Berawal dari Angkasa, Cinta itu Mendarat

Masih ingat lagu lama yang dinyanyikan Farid Hardja, yang berjudul Bercinta di Udara dan penggalan sairnya seperti ini;
” berkenalan nama samaran lewat gelombang radio
lima sembilan tuju tiga angka untuk kamu…
memang cinta asyik dimana saja walau diangkasa ”
Berawal dari perkembangan teknologi komunikasi tahun 70 hingga 90an akhir yang mengandalkan gelombang radio sebagai komunikasi 2 arah yang digemari muda-mudi saat itu. Dengan nama samaran yang terus memancar diudara, hingga kalau sudah kecantol lalu kopi darat, alias ketemuan. Cinta dari udara turun ke darat, demikianlah yang terjadi 20-30 tahun yang lalu, sungguh metamorfosa komunikasi yang luar biasa jika dirunut dari masa kini.

Saya teringat tahun 70an, saat itu iseng ikut-ikutan masang pesawat interkom. Layaknya pesawat telpon, kita harus memasang jaringan kabel yang menjuntai-juntai dari rumah ke rumah. Pemandangan saat itu hanya kabel-kabel dan kabel yang bersliweran antar pohon. Tiap petang hingga larut malam, tak henti-hentinya ”ngebrik” sampai mulut berbusa. Mungkin saat itu, kita mendapatkan teknologi paling canggih untuk berkomunikasi. Namun efek samping dari aktivitas kami adalah mengganggu frekwensi televisi yang saat itu di rajai TVRI. Keluhan tetangga tentang gambar televisi yang bergelombang, berisik, hingga acapkali suara kami ikut siaran di televisi. Teknologi interkom berakhir disaat tetangga yang gerah akibat ulah kami lapor ke Koramil. Dengan accu mobil 12volt, pak Tentara menghajar kabel-kabel kami dan alhasil semua pesawat dalam jaringa meleduk. Usai sudah petualangan kami dikabel saat itu.

Belum kapok dengan mainan alat komunikasi buatan tangan sendiri, akhirnya kami berpindah dengan pemancar FM. Dengan memakai frekwensi radio FM secara ilegal, kami mendirikan pemancar, dan tiap malam siaran dan muter musik-musik dari tape recorder. Mengudara dengan bebas dan didengarkan banyak orang. Namun semua juga harus berakhir disaat pemilik radio komersial lapor kepada aparat, karena frekwensinya terganggu ulah kami. Alhasil semua peralatan diangkut semua dan untung tidak masuk penjara. Sebuah pencerahan muncul saat diajak masuk RAPI ”Radio Antar Penduduk Indonesia”. Dari organisasi pengguna gelombang radio tersebut, kami diarahkan menggunakan frekwensi yang legal, aman dan tidak mengganggu. Sejak itu, layaknya Farid Hardja, tiap malam mojok dan ngobrol sampai berbusa, sebab bebas pulsa dan roaming, asal ada setrum saja.

Malam ini, setelah sekian lama radio HT itu ndongkrok, karena tuannya jarang menyentuh, coba untuk kembali dihidupkan. Terakhir kali pesawat HT menyala saat Gunung Merapi erupsi untuk membantu komunikasi. Iseng saja memindai frekwensi yang sedang on air, dan setelah sekian lama akhirnya dapat juga. Obrolan yang medok dan hangat di udara, seolah mengingatkan masa lalu saat menjamurnya alat komunikasi yang murah meriah, namun hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki. Berpindah dari angka-angka frekwensi, dan nguping pembicaraan mereka, membuat trenyuh juga. Kesimpulan sementara, mereka yang mengudara ya mereka yang dulu berkutat dengan HT. Dilihat dari gaya bicara, intonasi, nada menandakan banyak mereka yang sudah tua. Tidal satupun suara ABG yang masih cempreng suaranya, atau anak muda dengan suara yang masih jernih. Diudara isinya hanya embah, simbok, kakek, paling mentok kepala 40an. AKhirnya petualangan diudara dilanjutkan dengan piranti lain yang lebih canggih.

Baru sadar sekarang, ternyata anak muda sedang ngumpul disini, sebuah jejaring sosial dunia maya. Tidak jauh berbeda dengan mereka yang berkenalan lewat nama samaran, lalu janjian dan ketemuan. Modus operandi bercinta ternyata sama saja, namun kali ini dengan piranti yang lebih canggih, tanpa kawatir ada yang curi dengar. Tidak ada koramil yang akan nyetrum dengan accu 12 volt atau piranti yang disita petugas. Tidak perlu kabel yang menjuntai atau pemancar diatas pohon beringin, tetapi cukup dengan gelombang wifi, modem atau memanfaatkan ponsel. Bersyukur bisa merasakan metamorfosa teknologi, sehingga ada kenangan indah tentang bercinta di udara. Memang cinta asyik dimana saja, walau di angkasa.

