Malaysia Berpesta di Indonesia, Apakah Sebuah Karma…?

Hasil akhir Indonesia versus Malaysia, harus mengakui tamu layak dapat juara. Kemenangan dengan kalah agregat, sepertinya belum mampu mengantarkan Garuda menjadi nomer satu di Asia Tenggara. Euforia sebelum pertandingan bak lautan merah diseluruh penjuru senayan, seolah menjadi anti klimaks setelah 90 menit dilapangan hijau. Nasionalisme 2x45menit apakah akan terus bertahan, atau luntur seiring kekalahan dari Malaysia. Perjuangan sekian hari untuk berebut tiket, apakah akan menjadi sebuah kepuasan yang harus dihargai dengan melayangnya piala AFF ke Malaysia.

Mungkin diatas sana, Malaikat pusing tujuh keliling sebelum pertandingan ini dimulai. Bagaimana tidak pusing, sebab manusia berdoa untuk kemenangan timnya. Doa-doa dipanjatkan agar musuh bertekuk lutut, begitupula kubu musuh juga berdoa dengan tujuan yang sama. Sumpah serapah bermunculan disaat sebelum pertandingan dengan merendahkan dan menjatuhkan musuh. Dari kata ganyang, libas hingga kata-kata yang tidak layak bertebaran dimana-mana. Apakah gara-gara sepak bola demi gengsi sebuah negara, harus mengeluarkan kata-kata yang kurang seronok, walau disisi lain untaian doa-doa suci dilantunkan. Mungkin andai sedikit santun akan lain ceritanya, jika belajar dari filosofi kuno untuk menghancurkan musuhmu, makan junjunglah tinggi musuhmu.

Kini sumpah serapah menjadi sebuah pelajaran, bagaimana karma itu nyata. Andai santun dalam berucap dan bertindak, mungkin akan lain ceritanya. Keangkuhan, dan kesombongan merasa ada dikandang kini harus terkapar dari setiap ucapan. Apakah setiap tindakan dan ucapan dalam teriakan membahana distadion sudah diimbangi dengan kerja keras?. Yah kerja keras dan lebih mengutamakan otak jauh lebih berarti daripada harus dengan kerusuhan, permusuhan dan kekerasan.

Bolehlah saat ini Malaysia berpesta di Negeri kita, namun janganlah terlarut dalam kekalahan. Ini adalah sebuah tim, bukan hanya mereka yang dielu-elukan namanya setiap saat yang harus kecewa menahan beban moral. Sungguh menyakitkan dibalik setiap kekalahan, terlebih saat menjadi tuan rumah, namun menerima kekalahan dengan jiwa besar adalah sebuah kemenangan tersendiri. Penampilan suporter layak mendapat acungan jempol dengan lebih santun dan begitu hormat terhadap pertandingan. Tidak ada insiden dan begitu tertib layak menjadi contoh untuk kedepannya.

Menata untuk setiap pertandingan dengan menjaga sikap, kerja keras, disiplin, sportif dan tetap santun dalam setiap pertandingan. Selamat buat Malaysia, mereka layak untuk juara. Selamat buat Indonesia dengan penampilan terbaik dan pastikan kedepan kita rebut piala AFF. Untuk suporter terimakasih buat setiap apresiasi selama perhelatan. Selamat dan GARUDA di DADAKU.

Salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. siasetia said: hehehhe Tuhan itu menilai sebuah proses, bukan hasilnya….berproseslah dengan baik dan benar maka dialah juara sebenarnya…

    Proses..yups proses,,,,

  2. lilywagner said: Congrats Malaysia and well done Indonesia!

    selamatbuat semuanya

  3. hehehhe Tuhan itu menilai sebuah proses, bukan hasilnya….berproseslah dengan baik dan benar maka dialah juara sebenarnya…

  4. Congrats Malaysia and well done Indonesia!

  5. >mBa Mifta;menang tanpa mahkota…>bro Kaz;iya sama, saya tetap dukung Garudaaa…>BuPeb;selalu di dada Bu….>sist Ave;kata Kristina ”terlenaaa” dan kata Bung Oma irama ”terlalu”

  6. Kita terlalu cepat bereuforia, itu saja 🙂

  7. Garudaaa di dadakuuu*nasionalisme ini janganlah luntur 🙂

  8. tetap dukung timnas, sekarang & seterusnya

  9. Indonesia bagi saya sudah menang:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...