Tahan..tahan..ya Ulangi.. .lagi 1.2..3… buat Pengantin

Pernikahan adalah sebuah moment yang di tunggu calon pasangan pengantin. Entah latar belakang perjodohan, hamil duluan atau memang telah menemukan belahan jiwanya, itu adalah suatu proses menuju pelaminan. Sebuah prosesi yang sangat disakralkan, karena pada acara tersebut 2 keluarga besar bertemu, melebur menjadi sebuah keluarga, dan mengijinkan putra-putri mereka untuk menjadi penerus generasi. Dihadapan orang tua, pemuka agama, maka ikrar suci dinyatakan sebagai ikatan pernikahan. Lantunan doa kepada Sang Khalik dikumandangkan untuk menyucikan janji setia mereka.

Disisi lain, beragam ritual juga dilaksanakan. Ritual-ritual tersebut tentunya sesuai dengan adat dan tradisi masing-masing daerah yang menyesuaikan dengan religi yang dianut. Setiap prosesi pernikahan dalam adat jawa memiliki makna filosofi-filosofi tertentu. Begitu sakralnya prosesi tersebut acapkali membuat air mata tak terbendung disaat kedua mempelai menjalaninya. Tidak hanya pengantin yang menjalani prosesi tersebut, tetapi sanak keluarga juga ikut larut sehingga tetes air mata tak terbendung. Namun dibalik sakralnya acara tersebut kadang terusik dengan suara yang cukup mengganggu. ”tahan..tahan…ulangi… yak 1..2..3..cepret…” seperti itu kira-kira yang terucap.

Fotografer, sebuah profesi yang cukup dilematis saat itu. Disisi juru kamera, bagaimanapun caranya agar dapat menangkap momment yang bagus. Disisi pengantin, bagaimana perhelatan mereka bisa terekam dengan baik. Disisi lain, moment itu berubah dan seolah hanya bermakna dalam sebuah gambar dan realitanya hanyalah sebuah kebohongan belaka. Demi sebuah gambar bagus, harus mengorbankan sisi-sisi yang seharusnya berlangsung alamian tanpa ada yang mengatur.

Dibalik gambar kedua mempelai yang sujud dipangkuan orang tua atau sungkem, benarkah ada komunikasi diantara mereka?. Jika melihat langsung, prosesi tersebut terkadang hanya formalitas belaka, sebab benar-benar dijalankan akan berbeda hasilnya. Mungkin, kenyataan prosesi tersebut masih berlaku bagi kalangan-kalangan tertentu saja, sebuat saja Keraton, pejabat atau mereka yang masih menanamkan nilai-nilai budaya yang ada. Sekarang prosesi-prosesi yang sakral seolah hanya seremonial belaka dan yang penting gambarnya bagus.

Beberapa kali ikut motret pernikahan, seolah fotografer yang seharusnya bertugas mengabadikan menjadi fotografer model. Mereka mendirect/mengatur pengantin agar mendapat angel / sudut, komposisi dan momment yang pas. Tujuannya jelas agar mendapatkan hasil yang bagus. Apa yang terpikir disaat pengantin perempuan membasuh kaki calon suaminya sehabis nginjak telur dan terdengan bunyi ”tahan..tahaan..ya..1..2..3..ulangi lagi”. Tindakan konyol demi mendapat momment bagus dengan menyetir pengantin, lebih bodoh lagi saat terekam video kamera.

Perhelatan besar, sepertinya tak terdengan suara ”iyaaa tahan..tahan.. yak sekali lagi ulangi…” yang ada hanyalah rentetan suara kamera di pencet. Mengapa terjadi demikian…? sebuah pelajaran penting namun terlupakan atau memang dilewatkan begitu saja. Gladi bersih, itu adalah kuncinya agar semua berlangsung dengan baik. Mungkin acara tersebut hanya untuk kalangan menengah ke atas, selain itu asa spontanitas yang berlaku. Yah ada ”harga ada rupa” begitu pepatah berkata, namun acara sakral yang dibuat sekenanya saja tentu tak ada makna lebih selian seremonial dan formalitas.

Realita yang terjadi saat ini dan unik jika diperhatikan. Fotografer dengan kamera gede-gede tak ubahnya mereka dengan kamera pocket atau henpon dari yang harga jutaan rupiah sampai ratusan ribu saja. Seolah mereka berebut gambar dan konyolnya mereka yang tidak punya kepentingan, tidak tahu itu hasil jepretan mau dibawa kemana. Mata juga risih melihat tingkah-tingkah mereka yang bawa kamera dari yang gede sampai yanga ada keypadnya, seolah merusak sedikit acara. Kenapa tidak 1 atau 2 fotografer resmi saja, sedang yang lain cukup tau diri dan posisi, agar acara tersebut lancar. Saya mungkin cukup dari kejauhan dengan lensa tele saja, agar cukup sopan dan tdak mengganggu yang lain. Fotografer seharusnya juga lebih siap dalam menangkap momment sakral dan tidak terlalu ikut campur, tugas kita hanya menangkap momment saja. Sampai kapan prilaku tersebut ada… selama tak ada yang menyadari makna filosofi dan bagaimana menempatkan diri dan posisi.

salam
DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. daniartana said: Kebahagiaan milik bersama, mungkin itu yang mau diungkapkan rekan2 atau keluarga yg bawa kamera, hehe

    hahaha betul..makane buat rayahan…..

  2. addicted2thatrush said: Yang kek gitu perlu dikerjain kang..

    getu yoh… wis hajar sajah wae..lah Dabs

  3. rudal2008 said: Menarik sekali sharingnya Mas Dhave, Thanks ya Mas.

    kembali kasih Om….

