Berbekal Salak 4Kg dari Denpasar hingga Salatiga

Manusia memang ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara ciptaan-ciptaan yang lain. Dalam proses evolusi yang melibatkan seleksi alam dan tekanan lingkungan, manusia masih saja tetap bertahan. Tidak heran, dimana-mana masih saja ditemukan manusia, baik dari tempat yang nyaman, terpencil bahkan ekstrim sekalipun. Kemampuan manusia dalam adaptasi adalah kunci utama bagaimana tetap bertahan hidup. Manusia makan untuk hidup, dan hidup untuk makan maka makanan adalah faktor utama penunjang dalam kehidupan.

Ahli nutrisi selalu menyarankan untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, dengan 4 sehat 5 sempurna. Makanan ideal bagi mereka yang mampu, baik dari ketersediaan dan kemampuan dalam menyediakan. Bagaimana jika tidak tersedia walaupun ada kemampuan dalam menyediakan atau sebaliknya. Kembali kedalam proses adaptasi, manusia diberi kemampuan lebih dalam sistem pengaturan tubuh agar tetap bisa bertahan hidup dengan segala tekanan lingkungan.

Teringat, sekitar agustus 2003 saat pendakian ke Gunung Rinjani. Memang perjalanan panjang yang sangat melelahkan, bahkan menguras tenaga dan pundi-pundi rupiah. Ransel ukuran 120liter, tas punggung ukuran 25 liter terus saja menggelayut dalam tubuh selama berhari-hari. Setelah pendakian 4 hari dan mencapai puncak saatnya kembali turun. Tak terduga perjalanan sebegitu jauhnya, hingga persediaan air habis dan matahari dengan terik membakar di atas kepala. Berjalan seorang diri ditengah hutan yang baru pertama kali berkenalan, disertai rasa lelah dan haus yang amat sangat. Dari peta yang ada di tangan, ada beberapa titik-titik sumber air, namun semuanya kering kerontang.

Lesu sambil tertunduk ditepi sungai kecil yang mengering, mengingat tujuan masih 6 jam didepan. Akhirnya mencoba menggali tanah di tanah yang masih agak basah, dan ada rembesan air, maka harapan hidup kembali muncul. Air keruh, berwarna cokelat, bau tidak sedap, namun apa boleh buat. Bandana yang menutupi kepala, tak ubahnya jadi alat untuk memeras santan. Kucuran air berbau, agak keruh masuk juga dalam mulut yang sudah seharian merasakan haus. Bangkit berdiri sambil membawa air saringan untuk menuju Desa Senaru.

Perjalanan belum usai, sebab harus melintas Pulau Bali untuk sampai di rumah. Terombang-ambing dalam kapal ferry selama 4 jam lebih, lalu naik angkutan yang mahal bukan kepalang. Akhirnya sampai juga di Terminal Ubung, Denpasar. Uang sudah menipis, hanya sekitar 125 ribu. Mana cukup sampai Salatiga, jangankan makan, untuk naik bus saja masih kurang. Mutar-mutar disekeliling terminal untuk mencari makanan yang paling murah dan dapat banyak. Namanya juga Bali, mana ada yang murah, eits jangan salah… ada Salak sekilo cuma 2 ribu. Akhirnya beli salak 4 kili seharga 6 ribu setelah tawar-menawar sampai mau mati.

Salak 4kg menjadi bekal pulang ke rumah. Bus Akaz Bali-jember menjadi pilihan, sebab rute yang paling murah daripada harus je Surabaya. Namanya saja bus ekonomi, ada-ada saja yang terjadi. Saat di Ferry ada pengamen yang menodongkan pisau tepat di leher, karena saya menolak memberikan uang. Mungkin sudah sama-sama frustasinya, mulut ini hanya berkata ”bli..kalau mau tusuk silahkan, pastikan sampai mati, ini ada KTP tolong anter saya sampai rumah, kalau mau duit aku punya, ini saja gak tau cukup apa ngga sampai rumah, kalau mau salak ini silahkan makan bareng, saya beli 4kg untuk bekal pulang, kalau mau bertarung ayo diluar, saya bawa golok yang kemarin menemani saya di Rinjani”. Hanya kata pasrah yang terucap, sambil dibalas makian ”ow..kere…” dan terbalas dengan ucapan ”podhooo cuuk…hahahaa…”.

