Ingin Gorok Lehernya Panitia Konser Musik


Kemarin dapat pesan singkat dari teman yang isinya ngajak nonton konser musik. Mungkin agak sadis karena baru saja saya balas sms tersebut, dengan jawaban “tidak mau”. Sepertinya teman jengkel dan marah dengan sikap saya yang acuh tak acuh dengan ajakannya untuk nonton konser. Bahkan agar saya ikut, sudah di iming-imingin “bisa motret kok” dan tetap saja saya jawab “tidak mau”. Pesan singkat terakhir berisi tulisan “sombong amat sekarang” dan saya balas “ya hanya kesombongan yang bisa saya berikan, lha itu yang aku punya jew”.

Mungkin tidak akan mengetik kata-kata yang pedes kepada teman jika kejadian dibawah ini tiidak terjadi. Berawal beberapa bulan yang lalu disaat teman mengajak menonton acara yang serupa, kebetulan teman jadi salah satu panitianya. Saya ada syarat jika mau ikut “boleh motret gak” dan di iyakan dan silahkan motret sepuasnya. Benar saja saat memasuki ruangan konser, beberapa fotografer sudah mengambil posisinya masing-masing yang strategis. Akhirnya tergusur juga dan mencari tempat lain dan terpaksa naik ke balkon atas. Ternyata dari atas posisinya lebih strategis dan pandangan luas, walau dari kejauhan.

Akhirnya konser dimulai, dengan tata panggung dan lampu yang menarik, maka mulailah mengeluarkan kamera andalan. Baru 1 sekali jepret datang sesosok perempuan dengan muka masam dan handy talkie ditangan. “mas dilarang motret”, katanya dengan menunjukan ID card bertuliskan “panitia”. Akhirnya saya urungkan motret dan kamera masuk dalam tas, tetapi disisi lain masih ada yang asyik jeprat-jepret bahkan dengan lampu flash. Suasana kembali kondusif dan kembali saya keluarkan kamera ala “sniper” saja, candid tanpa pre flash. Mungkin sedang hari apes, kembali disamperi panitia dan kali ini dibentak “tidak boleh motret”.

Tidak jantan jika mbentak perempuan, dengan pelan tangan ini menunjuk beberapa kamera yang nongol dari sela-sela penonton. “ntuh ingetin mereka, saya masuk di ruangan ini sebelum acara dimulai, dan tidak ada informasi dilarang motret, saya juga bukan orang yang tolol motret dengan flash yang bisa mengganggu, saya taati aturan, tapi kenapa yang lain dibiarkan”. Dengan dongkol, sobekan karcis saya kasih ke panitia sebagai kenang-kenangan lalu angkat kaki dan pergi.

Disebuah warung emperan, melampiaskan kekesalan dengan pesan makanan dan minuman saja. Saya mungkin tidak akan bisa menikmati suara merdu penyanyi dan harmoni musik, karena tidak berbakat untuk menikmati. Hanya kamera dan motret yang bisa saya nikmati, dan tidak menyesal sepertinya keluar sebelum acara selesai. Tak lama berselang, teman yang jadi panitia menghubungi dan menanyakan keberadaan saya. Disela-sela telpon, langsung keluar makian khas oranng gunung untuk melampiaskan kekesalan. KOnser selesai dan teman datang nyamperi dan memberikan penjelasan kenapa dilarang motret. Akhirnya dengan lapang dada saya bisa menerima alasan kenapa dilarang motret, dan hanya komentar “besok sampai saya lihat foto-foto konser tadi FB, tak gorok lehermu”.

Salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. askwhy said: sabar, mas…:)memang suka bingung juga ya masalah motret memotret di acara atau konser, biasanya konser yang tertutup dan harus bayar pasti di larang motret, hal itu berhubungan dengan kontrak pihak panitia dengan managemen artisnya…yaitu tidak ada publikasi tanpa sepengetahuan pihak managemen artis, biasanya itupun kalau artisnya yang kondang…..memag harus di maklumi, panitia bisa di tuntut kalau melanggar hal tsb.Ada juga yang artisnya boleh2 aja di foto, tapi di semua acara memang tukang foto manapun agak susah di atur, apalagi kalo udah pake kartu pers di dadanya, kadang panitia pun di ancam2 sama tupot yang juga wartawan…perlu pengertian kedua belah pihak.Aku selalu motret sebelum acara, dan kalau udah acara mulai dan memang ndak boleh motret biasanya aku minta ijin khusus ke panitia (kalo kebetulan kenal), kalo nggak bisa ya harus nahan diri deh.mungkin perlu mas Dhave tau juga kenapa tupot nggak terlalu di sukai di acara2 baik acara biasa atau konser khusus, tsebabnya cuma karena rata2 tukang poto itu nggak mau tau kebutuhan penonton yang nggak suka kalo sedang nonton di tutupi oleh aksi motret tupot yang selalu maunya paling depan dan nggak peduli bahwa di belakangnya ada penonton yang kadang bayar lebih untuk bisa dapet posisi di depan.Ada pengalaman bagus waktu aku jadi panitia acara launching bukunya pak gubernur, karena konsep acaranya yang memang fokus di panggung utama dengan tata cahaya yang di buat menonjol, pihak ketua panitia yang kebetulan hobby foto2 juga membuat keputusan supaya para tupot dibuatkan tribun khusus, supaya mereka tidak mengganggu kenyamanan para undangan saat menyaksikan peluncuran buku, khususnya pada saat2 puncak acara, tapi meski begitu tetap aja para tupot yang dateng itu susah sekali di atur, dan aku kebagian tugas mengarahkan mereka ke tribun yang di sediakan…..capek, karena aku harus mengawasi setiap tamu yang masuk, begitu terlihat bawa kamera, langsung aku tegur dan arahkan ke tribun, kadang kelolosan, tupot2nya dari kantor2 pemerintah juga susah di arahkan, padahal mereka itu motretnya pake tele yang segede bayonet, tapi tetap juga maksa mau motret dari depan panggung….untungnya para tupot itu nggak punya rundown acara sehingga mereka nggak tau kapan waktunya puncak acara, dan kami panitia sepakat bahwa itu tetap di rahasiakan , sampai setelah selesai acara puncak baru panitia melonggarkan para tupot untuk motret jarak dekat….hehehe, disitulah langsung kelihatan brutalnya para tupot yang mengeroyok panggung utama sampai loncat2 kursi segala..betul2 nggak beretika..tapi untungnya saat itu semua tamu dan undangan sudah tau bahwa acara 5 menit lagi selesai….cuma bisa geleng2 kepala lihat ulahnya para tupot itu…

    terimakasih banyak Om buat berbagi pengalamannya. Kirannya bisa menambah pengetahuan kita bagaimana harus berprilaku, agar semuanya aman dan nyaman,matursuwun…

  2. smallnote said: Untung saya hanya nonton konser si Youtube saja sudah puas :-))

    hahaha…. sepakat….sepakat….

  3. rembulanku said: uncali munthu panitiane

    setujuh…konco dewe je

  4. sulisyk said: hajaaaaaaaaaarrr!!!!!!

    tungkak…..

  5. rirhikyu said: beuh.. ikutan kesel masssss

    Untung saya hanya nonton konser si Youtube saja sudah puas :-))

  6. rirhikyu said: beuh.. ikutan kesel masssss

    uncali munthu panitiane

  7. rirhikyu said: beuh.. ikutan kesel masssss

    hajaaaaaaaaaarrr!!!!!!

  8. rirhikyu said: beuh.. ikutan kesel masssss

    terimakasih sudah berbagi…yah butuh jiwa besar dan pengertian dalam menyikapi aturan main.Sekali lagi terimakasih banyak Om buat pencerahannya,salam

  9. rirhikyu said: beuh.. ikutan kesel masssss

    heheh ada temene….

