Buku-buku Beracun

Bagi mereka yang berduit, maka tempat-tempat tertentu dianggap sebagai surganya belanja. Katakanlah Malioboro, Bali, atau mall-mall yang besar-besar menjadi tujuan dari belanja. Belanja yang lebih kerennya ”shoping” selalu identing dengan pakaian, fashion, jarang orang bilang shoping membawa pulang sayuran, atau alat pertukangan. Gaya hidup dan gengsi adalah sasaran empuk bagi pecinta belanja, sehingga dilakukan segala cara untuk menarik pembelinya.

Seminggu lalu, iseng jalan-jalan ke Malioboro dan itu yang sekian kalinya kesana. Tidak tahu mengapa pikiran dan dompet ini selalu konsisten untuk mengatakan ”tidak” untuk belanja. Belum sekalipun belanja di Malioboro, kecuali sebuah toko kain langganan sejak SMA. Lupakan Malioboro, kita pindah ketempat-tempat lain yang katanya surga belanja, tetap saja tak bergeming, hanya mata saja yang nerocos dan jelalatan, namun dompet masih tetap tenang didalam saku. Iming-iming diskon tetap saja tidak mampu menggoyahkan iman yang terlanjur beku.

Berbeda disaat memasuki toko buku langganan, itu yang menjadikan surga belanja dan membuat mendadak miskin. Kebiasaan sejak kecil nangkring di toko buku, hingga sempat diusir satpam yang mencela ”ini toko buku, bukan perpustakaan umum”, karena membaca komik yang sudah tidak terbungkus. Mungkin tidak serta merta langsung membeli buku, setidaknya survey terlebih dahulu, lalu pulang ambil uang baru kembali untuk menebusnya. Apes-apesnya pinjam uang teman untuk menebusnya dan jika masih keterlaluan nafsunya, maka gesek kartu hutang apa boleh buat.

Buku-buku telah meracuni ibarat mereka yang shoping pakaian di mall. Tidak peduli dengan harga, namun yang penting dapat sebuah primbon. Tidak ada yang istimewa dari sebuah buku, sebab tidak ada yang bisa dibanggakan, dipamerkan, atau meningkatkan gengsi seseorang. Pernah suatu saat main dirumah seorang yang mengabiskan 30 tahun dibangku sekolah, dan dirumahnya bikin ngiler untuk kemping disana. Ada 4 rak buku besar dengan buku-buku yang bermutu dan menggelitik mata ini untuk membelai halaman demi halaman. Hampir seharian saja untuk membaca judul atau hanya sekedar menimang-nimang halaman acaknya. Hebatnya lagi, iseng ngetes yang empunya buku ”mana buku Charles Darwin” dengan mata melirik langsung menunjuk jajaran buku diujung rak. Kecekatan mata dan pikiran menandakan seringnya bercengkrama dengan buku, sebab bisa menjelaskan dengan detail buku-bukunya.

Buku telah membuat terlena dan mampu menyisihkan kebutuhan lain, namun sisi lain yang kurang senang dengan tulisan menganggap buku sebagai momok. Bayangkan saja, sebuah novel kadang bisa membuat orang menangis atau tertawa, namun ada juga yang dijadikan ganjal pintu, sebab tulisannya kecil dan tidak ada gambarnya. Setiap orang berbeda dalam mengapresiasi buku, tetapi buku juga tidak bergeming. Buku, jendela ilmu, guru yang sabar atau sekedar ganjal meja, itu tergantung bagaimana memperlakukannya.

salam

DhaVe
KK030511,07.30

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: golek alesan ben iso moco

    haha,,,,ngunu ya?

  2. dhave29 said: ealah..apa iku?

    golek alesan ben iso moco

  3. liburanseru said: sepakat lagi.

    sepakat jua…. :Dtos dulu..ploooks

  4. rembulanku said: wayahe boker wayahe moco buku hehehehe

    ealah..apa iku?

