Menertawai Diri Sendiri, Peka namun Tidak Sensi

Bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki keramahan dan etika yang tinggi, sehingga menjadi nilai plus tersendiri. Menjunjung tinggi hak-hak setiap orang, ramah tamah, toleransi adalah menu setiap hari. Tidak ketinggalan sebagai bangsa pemaaf, sehingga setiap setahun sekali ada halal bihalal untuk melebur setiap kesalahan. Sebuah bangsa yang mulia dari setiap prinsip-prinsip kehidupan bermasyarkat dalam menciptakan kerukunan dan perdamaian.

Menjadi pertanyaan sekarang, mengapa banyak kerusuhan, tawuran antar kampung, bom ditempat ibadah hingga amuk masa.?. Dimana identitas sebagai masyarkat yang bersosial tinggi, toleransi, tenggang rasa, saling menghormati, kalau pada akhirnya berakhir dengan adu jotos atau tindak kekerasan yang lain. Sangat ironis sekali, sebagai bangsa yang dicap baik oleh dunia, tiba-tiba menjadi suku bar-bar yang beringas. Silaturahmi dan halal-bihalan seusai sholat Ied seolah seremonial tahunan yang menjadi rutinitas belaka. Tidak peduli mereka yang sudah tua, angkat senjata membela batas desa, atau anak-anak yang membentengi sekolahan, mahasiswa dengan gengsi almamater atau aparat dengan kesatuannya masing-masing. Apakah saat adegan mahabarata ada canda, tawa yang ada hanyalah kobaran amarah dan keberingasan.

Apa yang menyebabkan bangsa kita mudah di pecah, di adu domba hingga pancingan provokasi yang tersulut dan mudah meledak. Bangsa kita mungkin saat ini sebagai bangsa yang cemberut dan susah tertawa bagi dirinya sendiri, tetapi terbahak-bahak hingga kram rahang saat menertawakan orang lain. Bangsa kita sangat susah menertawai diri sendiri, sehingga mudah sekali tersulit provokasi. Nah apabila suruh menertawakan orang lain, seperti pemerintah, presiden, artis, tim nasional sangat mudah dengan tertawa lepas bahkan sejadi-jadinya. Mengapa begitu mudahnya menertawakan pihak lain, namun sangat susah berkaca lalu tertawa sendiri.

Menertawakan diri sendiri, berani melihat dan membongkar semua tindakan tolol, kebodohan, kesalahan dan dosa-dosa dengan cara yang menyenangkan. Koreksi diri secara humor, jauh lebih menyenangkan daripada duduk termenung dengan penyesalan berlarut-larut. Pengadilan diri secara jenaka, menjadikan seseorang melihat dengan cara yang dewasa namun tanpa meninggalkan makna kebenaran sejati. Apabila diri ini sudah bisa menertawakan diri sendiri, makan kendali emosi, kontrol logika akan mudah diarahkan, sehingga sebesar apapun sumbu provokasi langsung segera bisa dipadamkan.

Selera humor seolah oase di gurun pasir yang menyejukan masalah. Menyelesaikan masalah memang harus serius, tetapi setidaknya harus ada hujan es untuk mendinginkannya. Bagaima mantan Presiden Gus Dur menyikapi masalah, dengan humor yang kental namun tetap pada porsinya. Berapa banyak cibiran, stigma miring, hingga cacian namun Sang Presiden tetap berkata ”gitu aja kok repot”. Dengan jawaban singkat presiden tersebut membuktikan, beliau tidak mudah emosi, tidak mudah diprovokasi dan tetap memiliki ketegasan walau terkadangan slengekan.

Bagaimana dengan kita, terutama yang mudah tersinggung dan menjadikan hal-hal yang kecil seolah sebagai sesuatu yang besar. Untuk menjadi orang besar, harus bisa menanggapi segala sesuatu dengan tidak menjadi orang kecil, dengan tidak mengecilkan permasalahan dan tidak membesar-besarkan persoalan. Semua pada porsinya dan tidak lebih atau kurang. Menertawai diri sendiri, bukan perkara yang mudah, dimana kendali atas emosi dan logika harus tetap dipegang. Sebelum menertawakan orang, tertawalah buat diri sendiri agar menjadi manusia yang peka namun tidak sensi ”tersinggung”.

salam

DhaVe
KA, 031011, 19.00

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rudal2008 said: Sharingnya sangat bermanfaat untuk sesama,”Masih banyak manusia dibumi ini tidak sadar diri siapakah mereka sebenarnya”Tiap hari selalu melahirkan pemikiran yang kotor,”Saling mengadu”Tanpa memikirkan efek samping.Tfs ya Mas.

    kembali kasih Om Rudal…. semua harus berkaca…

  2. jarody said: wah, mas-e lagi sensi..:p

    Sharingnya sangat bermanfaat untuk sesama,”Masih banyak manusia dibumi ini tidak sadar diri siapakah mereka sebenarnya”Tiap hari selalu melahirkan pemikiran yang kotor,”Saling mengadu”Tanpa memikirkan efek samping.Tfs ya Mas.

