Pusakaku Dipakai Tukang Kebun untuk Babat-babat

Mengapa para pahlawan rela mempertaruhkan jiwa raga, demi sejengkal tanah air, sebuah makan cinta tanah air yang dimaknai sebagai rasa memiliki ”sense of belonging”. Mengapa anak kecil menangis saat ditinggal ibunya pergi, atau saya yang meneteskan air mata saat diputus pacar, karena rasa memiliki. Mungkin orang sangat sulit membedakan rasa memiliki dengan posesif. Posesif lebih cenderung protektif, cemburu buta, tidak pakai logika dan menjurus pada penyakit kejiwaan. Jika para pahlawan memiliki sifat posesif terhadap tanah air, sudah yakin sampai saat ini belum merdeka, karena cemburu buta pada penjajah.

Jika ditanya apa barang berharga saya?, bisa juga saya menjawab, sepeda gunung, kamera, peralatan pendakian, buku-buku, hingga pakaian jadul. Jika ditanya lagi, kenapa timbul rasa memiliki, barulah akan tersedak menjawab karena harus mengingat masa-masa yang menyakitkan dan menyedihkan. Saya bukan orang mampu yang setiap saat bisa beli ini, itu karena uang ada. Kondisi yang real adalah, keinginan dan barang ada, tetapi tidak ada uang. Andaikata ada uang, bisa juga barang tidak ada.

Mungkin anda akan sangat jengkel dengan cara saya mencari barang yang saya incar. Butuh waktu lama untuk memikirkan, menimbang-nimbang hingga akhirnya memutuskan untuk membeli. Jika sudah mengincar salah satu jenis barang, katakanlah sepatu, maka kemanapun akan terus dikejar. Bayangkan, hanya untuk sepatu gunung yang tersedia disetiap toko, counter, gerai alat pendakian ada, tetapi saya rela jauh-jauh dari Salatiga ke Lenteng Agung untuk berburu. Mungkin ini sudah penyakit saraf nomer 69.

Ngobrol masalah cari barang memang tidak mudah, harus survey kesana kemari, tidak hanya masalah harga, tetapi kwalitas dan hasrat. Saya beli kamera DSLR butuh waktu lebih setahun, untuk cari barang yang tepat, serta duit, dan hampir setiap hari selalu melototi internet untuk tanya jawab. Begitu juga dengan beli sepeda, jacket, laptop hingga peralatan masak, butuh waktu lama untuk menimbang-nimbang hingga memutuskan. Sebuah sensasi PUAS begitu barang sudah ditangan dan nyatakan lunas, sebab setelah melewati proses yang panjang.

Kata PUAS seimbang dengan proses saat punya hasrat hingga eksekusi dengan penjual. Nah kata PUAS juga yang membuat barang-barang yang saya miliki terlihat anti, unik dan beda dengan barang yang dipasaran. Saya tidak mencari barang bermerk, atau mahal, tetapi sesuai dengan kebutuhan, nilai pakai, kemampuan dan tentu saja kwalitas. Saking-sakingnya ”sense of belonging” saya membuat ruangan dan lemari kusus buat barang-barang berlabel ”PUAS”, agar kondisinya selalu baik dan siap pakai.

Saya juga bukan tipe orang pelit dan mudah begitu saja meminjamkan barang. Kepercayaan dan kemampuan menjaga serta memakai barang itu yang utama, bahkan tak jarang saya dengan mudahnya melepas dengan mengasih cuma-cuma. Penyakin gila muncul saat rasa sense of belonging tersebut diciderai oleh kepercayaan yang disia-siakan atau memperlakukan benda berlabel PUAS dengan tidak sebagaimana mestinya. Untuk mereka yang membuat saya posesif pada si PUAS, maka cukup pertama dan terakhir barang tersebut dipinjamkan.

Pagi ini, saya coba rapikan alat-alat berlabel PUAS agar selalu terjaga kondisinya. Sepatu yang menemani setiap kali menendang bola, saya jemur, berdampingan dengan sarung tangan goretex yang selalu setiap menemani dipuncak-puncak gunung saat summit attact. Begitu juga dengan peralatan lain, saya servis semua agar berfungsi sebagaimana mestinya. Disaat hendak mengembalikan dalam ruangannya, sepatu dan kaus tangan raib entah kemana. Cari sana-sini tak ketemu juga, dan dikejauhan nampak benda bergaris hijau stabilo membentuk huruf Y tidur dan si kembar berwarna oranye berada disemak-semak. Dada seolah sesak dan air mata hendak tumpah, sepatu kesayanganku dan kaus tangan kebanggaanku dipakai tukang kebun buat bersih-bersih. Sepatuku sayang kaus tanganku malang, tak sesadis itu aku memperlakukanmu, tetapi tukang kebun telah menyiksamu. Tak ada rasa marah, hanya diam sambil menunggu semua selesai lalu cuci kembali dan jemur lalu simpan. Pengin tak babat juga ntuh tukang kebun.

Sedemikian kuat rasa memiliki, seolah mengistimewakan barang bak pusaka. Namun, itulah hakekat rasa memiliki, bagaimana menghargai apa yang kita miliki. Bukan masalah berapa mahal, tetapi coba lihat berapa jasa benda itu kepada kita, dan bagaimana proses mendapatkannya. Sense of belonging bukanlah posesif, tetapi bagaimana kita menjaga dan mengapresiasi apa yang menurut kita berharga.