  5. dieend18 said: Toss.. Aku paling ga tahan godaan kalo ke toko buku… Pengen bgt bs punya perpustakaan pribadi dirumah..

    ploooks….sepakat jua

  6. smallnote said: Perlu nih diposting di Goodreads

    masak sih SIst

  7. siasetia said: hhehe saya suka nebeng beli pas ada pengadaan biar dapat diskon gede mas :))))

    wah gud idea…besok nebeng ah…kantor kelurahan

  8. siasetia said: mana buku atau komik apa seh mas?…sini biar perpus kami yang beli mas dhave tinggal pinjam aja ye…tp jangan lupa kembali! :p

    hehehe…mau..mau…..

  9. learningaza said: Duh. jadi ingat zaman muda dulu(maklum sekarang sudah mau tuir!). Sering nongkrong di Gramedia Pasar Baru. Beli kagak.. bacca iya.. ha..haTapi buku adalah sumber pengetahuan yang murah meriah banget…apalagi sekarang ada kindle, ebook dsb…Hm.. ada beberapa toko buku di Sydney yang gulung tikar karena ebook :DSelamat membaca yach

    ternyata sama..yuk baca

  10. poniyemsaja said: ke toko buku, bikin ati adem, tapi bikin dompet keringet adem.. Ibarat pepatah.. Makan ga makan asal ngumpulin buku.. Hmmm..

    nah bener kan…. sama donk

  11. sukmakutersenyum said: aku juga gak terlalu nafsu beli baju dlltapi begitu ke toko buku, banyak “pencopet”pulang2 gak bawa duit hahahaha

    hahaha…. iya..ya…

  12. aankeris said: like this,,, :-bd

    oke Sob…

  13. m4s0k3 said: Mantap!

    makasih Om

  14. henidebudi said: Yah begitulah buku tak pernah protes meskipun ketika tak mampu beli rak dia rela masuk kedalam kardusnya yg sementaun 🙂

    jadi ketauan dah…

  15. siasetia said: ay ay 1 *komennya nanti mas

    monggo..mba….mana jerikenya buat pertamax…

  16. dhave29 said: diusir satpam yang mencela ”ini toko buku, bukan perpustakaan umum”, karena membaca komik yang sudah tidak terbungkus.

    sepakat lagi.

  17. dhave29 said: diusir satpam yang mencela ”ini toko buku, bukan perpustakaan umum”, karena membaca komik yang sudah tidak terbungkus.

    wayahe boker wayahe moco buku hehehehe

  18. dhave29 said: diusir satpam yang mencela ”ini toko buku, bukan perpustakaan umum”, karena membaca komik yang sudah tidak terbungkus.

    Toss.. Aku paling ga tahan godaan kalo ke toko buku… Pengen bgt bs punya perpustakaan pribadi dirumah..

  19. dhave29 said: diusir satpam yang mencela ”ini toko buku, bukan perpustakaan umum”, karena membaca komik yang sudah tidak terbungkus.

    Perlu nih diposting di Goodreads

  20. dhave29 said: diusir satpam yang mencela ”ini toko buku, bukan perpustakaan umum”, karena membaca komik yang sudah tidak terbungkus.

    hhehe saya suka nebeng beli pas ada pengadaan biar dapat diskon gede mas :))))

  21. dhave29 said: diusir satpam yang mencela ”ini toko buku, bukan perpustakaan umum”, karena membaca komik yang sudah tidak terbungkus.

    mana buku atau komik apa seh mas?…sini biar perpus kami yang beli mas dhave tinggal pinjam aja ye…tp jangan lupa kembali! :p

  22. Duh. jadi ingat zaman muda dulu(maklum sekarang sudah mau tuir!). Sering nongkrong di Gramedia Pasar Baru. Beli kagak.. bacca iya.. ha..haTapi buku adalah sumber pengetahuan yang murah meriah banget…apalagi sekarang ada kindle, ebook dsb…Hm.. ada beberapa toko buku di Sydney yang gulung tikar karena ebook :DSelamat membaca yach

  23. ke toko buku, bikin ati adem, tapi bikin dompet keringet adem.. Ibarat pepatah.. Makan ga makan asal ngumpulin buku.. Hmmm..

  24. aku juga gak terlalu nafsu beli baju dlltapi begitu ke toko buku, banyak “pencopet”pulang2 gak bawa duit hahahaha

  25. Yah begitulah buku tak pernah protes meskipun ketika tak mampu beli rak dia rela masuk kedalam kardusnya yg sementaun 🙂

  26. ay ay 1 *komennya nanti mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...