Manusia Seharga Rp100.000,00

Sayup-sayup suara terdengar diantara sekian banyak celotehan, sehubungan dengan aktivitas kami sebagai relawan bencana. Tanggapan lempeng atau miring, menjadi bumbu-bumbu batin yang menambah kekuatan jiwa. Jika tanggapan tersebut positif, maka jadilah sebuah berkat dan apabila tanggapan ternyata cemoohan jadilah sumber inspirasi dan filosofi. Ada sebuah pernyataan dari seseorang ”ngurusi diri sendiri saja gak becus kok ngurus orang lain”. Sungguh tamparan telak bagi telinga yang mendengar dan hati yang merasakan.

Ada alkisah begini, seorang teman yang sedang dimabuk asmara dengan seorang gadis. Suatu saat disaat ada acara pesta, sang gadis tersebut dilempar disebuah kolam renang oleh teman-temannya. Tak diduga ternyata gadis tersebut tidak bisa berenang dan meronta dalam air kolam, dan tak dinyana sang pemujanya terjun bebas untuk menjadi pahlawan. Tak disangka lagi, pemuda tersebut juga tidak bisa berenang dan keduanya meronta-ronta dalam air. Akhirnya saya harus terjun juga ke kolam renang buat menolong mereka, namun yang terjadi sebaliknya, bukannya menolong malah diamuk mereka. Mereka meronta-ronta sekuat tenaga terhadap saya yang menolong. Kata pelatih renang saya, kalo ada kejadian tersebut biarkan saja sampe lemes baru ditolong, namun apa ya tega. Akhirnya sampai juga ditepi kolam, dan selamatlah merekan dan sang cowok tadi hanya bilang ”power of love”.

Kekuatan cinta kasih merelakan dirinya untuk berkorban buat orang yang dikasihinya, walaupun akhirnya cilaka juga. Memang saat itu tidak terpikir, bisa berenang atau tidak yang penting nolong dulu. Menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana jika sang cowok tadi hanya bengong melihat ceweknya glagepan dalam air dan hanya berkata ”tolong diaaa.. aku gak bisa berenang”, maka cinta gombalah yang ada. Memang tidak bisa dilogika apa yang dilakukan pemuda tersebut, setidaknya ada usaha untuk menolong walaupun gagal. Dalam hati, mungkin ceweknya agak berkata ”you are gentleman”.

Begitu juga disaat ada bencana, banyak relawan yang berdatangan dengan segenap hati, pikiran, waktu dan tenaga. Apa yang mendorong mereka kesana, ”kasih” jawabnya. Rasa kasihan menyeruak dan memaksa terjun dilokasi bencana. Saya yakin mereka tak seperti cowok yang tidak bisa berenang lalu melompat kekolam, tetapi relawan telah memiliki jam terbang, pengalaman dan perbekalan. Memang mereka tidak becus mengurus diri sendiri, namun dibalik ketidak becusannya mereka masih bisa menolong orang lain. Bagaimana dengan mereka yang mampu mengurusi diri sendiri, namun tidak mau mengurus sesamanya, alangkah mulianya bagi mereka yang mampu mengurusi sesamanya walau harus tenggelam dalam permasalahan.

Apa yang membedakan manusia yang becus mengurusi diri sendiri dengan yang tidak jika dihadapkan dengan mereka yang butuh bantuan. Perspektif kasih menjadi sasaran utamanya, seberapa harga manusia dihadapannya, apakah sama atau tidak maka yang akan dijawab mereka yang becus atau tidak mengurus dirinya sendiri. Berapa nilai manusia dihadapan mereka, saya kira akan berbeda nominalnya?, sehingga timbul kesenjangan kasih diantara mereka dalam perspektifnya.

Andai saya membuang selembar uang seratus ribu dijalan, maka pasti akan diambil orang. Apabila uang seratus ribu saya lipat lalu saya lempar kejalan, maka tetap akan diambil orang. Bahkan jika uang tersebut saya remas-remas, injak-injak lalu saya buang tetap akan diambil orang. Mengapa mereka mengambil uang tersebut?, karena nilainya sama dan tetap 100ribu, bagaimanapun wujudnya. Begitu mata Tuhan melihat manusia, tetapi dibalik nominal seratus ribu, Tuhan juga melihat seberapa besar nilai intrinsik ”hati” manusia.

Mengurus atau membantu orang lain saya kira tidak usah mengungkit masalah pribadi, sebab itu urusan personal masing-masing orang. Kurang etis jika hanya melihat dari sisi nominal tanpa memperhatikan intrinsik, apakah robek, kotor atau masih mulus tanpa ada lipatan. Sangat mudah menilai seseorang, namun begitu susahnya jika harus menjalankan nilai-nilai kehidupan untuk sesama berdasarkan kasih. Mari kasihinilah sesama seperti ketika mengasihi orang yang terkasih.

salam

DhaVe
menjelang natal 23 des 2010, kamar adem

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. tjahjokoe said: nais pilosopi..

    Suwun Mas Cahyooo…

  2. Sist Ave; bisa kah dimunculkan kembali…?mBah Kung;leres sekali mBah Kung… nool..

  3. 100.000 rp = 1 orang. 2 orang = 200. 000 rupiah..ini logik MAtematika…kalau orang gak bisa terimakasih…ya gak ada harganya jadi NUL….bener…

  4. Sisi kemanusiaan telah hilang. Lenyap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...