Harga Mati Garudaku, Makanlah Daging Mangsamu jangan Makan Pagi Dirumah Menteri

Disaat punggawa Garuda berebut bola di negeri Jiran, maka di nusantara pendukung Garuda berebut tiket. Hasilnya sama dan tak jauh beda saat di Malaysia dan Stadion Gelora Bung Karno, sama-sama tidak dapat torehan gol dan tak selembar tiketpun ditangan. Fenomena yang diluar dugaan dan berakhir tragis dengan sebuah kenyataan. Harapan dapat mencetak gol, seperti pada saat penyisihan sirna begitu saja saat dihantam 3 gol tanpa balas. Tidak jauh berbeda dengan saat babak penyisihan, stadion nampak tidak penuh sesuai dengan kapasitas tempat duduknya dan tiket dapat diperoleh dengan mudah. Yang terjadi diluar dugaan, menjelang putaran final ke-2, tiket begitu susah, adapun harus berebut nomer antri jarahan yang berakhir dengan penjarahan.

Dua kejadian tragis di Bukit Jalil dan Gelora Bung Karno, tidak dapat cetak gol dan tidak kebagian tiket. Punggawa Garuda yang digadang-gadang, dari jamuan makan, doa bersama hingga pengajian terkapar dikandang lawan. Begitu juga dengan pendukung setia Garuda yang rela bergadang di Gelora Bungkarno, kemping didepan pintu loket harus terkapar juga karena terinjak-injak sesama pencari tiket. Korban agregat 3-0 dan pemain mungil Okto Maniani akumulasi kartu kuning, sehingga harus absen, berbanding lurus dengan pendukung yang pingsan, cidera dan absen melihat pertandingan langsung karena tidak dapat berebut tiket.

Belajar dari kejadian di Bukit Jalil dan Gelora Bung Karno, agar tidak terulang untuk event selanjutnya. Punggawa Garuda, cukuplah berlatih dilapangan hijau, urusan makan tidak usah pergi jauh-jauh ke rumah pejabat, karena PSSI yakin sudah menyediakan makanan yang tidak kalah layaknya bagi seorang atlet Nasional. Begitu juga, mereka yang memiliki agenda keagamaan, cukuplah berdoa dimasing-masing tempat duduknya tanpa harus ada acara dengan mengundang tim dan official. Kalau dilihat, doa adalah kekuatan terbesar, namun jika hasilnya terkapar dikandang lawan, apakah akan berbicara itu takdir Tuhan, atau tanya pada rumput yang bergoyang?. Raut muka keletihan, tekanan begitu nyata diwajah tim yang sudah dianggap diatas angin dan kenyataannya jatuh bebas terhempas oleh kibasan Macan Himalaya dan Garuda terpuruk tak berdaya.

Pendukung Garuda tak kalah tragisnya, sebab begitu banyak korban berjatuhan, korban kekecewaan dan terjadi amuk masa. Tiket yang biasanya begitu mudahnya, kini laksana Minyak Tanah yang ada namun langka. Berhari-hari antri tiket digerbang loket, hanya dapat rasa kecewa dan tangan hampa. Penjarahan nomer antrian dan kemudian dijarah sesama pendukung Garuda itu yang terjadi. Buah tidak sabaran, terlihat disaat pintu Stadion jebol dan masa masuk dilapangan dan tribun, luapan kekecewaan tumpah ruah disana dengan sulutan korek api dan terjangan pagar beserta fasilitas Stadion. Itu kejadian dari antri tiket yang begitu luar biasa sadisnya, nah apakah bisa dibayangkan disaat Garuda nanti harus kembali menelan pil pahit dari Malaysia, kita tunggu saja apa yang terjadi.

Belajar dari pengalaman, tragedi dan kejadian yang sudah nyata didepan mata, maka PSSI harus sedikit melek dan peka. Alasan sudah bekerja maksimal, atau sudah seperti SOP, namun tidak ada target minimal yang dicanangkan. Berkaca dari negeri sebarang yang optimis menang 3-0 dan masalah tiket yang bisa dikendalikan. Bagaimana dengan target dan kinerja PSSI..?, tidak mungkin semua ditanggungkan ke yang empunya sepak bola Indonesia, namun semua pihak yang terkait. PSSI wajib hukumnya bisa mengatasi pemain dan tiketnya layaknya panitia, aparat keamanan menjaga ketertiban suporter, pengusaha dan pemilik parpol harus bisa memisahakan setiap kepentingan, pemuka agama setidaknya bisa lebih arif dan bijaksana, begitu juga dengan pendukung harus bisa legowo dengan kenyataan.

Kekalahan di Bukit Jalil terkait faktor teknis dan non teknis memang sudah terjadi. Teror dan serang sinar tak jelas yang mengganggu konsentrasi setidaknya menjadi pelajaran serius buat panitia pelaksana, apakah harus sweeping atau balas menyediakan lampu sorot pasar malem, mercusuar atau gas LPG 3kg yang lebih dasyat ledakannya dibanding petasan suporter Malaysia. Pendukung Garuda setidaknya harus berani lebih sportif lagi, dengan menjadi suporter yang santun diluar lapangan, walau dengan teriakan yang beringasan. Punggawa Garuda, harus lebih baik lagi, dengan melupakan kejadian buruk masa lalu, sebab semua asa ada disayapmu yang terus melibas kulit bundar dilapangan hijau. Garuda Didadaku Garuda Kebanggaanku, Kita Harus MENANG…. harga mati Garudaku… INDONESIA….

Salam

DhaVe
Kamar Ademku, 28 Desember 2010

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. >sist Ave; yeah Im believe….>mBa Mifta;kita lihat dan tunggu….>mBa Setia;ayooo… hajar saja pokoknya… sing penting juoosss…>Cak Alex;haha… setuju… setuju….

  2. Turunkan NURDIN HALID… kriminal kok jadi ketua PSSI, MAFIA itu namanya

  3. hheheh yang bener,benar jalannya pasti di mudahkan….menang kalah yang penting tunjukan mainmu bagus timnas Indonesia…..!!

  4. menunggu kabar selanjutnya saja:)

  5. We’ll see the truth winner…

  6. >mBah Kung; yah… mungkin ada kompromi buat kedua tim dan panitia… seharusnya Stop untuk kondisi seperti ini.. dan pssi-nya Malaysia kena hukuman berat untuk prilaku supoternya yang jelas itu teror…. mungkin sesama bangsa timur dan serumpun… hehehe :DFIFA..gimana nieh..?

  7. Semua yang pake LASER, Petasan dll di STADION…disini VERBOTEN, kalau ada mereka selau tertangkap dan dendanya tinggi…sebetulnya di MAlaysia juga, yang aku tak mengerti mengapa WASITnya gak meberhentikan Pertandingan???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...