  3. jarody said: wah, mas-e lagi sensi..:p

    datang Bulan mbah.,,,, 😀

  4. sulisyk said: pokoke aja “dipenggak” kudu ngguyu “sak kayange” hahahaha

    wah, mas-e lagi sensi..:p

  5. sulisyk said: pokoke aja “dipenggak” kudu ngguyu “sak kayange” hahahaha

    JIIIIIIIIIIIII………………..

  6. sulisyk said: la kok terus pengen nonton monolog butet iki…

    coba dah STAND UP COMEDY… Kompas TV

  7. rembulanku said: lha yen aku seringe digeguyu ik?aku kena aku kena aku kena*ngoco karo mesam-mesem terus gedheg2*

    pokoke aja “dipenggak” kudu ngguyu “sak kayange” hahahaha

  8. fitrialayrachel said: yap setuju, jadi tertampar hehehe….. jadi lebih rileks and bersemangat untuk tetap maju ke depan setelah introspeksi dengan menertawakan diri sendiri hahahahha…..

    la kok terus pengen nonton monolog butet iki…

  9. fitrialayrachel said: yap setuju, jadi tertampar hehehe….. jadi lebih rileks and bersemangat untuk tetap maju ke depan setelah introspeksi dengan menertawakan diri sendiri hahahahha…..

    nah loh… kena kan sekarang… yukk tertawa untuk diri sendiri sebelum menertawakan orang lain

  10. wayanlessy said: Postingan yg bagus mas Dhave…saya setuju…Menertawakan diri sendiri (tanpa bermaksud merendahkan) merupakan terapi yg sangat berpengaruh bagi kejiwaan, paling nggak, bagi saya, selama saya praktekan..saya merasa terbantu dan justru lebih percaya diri saat menghadapi masalah dan berinteraksi dgn orang lain dr berbagai macam latar belakang…mungkin kl pemimpin bangsa yg mempraktekan, dampaknya luar biasa ya?

    terimakasih buat apresiasiya… yah lebih gentleman lah dengan tahu potensi diri sehingga bisa mengukur diri sendiri. Pemimpin negeri ini susah tertawa, sehingga menjadi bahan tertawaan….hehehe :Dsemoga mereka bisa

  11. rembulanku said: lha yen aku seringe digeguyu ik?aku kena aku kena aku kena*ngoco karo mesam-mesem terus gedheg2*

    nah justru karena di geguyu bisa jadi sumber inspirasi…. coba Sule dan Parto gak di geguyu… gak laku mereka..syukuri bisa membuat orang lain tertawa….ehehepiss dah….

  12. rengganiez said: *sarujuk*

    tos dulu..mBa.,,, hehehe plokkk..gak mas lagi sakarang

  13. 3ojo said: setuju…., lebih baik menertawakan diri sendiri… untuk introspeksidari pada menertawakan orang lain…

    sepakat dah Om…Pur

  14. yap setuju, jadi tertampar hehehe….. jadi lebih rileks and bersemangat untuk tetap maju ke depan setelah introspeksi dengan menertawakan diri sendiri hahahahha…..

  15. Postingan yg bagus mas Dhave…saya setuju…Menertawakan diri sendiri (tanpa bermaksud merendahkan) merupakan terapi yg sangat berpengaruh bagi kejiwaan, paling nggak, bagi saya, selama saya praktekan..saya merasa terbantu dan justru lebih percaya diri saat menghadapi masalah dan berinteraksi dgn orang lain dr berbagai macam latar belakang…mungkin kl pemimpin bangsa yg mempraktekan, dampaknya luar biasa ya?

  16. lha yen aku seringe digeguyu ik?aku kena aku kena aku kena*ngoco karo mesam-mesem terus gedheg2*

  17. setuju…., lebih baik menertawakan diri sendiri… untuk introspeksidari pada menertawakan orang lain…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...