  4. rembulanku said: aku rak patut dadi tupot nikahan, tau diri ae dadi seksi konsumsi wis cukup xixixi

    Kebahagiaan milik bersama, mungkin itu yang mau diungkapkan rekan2 atau keluarga yg bawa kamera, hehe

  5. rembulanku said: aku rak patut dadi tupot nikahan, tau diri ae dadi seksi konsumsi wis cukup xixixi

    Yang kek gitu perlu dikerjain kang..

  6. rembulanku said: aku rak patut dadi tupot nikahan, tau diri ae dadi seksi konsumsi wis cukup xixixi

    Menarik sekali sharingnya Mas Dhave, Thanks ya Mas.

  7. rembulanku said: aku rak patut dadi tupot nikahan, tau diri ae dadi seksi konsumsi wis cukup xixixi

    godog wedang mba

  8. siasetia said: ga ada potonya?

    iya ya… *jadi mikir*

  9. siasetia said: ga ada potonya?

    aku rak patut dadi tupot nikahan, tau diri ae dadi seksi konsumsi wis cukup xixixi

  10. siasetia said: ga ada potonya?

    pake hengpong mba…hehehhe

  11. rirhikyu said: minimal 2 kamera, lebih lebih baikdrpd ulangi 😀

    iya Bu..3 lah idealnya hehehehaaa

  12. chris13jkt said: Kalau sudah gini memang jadi serba salah. Kalau gak di-direct terus foto jadinya kurang memuaskan . . . nah fotografer lagi deh yang jadi sasaran. Tapi kalau di-direct, ya itu tadi . . . suasana sakralnya koq ya gak krasa 🙁

    dilematis kan OM….? makane gladi bersih biar sama-sama tahu hehehe

  13. smallnote said: Foto nanas kapan? 😀

    ga ada potonya?

  14. smallnote said: Foto nanas kapan? 😀

    minimal 2 kamera, lebih lebih baikdrpd ulangi 😀

  15. smallnote said: Foto nanas kapan? 😀

    Kalau sudah gini memang jadi serba salah. Kalau gak di-direct terus foto jadinya kurang memuaskan . . . nah fotografer lagi deh yang jadi sasaran. Tapi kalau di-direct, ya itu tadi . . . suasana sakralnya koq ya gak krasa 🙁

  16. smallnote said: Foto nanas kapan? 😀

    ntar kalo dah ketemu jodohnya ehehehe….

  17. dhave29 said: bawa 3 kamera dan 3 manusia hahaha

    3 macem lensa jugak… wide, medium, tele… hehehe

  18. dyasbaik said: hehekemarin baru saja menghadiri pernikahan sepupu, dimana semua adik2 pakdhe (yg menikahkan anaknya itu) datang.tapi feel nya gak ada sama sekali. datar… sangat datarr…mungkin karena pengaruh fotografer kah? hehe

    nah sudah terjawab kan..?

  19. faziazen said: lebih alami kalau candid ya…btw yang betul adalah “angle” bukan “angel”

    Foto nanas kapan? 😀

  20. faziazen said: lebih alami kalau candid ya…btw yang betul adalah “angle” bukan “angel”

    makasih koreksinya…. otak lum bisa aito corect angel dan angle makasih…yups candid lebih natural

  21. poniyemsaja said: kalau bagian “tahan…1..2..3.. jepret” sih tak kira masih wajar.. tapi yen bagian “ulangi” ki kok kesane piye ngono yah… **membayangkan mengulangi sungkeman.. mengulangi tandatangan.. mengulangi moment2 yang sakjane ndak bisa diulangi… kecuali kalo pas foto bareng tamu, biasane diambil 2 kali tah..**baiknya sih yen gak hanya 1 kamera,, jadi ada backupan.. kalo yang 1 gak dapet moment ini.. yang lain mungkin ada moment tsb..

    nah pelajaran berharga… bawa 3 kamera dan 3 manusia hahaha

  22. hardi45 said: Memang rupanya musti ada aturan ketat untuk fotografer amatiran, sukarelawan. Kalau tidak kita yang memang bertugas akhirnya cuma mendapatkan tangan-tangan yang mengacung membawa pelbagai macam camera.

    betul kan Om..?

  23. rawins said: kalo aku tak jawab, dah gak nahan neh…buruaaan…

    hahaha..kebelet

  24. bambangpriantono said: Selak kepentut mantene hahahakzzzz

    coba kon dadi nganten

  25. hehekemarin baru saja menghadiri pernikahan sepupu, dimana semua adik2 pakdhe (yg menikahkan anaknya itu) datang.tapi feel nya gak ada sama sekali. datar… sangat datarr…mungkin karena pengaruh fotografer kah? hehe

  26. lebih alami kalau candid ya…btw yang betul adalah “angle” bukan “angel”

  27. kalau bagian “tahan…1..2..3.. jepret” sih tak kira masih wajar.. tapi yen bagian “ulangi” ki kok kesane piye ngono yah… **membayangkan mengulangi sungkeman.. mengulangi tandatangan.. mengulangi moment2 yang sakjane ndak bisa diulangi… kecuali kalo pas foto bareng tamu, biasane diambil 2 kali tah..**baiknya sih yen gak hanya 1 kamera,, jadi ada backupan.. kalo yang 1 gak dapet moment ini.. yang lain mungkin ada moment tsb..

  28. Memang rupanya musti ada aturan ketat untuk fotografer amatiran, sukarelawan. Kalau tidak kita yang memang bertugas akhirnya cuma mendapatkan tangan-tangan yang mengacung membawa pelbagai macam camera.

  29. kalo aku tak jawab, dah gak nahan neh…buruaaan…

  30. Selak kepentut mantene hahahakzzzz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...