Akhirnya sampai di Jember lalu pindah ke Malang biar irit lanjut ke Jombang lewat Batu, setalah itu menuju Solo dan sampai juga akhirnya di Salatiga. 3 hari 2 malam, dari Pulau Dewata hingga Salatiga dengan penuh derita. 4kg salak habis selama perjalanan, tak terbayangkan berapa botol air yang saya ambil dari Mushola saat bus berhenti hanya untuk menggelontor salak agar sampai lambung dan keluar tanpa sembelit. Sampai rumah, uang yang tersisa tinggal 3 ribu perak, akhirnya untuk pertama kali makan nasi yang harus ditawar dari harga 4 ribu menjadi 2500 sebab yang 500 ongkos naik angkota.

Wujud evolusi, bagaimana manusia beradaptasi dalam kondisi stress lingkungan. Tak terbayangkan, kenapa saya begitu sehat dan bugar minum air sungai yang kotor, dan air kran, begitu juga dengan 4kg salak yang menjejali lambung. Memang dasyat ciptaan Tuhan untuk mahluk yang diberi label Manusia. Mungkin saat kondisi normal, minum air sembarangan langsung diare, begitu juga dengan makan bebuahan yang melebihi takaran akan berpengaruh pada pencernaan, namun pada kondisi-kondisi tertentu tubuh akan merespon berbanding lurus. Luar biasa bagaimana menjalani evolusi dan kata Herbert Spencer ”survival of the fittest”.

salam

DhaVe
kk,210811,12.20

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: yen salake legi kabeh ora opo2lha yen njuk nanggori sing 3.5kg sepet piye mas?tetep disesep?

    Superrr sekali yaa :’)

  2. rembulanku said: yen salake legi kabeh ora opo2lha yen njuk nanggori sing 3.5kg sepet piye mas?tetep disesep?

    Hehe

  3. rembulanku said: yen salake legi kabeh ora opo2lha yen njuk nanggori sing 3.5kg sepet piye mas?tetep disesep?

    tetep…timbang kaliren hehehe πŸ˜€

  4. mupengml said: cartenz…hmmmm…puncak salju jayawijaya yoh mas :)setelah itu langsung ke Kilimanjaro, Aconcagua, dan tentusaja…Everest πŸ˜€

    yen salake legi kabeh ora opo2lha yen njuk nanggori sing 3.5kg sepet piye mas?tetep disesep?

  5. mupengml said: cartenz…hmmmm…puncak salju jayawijaya yoh mas :)setelah itu langsung ke Kilimanjaro, Aconcagua, dan tentusaja…Everest πŸ˜€

    amiiin…amiiiin dah…. sapa tau bisa…. hehehe πŸ˜€

  6. dhave29 said: Saking penginnya, nekat sendirian.. yah lumayan.. udah banyak gunung yang udah kelar, tinggal nunggu rejeki nomplok, sapa tau bisa ke cartenz

    cartenz…hmmmm…puncak salju jayawijaya yoh mas :)setelah itu langsung ke Kilimanjaro, Aconcagua, dan tentusaja…Everest πŸ˜€

  7. smallnote said: Mungkin saya juga harus mencobanya. πŸ˜€

    Pake nenas ya Sist…..

  8. mupengml said: kuat bener Kang Dhave…saluut..naik rinjani sendirian..udah biasa naik turun gunung yah Kang?

    Saking penginnya, nekat sendirian.. yah lumayan.. udah banyak gunung yang udah kelar, tinggal nunggu rejeki nomplok, sapa tau bisa ke cartenz

  9. chris13jkt said: Kalau kepepet, apapun memang bisa. Tapi dalam kondisi normal, bisa diare Dhave πŸ™‚

    iya Om… tekanan lingkungan membuktikan, tetapi dalam keadaan nyaman bisa bikin cilaka πŸ˜€

  10. tatafebrian said: Subhanallah….luar biasa sekali pengalamannya..Thanks for sharing.

    kembali kasih….. eheheheeee πŸ˜€

  11. 3ojo said: hehe… itu dulu dhave…, tetap sehat… lha kalau sekarang…?

    alhamdulilah Om…sehat selalu…..

  12. sulisyk said: hahahahaha, bar iku njuk ora isa pup seminggu :)))

    di gelontor wedang alhamdulilah lancar Om..malah lancar pool

  13. Mungkin saya juga harus mencobanya. πŸ˜€

  14. kuat bener Kang Dhave…saluut..naik rinjani sendirian..udah biasa naik turun gunung yah Kang?

  15. Kalau kepepet, apapun memang bisa. Tapi dalam kondisi normal, bisa diare Dhave πŸ™‚

  16. Subhanallah….luar biasa sekali pengalamannya..Thanks for sharing.

  17. hehe… itu dulu dhave…, tetap sehat… lha kalau sekarang…?

  18. hahahahaha, bar iku njuk ora isa pup seminggu :)))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...