Albert Einstein Jadi Sopir

Pada suatu hari Albert Einstein disuruh menyampaikan pitado ilmiah kepada masyarakt umum tentang teori relativitas. Sejenius-jeniusnya seorang Einstein ternyata pusing juga, bagaimana menjelaskan e em si kuadrat kepada mereka yang tidak mengerti akan fisika. Mungkin juga orang awam yang tak mengerti akan sangat susah memahami apa yang dikatakan Einstein. Menjadi masalah besar bagi seorang jenius untuk menyampaikan teori yang rumit kepada orang awam yang sama sekali tidak mengerti. Orang awam juga mungkin akan berkidik dengan nama besar Einstein yang kelewat jenius dengan bahasa ilmiah yang susah dicerna.

Akhirnya Einstein mengajak sopirnya untuk menghadiri pidato ilmiahnya. Dalam perjalanannya, Einstein berkata ”nanti kamu gantikan aku berpidato dan aku jadi sopir”. Singkat kata akhirnya sampai juga Einstein dan supirnya di ruangan lalu disaat mulai pidato ilmiahnya, sopir Einstein pidato dengan teks yang diberikan Einstein. Usai pidato maka gemuruh tepuk tangan berkumandang diseantero ruangan dan saatnya sesi tanya jawab. Keringat dingin sang Sopir disaat tanya tawab, lalu ia berkata ”ehmm… untuk lebih jelasnya saya persilahkan sopir saya yang akan menjelaskan pada sesi ini” sambil nunjuk Albert Einstein.

sangat sederhana bukan cara Einstein untuk menyederhanakan persoalan ilmiah kepada orang awam menjadi sesuatu yang sederhana. Mungkin realita yang terjadi saat ini adalah, banyak orang yang tak se jenius Einstein membuat sesuatu yang mudah menjadi rumit. Tidak usah cari orang jenius, orang nomor 1 di Indonesia saja membuat hal yang mudah menjadi sesuatu yang rumit. Mau bilang busung lapar saja pakai bilang gangguan gizi buruk, yang membuat orang memiliki persepsi masing-masing, padahal intinya kelaparan.

Begitu juga dengan mereka yang sudah punya nama dan pakar dibidangnya, bahasanya susah dimengerti bahkan terkesan berputar-putar tidak karuan. Mungkin biar terkesan ilmiah, mentereng atau panjang lebar, sehingga penggunaan bahasa yang tidak perlu atau memakai bahasa asing. Bahasa Indonesia dengan perbendaharaan kata yang banyak, terkadang harus ditimpa dengan bahasa asing yang susah dipahami. Seperti pada media masa yang selalu dihiasi dengan wajah-wajah itu-itu saja dan anehnya selalu memakai bahasa yang berat dan susah dimengerti.

Menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana menyederhanakan sesuatu yang komplek menjadi yang sederhana. Pemakaian bahasa yang kelewat ilmiah dan pemakaian bahasa asing, semakin memperuncing keruwetan permasalahan. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti orang awam, sepertinya jauh lebih efektif dalam menjelaskan. Bagaimana dengan anda apakah akan mempersulit yang mudah atau mempermudah yang sulit. Mungkin kau birokrat akan mempersulit apa yang bisa di permudah, dan semoga teknokrat bisa memeprmudah apa yang sebenarnya sulit.

Salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. mmamir38 said: Mungkin karena dia merasa dirinya genius!

    Baru merasa saja kan Om….. Doktor loh Doktor….

  2. rembulanku said: xixixi…. dadi kelingan pernah kena sm*sh”bahasa ilmiah itu penting”dalam hati lha wong aku bakul gorengan kok dipekso mengerti bahasa ilmiahketawa saja deh hahahaha…..btw kebanyakan dari kita emang lebih mudah merumitkan masalah sederhanatapi begitu kesulitan menyederhanakan masalah rumitsatujuh sama ulasannya 😀

    sepakaaat dah….

  3. laurentiadewi said: Teringat saat kuliah, diajar oleh professor yang menulis jurnal ini itu. Walaupun konsentrasi, makan bergizi dan belajar 3 hari 3 malam pake bakar dupa, ilmunya ga masuk.Sampai suatu ketika professor ini sakit dan digantikan asistennya yang ‘cuma S2’.Dan kita2 langsung seperti memperoleh ‘pencerahan’..Lha wong intinya simple sekali, seperti dari Surabaya mau ke Malang, tapi Professor ajak kita ke Jakarta dan Sumatra dulu. Padahal Surabaya – Malang kan 2 jam aja sampe, ga perlu sampe Jakarta.Setuju ulasannya!

    Haha….getulah cara orang cerdas yang tidak cerdas dalam transfer ilmu….

  4. smallnote said: Bahasa pun butuh proses pembelajaran.

    tepat sekali….kapan dan dengan siapa akan dipakai

  5. m4s0k3 said: belum lagi yg nginggris, plus salah grammar n vocab. Euwh

    owwwh,,,,uampoon dah

  6. sulisyk said: anorexia hahaha

    obat langsing

  7. dhave29 said: orang nomor 1 di Indonesia saja membuat hal yang mudah menjadi sesuatu yang rumit. Mau bilang busung lapar saja pakai bilang gangguan gizi buruk

    Mungkin karena dia merasa dirinya genius!

  8. xixixi…. dadi kelingan pernah kena sm*sh”bahasa ilmiah itu penting”dalam hati lha wong aku bakul gorengan kok dipekso mengerti bahasa ilmiahketawa saja deh hahahaha…..btw kebanyakan dari kita emang lebih mudah merumitkan masalah sederhanatapi begitu kesulitan menyederhanakan masalah rumitsatujuh sama ulasannya 😀

  9. Teringat saat kuliah, diajar oleh professor yang menulis jurnal ini itu. Walaupun konsentrasi, makan bergizi dan belajar 3 hari 3 malam pake bakar dupa, ilmunya ga masuk.Sampai suatu ketika professor ini sakit dan digantikan asistennya yang ‘cuma S2’.Dan kita2 langsung seperti memperoleh ‘pencerahan’..Lha wong intinya simple sekali, seperti dari Surabaya mau ke Malang, tapi Professor ajak kita ke Jakarta dan Sumatra dulu. Padahal Surabaya – Malang kan 2 jam aja sampe, ga perlu sampe Jakarta.Setuju ulasannya!

  10. Bahasa pun butuh proses pembelajaran.

  11. belum lagi yg nginggris, plus salah grammar n vocab. Euwh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...