Salam

DhaVe
Ka, 25062011,11.30

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. widsumowijoyo said: Samurai bilang:”Kalau kamu kehilangan pedangmu berarti kamu kehilangan nyawamu”Aku bilang:”Perlengkapan naik gunung itu seperti pedang samurai, kondisinya dan fungsinya harus dijaga supaya membuat kita lebih aman di gunung”**good writing**

    nahapaku bilang….karena orang Jawa…Pusaka aja deh

  2. widsumowijoyo said: jujur bgt..:D

    hehe iya om…

  3. dhave29 said: atau saya yang meneteskan air mata saat diputus pacar, karena rasa memiliki

    Samurai bilang:”Kalau kamu kehilangan pedangmu berarti kamu kehilangan nyawamu”Aku bilang:”Perlengkapan naik gunung itu seperti pedang samurai, kondisinya dan fungsinya harus dijaga supaya membuat kita lebih aman di gunung”**good writing**

  4. dhave29 said: atau saya yang meneteskan air mata saat diputus pacar, karena rasa memiliki

    jujur bgt..:D

  5. sulisyk said: ini ni cara saya kalau dah ngincer barang yang diinginkan tiap hari mantengin inet nyari2 referensi, review, bandingin harga sana sini, keunggulannya apa, kelemahannya apa, sambil nunggu duit terkumpul, dan saat kebeli berasa klimax aja :)))

    rasanya,,puas getu ya Om

  6. sulisyk said: gue banget kata nak gaul masa kini hehehe

    haha a podhooo

  7. simbokdhe said: lha kok bisa toh tukang kebun main embat-embatan gitu hahahaha …

    ha yo itu…. lha lihat barang nganggur kali ya…

  8. smallnote said: Aku suka kata-katamu yang ini, Bung!

    makasih Sist…..

  9. sukmakutersenyum said: walaah

    haha,,,,cilaka dah

  10. rembulanku said: ealah…. pas nyileh mesti ora ngankune meh kanggo opokok malah iso tragis ngono?

    asal pake aja mBA…

  11. siasetia said: koq beliau bisa akses lemari PUAS mas dhave?

    pas aku jemur kok hehehe 😀

  12. siasetia said: OHHHHHH pernah ya mas….kapan?..mending mutusin mas dhave

    hahaha..ada deh…

  13. siasetia said: nilainya 4 ya mas dhave, klo 5 SANGAT PUAS

    haha… kaya pelajaran PSPB

  14. siasetia said: hihi neh termasuk dalam cari pasangan mas dhave?

    iya kali ya…hehe 😀

  15. siasetia said: ay ay 1

    toreeen hahaha

  16. dhave29 said: Mungkin anda akan sangat jengkel dengan cara saya mencari barang yang saya incar. Butuh waktu lama untuk memikirkan, menimbang-nimbang hingga akhirnya memutuskan untuk membeli. Jika sudah mengincar salah satu jenis barang, katakanlah sepatu, maka kemanapun akan terus dikejar

    ini ni cara saya kalau dah ngincer barang yang diinginkan tiap hari mantengin inet nyari2 referensi, review, bandingin harga sana sini, keunggulannya apa, kelemahannya apa, sambil nunggu duit terkumpul, dan saat kebeli berasa klimax aja :)))

  17. dhave29 said: Bukan masalah berapa mahal, tetapi coba lihat berapa jasa benda itu kepada kita, dan bagaimana proses mendapatkannya.

    gue banget kata nak gaul masa kini hehehe

  18. dhave29 said: Bukan masalah berapa mahal, tetapi coba lihat berapa jasa benda itu kepada kita, dan bagaimana proses mendapatkannya.

    lha kok bisa toh tukang kebun main embat-embatan gitu hahahaha …

  19. dhave29 said: Bukan masalah berapa mahal, tetapi coba lihat berapa jasa benda itu kepada kita, dan bagaimana proses mendapatkannya.

    Aku suka kata-katamu yang ini, Bung!

  20. dhave29 said: sepatu kesayanganku dan kaus tangan kebanggaanku dipakai tukang kebun buat bersih-bersih.

    walaah

  21. dhave29 said: sepatu kesayanganku dan kaus tangan kebanggaanku dipakai tukang kebun buat bersih-bersih.

    ealah…. pas nyileh mesti ora ngankune meh kanggo opokok malah iso tragis ngono?

  22. dhave29 said: Dada seolah sesak dan air mata hendak tumpah, sepatu kesayanganku dan kaus tangan kebanggaanku dipakai tukang kebun buat bersih-bersih. Sepatuku sayang kaus tanganku malang, tak sesadis itu aku memperlakukanmu, tetapi tukang kebun telah menyiksamu. Tak ada rasa marah, hanya diam sambil menunggu semua selesai lalu cuci kembali dan jemur lalu simpan. Pengin tak babat juga ntuh tukang kebun.

    koq beliau bisa akses lemari PUAS mas dhave?

  23. dhave29 said: aya yang meneteskan air mata saat diputus pacar, karena rasa memiliki.

    OHHHHHH pernah ya mas….kapan?..mending mutusin mas dhave

  24. dhave29 said: Kata PUAS

    nilainya 4 ya mas dhave, klo 5 SANGAT PUAS

  25. dhave29 said: Mungkin anda akan sangat jengkel dengan cara saya mencari barang yang saya incar. Butuh waktu lama untuk memikirkan, menimbang-nimbang hingga akhirnya memutuskan untuk membeli. Jika sudah mengincar salah satu jenis barang, katakanlah sepatu, maka kemanapun akan terus dikejar. Bayangkan, hanya untuk sepatu gunung yang tersedia disetiap toko, counter, gerai alat pendakian ada, tetapi saya rela jauh-jauh dari Salatiga ke Lenteng Agung untuk berburu. Mungkin ini sudah penyakit saraf nomer 69.

    hihi neh termasuk dalam cari pasangan mas dhave?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...