petugas untuk mengungsi, menaati peringatan dari petugas dan lain sebagainya. Evolusi tidak harus berbicara tentang materi, tetapi juga dengan kejiwaan, seperti; gaya hidup, kebiasaan, dan pola pikir.

Evolusi secara kejiwaan akan semakin nyata terlihat disaat pasca bencana. Mereka yang depresi, stress atau yang mengalami ganguan jiwa sepertinya harus tersingkir dari mereka yang tetap tegar, tenang, pasrah dan legowo ”lapang dada” dalam menghadapi bencana. Bertahan hidup dengan menyesuaikan kejiwaan dengan lingkungan sudah bisa dikategorikan dalam konsep evolusi. Bagaimana dengan mereka yang tersisihkan, apakah akan terjadi kebinasaan?, belum tentu sebab dalam kejiwaan tidak ada kematian, tetapi sebatas gangguan keseimbangan.

Contoh nyata dari proses evolusi adalah disaat para korban yang tinggal dipengungsian akan mengikuti situasi dan kondisi yang ada. Semua ingin hidup, maka mereka berlomba-lomba untuk mencari kehidupan. Disaat ada relawan yang menawarkan makanan, merekan akan mengaku lapar, belum tentu mereka lapar. Disaat ada bantuan selimut, mereka akan berkata kedinginan, padahal kenyataannya selimut hanya digunakan sebagai bantal dan masih terbungkus rapi. Dengan trik-trik tertentu merekan mencoba mengelabuhi ”relawan/petugas” agar mereka bisa mendapatkan lebih. Tentu saja masih ingat hewan dalam berkamuflase ”mimikri”, atau pura-pura mati saat terancam, itu semua bentuk pertahanan diri, begitu juga jika dianalogikan dengan manusia terlepas dari konteks benar-salah ”dosa”.

Evolusi psikis dengan mencoba menata hati dan pikiran dalam menghadapi keadaan, sepertinya adalah puncak dari perubahan saat itu. Tetap tegar, tenang dan berpikir jernih adalah salah satu cara untuk keluar dari setiap masalah. Pada tataran inilah mereka ditantang pada kondisi yang tersulit untuk bertahan hidup. Tidak ada parameter yang jelas, dari seleksi ini, sebab tidak ditemukan siapa yang hidup dan yang mati, yang ada hanyalah siapa yang bisa mengendalikan keadaan. Bencana telah memberikan pelajaran berharga berkaitan dengan evolusi yang berlangsung begitu cepat, bukan yang terkaut yang ”survive”, tetapi mereka yang bisa menyesuaikan diri yang bisa bertahan hidup.

Semoga badai lekas berlalu…

Salam

DhaVe
Kamar Adem, 29 November 2010; 09:00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. xblackstone said: Sedih rasanya nggak bisa pulang ke kampung halaman yg lagi di kena bencana..Btw, berita keluarga besar selamat, jangkauan merapi masih 5 km lagi, membuat tenang..

    kondisi sudah aman dan damai,,, rehabilitasi saatnya

  2. dhave29 said: Contoh nyata dari proses evolusi adalah disaat para korban yang tinggal dipengungsian akan mengikuti situasi dan kondisi yang ada. Semua ingin hidup, maka mereka berlomba-lomba untuk mencari kehidupan. Disaat ada relawan yang menawarkan makanan, merekan akan mengaku lapar, belum tentu mereka lapar. Disaat ada bantuan selimut, mereka akan berkata kedinginan, padahal kenyataannya selimut hanya digunakan sebagai bantal dan masih terbungkus rapi. Dengan trik-trik tertentu merekan mencoba mengelabuhi ”relawan/petugas” agar mereka bisa mendapatkan lebih. Tentu saja masih ingat hewan dalam berkamuflase ”mimikri”, atau pura-pura mati saat terancam, itu semua bentuk pertahanan diri, begitu juga jika dianalogikan dengan manusia terlepas dari konteks benar-salah ”dosa”.

    Sedih rasanya nggak bisa pulang ke kampung halaman yg lagi di kena bencana..Btw, berita keluarga besar selamat, jangkauan merapi masih 5 km lagi, membuat tenang..

  3. dhave29 said: Contoh nyata dari proses evolusi adalah disaat para korban yang tinggal dipengungsian akan mengikuti situasi dan kondisi yang ada. Semua ingin hidup, maka mereka berlomba-lomba untuk mencari kehidupan. Disaat ada relawan yang menawarkan makanan, merekan akan mengaku lapar, belum tentu mereka lapar. Disaat ada bantuan selimut, mereka akan berkata kedinginan, padahal kenyataannya selimut hanya digunakan sebagai bantal dan masih terbungkus rapi. Dengan trik-trik tertentu merekan mencoba mengelabuhi ”relawan/petugas” agar mereka bisa mendapatkan lebih. Tentu saja masih ingat hewan dalam berkamuflase ”mimikri”, atau pura-pura mati saat terancam, itu semua bentuk pertahanan diri, begitu juga jika dianalogikan dengan manusia terlepas dari konteks benar-salah ”dosa”.

    >mBa Lily;wah andai dalam keadaan seperti itu manusia diberi power, maka evolusi akan terguncang. Sebuah harapan terjadi perubahan, tidak akan terjadi, sebab power disini menjadi aktor utama. Diktator yah pasti..dia yang kuat, namun kesimpulan akhir, belum tentu yang ber-power yang survive, tetapi yang fittest can be…. salam

  4. dhave29 said: Contoh nyata dari proses evolusi adalah disaat para korban yang tinggal dipengungsian akan mengikuti situasi dan kondisi yang ada. Semua ingin hidup, maka mereka berlomba-lomba untuk mencari kehidupan. Disaat ada relawan yang menawarkan makanan, merekan akan mengaku lapar, belum tentu mereka lapar. Disaat ada bantuan selimut, mereka akan berkata kedinginan, padahal kenyataannya selimut hanya digunakan sebagai bantal dan masih terbungkus rapi. Dengan trik-trik tertentu merekan mencoba mengelabuhi ”relawan/petugas” agar mereka bisa mendapatkan lebih. Tentu saja masih ingat hewan dalam berkamuflase ”mimikri”, atau pura-pura mati saat terancam, itu semua bentuk pertahanan diri, begitu juga jika dianalogikan dengan manusia terlepas dari konteks benar-salah ”dosa”.

    Daya survival manusia cukup tinggi dan di dalam keadaan yang memaksa manusia/hewan menjadi resilient. Manusia menggunakan akal dan pikiran untuk bertindak yang dalam etika manusia dianggap salah. Dalam keadaan seperti itulah jati diri manusia sebenarnya bisa di lihat dgn jelas. Dan juga kalau manusia di berikan power/authority akan either berubah jadi dictator ato sebaliknya. masuk akal nggak ya 🙂

  5. agnes2008 said: Jiwaku juga sedang ber evolusi…hihi…

    >sist Ave;segeralah berlalu…

  6. agnes2008 said: Jiwaku juga sedang ber evolusi…hihi…

    Badai pasti berlalu 🙂

  7. agnes2008 said: Jiwaku juga sedang ber evolusi…hihi…

    menunggu menjadi manusia seutuhnya hehehe

  8. sulisyk said: wah aku yo gek mengalami evolusi psikis hebat nih hahaha

    semoga lekas mendapat pencerahan…

  9. Jiwaku juga sedang ber evolusi…hihi…

  10. wah aku yo gek mengalami evolusi psikis hebat nih hahaha

  11. >mBa sinung;saya keberapax…hahaaa amin…>Cak Nono;wokeh amiennn

  12. Semoga badai cepat berlalu, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...