  10. bambangpriantono said: Pisuhiiiiiii..

    cokot hehehe 😀

  11. siasetia said: wihhhhh keluar sadisnya wong gunung dan ahli kimia…seremmmmmmmm ah :p

    sabar, mas…:)memang suka bingung juga ya masalah motret memotret di acara atau konser, biasanya konser yang tertutup dan harus bayar pasti di larang motret, hal itu berhubungan dengan kontrak pihak panitia dengan managemen artisnya…yaitu tidak ada publikasi tanpa sepengetahuan pihak managemen artis, biasanya itupun kalau artisnya yang kondang…..memag harus di maklumi, panitia bisa di tuntut kalau melanggar hal tsb.Ada juga yang artisnya boleh2 aja di foto, tapi di semua acara memang tukang foto manapun agak susah di atur, apalagi kalo udah pake kartu pers di dadanya, kadang panitia pun di ancam2 sama tupot yang juga wartawan…perlu pengertian kedua belah pihak.Aku selalu motret sebelum acara, dan kalau udah acara mulai dan memang ndak boleh motret biasanya aku minta ijin khusus ke panitia (kalo kebetulan kenal), kalo nggak bisa ya harus nahan diri deh.mungkin perlu mas Dhave tau juga kenapa tupot nggak terlalu di sukai di acara2 baik acara biasa atau konser khusus, tsebabnya cuma karena rata2 tukang poto itu nggak mau tau kebutuhan penonton yang nggak suka kalo sedang nonton di tutupi oleh aksi motret tupot yang selalu maunya paling depan dan nggak peduli bahwa di belakangnya ada penonton yang kadang bayar lebih untuk bisa dapet posisi di depan.Ada pengalaman bagus waktu aku jadi panitia acara launching bukunya pak gubernur, karena konsep acaranya yang memang fokus di panggung utama dengan tata cahaya yang di buat menonjol, pihak ketua panitia yang kebetulan hobby foto2 juga membuat keputusan supaya para tupot dibuatkan tribun khusus, supaya mereka tidak mengganggu kenyamanan para undangan saat menyaksikan peluncuran buku, khususnya pada saat2 puncak acara, tapi meski begitu tetap aja para tupot yang dateng itu susah sekali di atur, dan aku kebagian tugas mengarahkan mereka ke tribun yang di sediakan…..capek, karena aku harus mengawasi setiap tamu yang masuk, begitu terlihat bawa kamera, langsung aku tegur dan arahkan ke tribun, kadang kelolosan, tupot2nya dari kantor2 pemerintah juga susah di arahkan, padahal mereka itu motretnya pake tele yang segede bayonet, tapi tetap juga maksa mau motret dari depan panggung….untungnya para tupot itu nggak punya rundown acara sehingga mereka nggak tau kapan waktunya puncak acara, dan kami panitia sepakat bahwa itu tetap di rahasiakan , sampai setelah selesai acara puncak baru panitia melonggarkan para tupot untuk motret jarak dekat….hehehe, disitulah langsung kelihatan brutalnya para tupot yang mengeroyok panggung utama sampai loncat2 kursi segala..betul2 nggak beretika..tapi untungnya saat itu semua tamu dan undangan sudah tau bahwa acara 5 menit lagi selesai….cuma bisa geleng2 kepala lihat ulahnya para tupot itu…

  12. siasetia said: wihhhhh keluar sadisnya wong gunung dan ahli kimia…seremmmmmmmm ah :p

    beuh.. ikutan kesel masssss

  13. siasetia said: wihhhhh keluar sadisnya wong gunung dan ahli kimia…seremmmmmmmm ah :p

    Pisuhiiiiiii..

  14. siasetia said: wihhhhh keluar sadisnya wong gunung dan ahli kimia…seremmmmmmmm ah :p

    hahaha…. nie tak kasih toren hahahaha

  15. anazkia said: haduh, mending gorok genjer aja, Mas…

    trus ditumis yah…maknyusss…kui

  16. bambangpriantono said: Paling acarane yo ora istimewa

    bagi saya….bagi yang lain berjubel jew….

  17. bambangpriantono said: Mampusiiiiinn

    sobek-sobek

  18. pennygata said: hihihih masih gondok ya rupanyah :D:D

    belum sembuh Bu….

  19. wihhhhh keluar sadisnya wong gunung dan ahli kimia…seremmmmmmmm ah :p

  20. haduh, mending gorok genjer aja, Mas…

  21. Paling acarane yo ora istimewa

  22. hihihih masih gondok ya rupanyah :D:D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...