Salam

DhaVe
kk, 110511, 07.45

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: tunggu ajatak lama lagi akan ada teknologi baru, jadi jejaring dunia maya akan jadi kenangan yang indah pulah hahahhaha, apa itu?*mari mengkhayal ala film timetrax tahun 90an*

    back to future….

  2. dhave29 said: Bersyukur bisa merasakan metamorfosa teknologi, sehingga ada kenangan indah tentang bercinta di udara. Memang cinta asyik dimana saja, walau di angkasa.

    tunggu ajatak lama lagi akan ada teknologi baru, jadi jejaring dunia maya akan jadi kenangan yang indah pulah hahahhaha, apa itu?*mari mengkhayal ala film timetrax tahun 90an*

  3. pennygata said: dulu pernah nyoba ngebrik , punya kakak sepupu, mgkn karena aku belum ada komunitasnya jdnya gak berlanjut hehehe

    ayooo dilanjut….143.300 saya tunggu….hahaha

  4. rirhikyu said: hehehehe.. serasa back to masa lalunamun skrg cinta itu bisa didapat di jejaring sosial ^^

    nah loh….betul mba,,,dimana aja ikitun jaman ntuh cinta

  5. smallnote said: Cinta tak tahu tempat, kalau begitu. ;p

    iya…dankadang buta,,,tapi tetap bersuara hahaha

  6. mlatiku said: ngebrik kala itu emang asyik…

    sampe berbusa….hahaha

  7. ohtrie said: judulnya cinta angkasa mass…. 🙂

    weh matur suwun koreksinya….ya kesupen Om….

  8. siasetia said: online di kantor hemat dan tambah semangat kerja hahahhahaha :ppagi mas dhave met kerja

    aji mumpung..saya juga..met pagee jua mBa,,,,

  9. siasetia said: hahhaha sempat euy main interkom…id nya apa ya? oh ya camar ….ampe tv tv keganggu

    wah ternyata sama aja….di setrum ngga?

  10. poniyemsaja said: “papa alpha charlie alpha romeo….” itulah hebatnya cinta, bisa datang melalui media apapuun…

    betoool mba ndah..mari mengudara

  11. dhave29 said: Tidak perlu kabel yang menjuntai atau pemancar diatas pohon beringin, tetapi cukup dengan gelombang wifi, modem atau memanfaatkan ponsel. Bersyukur bisa merasakan metamorfosa teknologi, sehingga ada kenangan indah tentang bercinta di udara. Memang cinta asyik dimana saja, walau di angkasa.

    dulu pernah nyoba ngebrik , punya kakak sepupu, mgkn karena aku belum ada komunitasnya jdnya gak berlanjut hehehe

  12. dhave29 said: Tidak perlu kabel yang menjuntai atau pemancar diatas pohon beringin, tetapi cukup dengan gelombang wifi, modem atau memanfaatkan ponsel. Bersyukur bisa merasakan metamorfosa teknologi, sehingga ada kenangan indah tentang bercinta di udara. Memang cinta asyik dimana saja, walau di angkasa.

    hehehehe.. serasa back to masa lalunamun skrg cinta itu bisa didapat di jejaring sosial ^^

  13. dhave29 said: Tidak perlu kabel yang menjuntai atau pemancar diatas pohon beringin, tetapi cukup dengan gelombang wifi, modem atau memanfaatkan ponsel. Bersyukur bisa merasakan metamorfosa teknologi, sehingga ada kenangan indah tentang bercinta di udara. Memang cinta asyik dimana saja, walau di angkasa.

    Cinta tak tahu tempat, kalau begitu. ;p

  14. dhave29 said: Tidak perlu kabel yang menjuntai atau pemancar diatas pohon beringin, tetapi cukup dengan gelombang wifi, modem atau memanfaatkan ponsel. Bersyukur bisa merasakan metamorfosa teknologi, sehingga ada kenangan indah tentang bercinta di udara. Memang cinta asyik dimana saja, walau di angkasa.

    ngebrik kala itu emang asyik…

  15. dhave29 said: Tidak perlu kabel yang menjuntai atau pemancar diatas pohon beringin, tetapi cukup dengan gelombang wifi, modem atau memanfaatkan ponsel. Bersyukur bisa merasakan metamorfosa teknologi, sehingga ada kenangan indah tentang bercinta di udara. Memang cinta asyik dimana saja, walau di angkasa.

    judulnya cinta angkasa mass…. 🙂

  16. online di kantor hemat dan tambah semangat kerja hahahhahaha :ppagi mas dhave met kerja

  17. hahhaha sempat euy main interkom…id nya apa ya? oh ya camar ….ampe tv tv keganggu

  18. “papa alpha charlie alpha romeo….” itulah hebatnya cinta, bisa datang melalui media apapuun…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...