''Perlu Penelitian Lebih Lanjut'' Hasil atau Pembelaan Peneliti..?

Tanpa manusia, budaya tidak akan ada, namun lebih penting dari itu tanpa budaya, manusia tidak akan ada ( Clifford Geertz ). Sebuah kata bak pedang bermata dua yang ditusukan atau akan tertusuk oleh dan bagi manusia. Sepertinya kata-kata diatas adalah tamparan telak bagi manusia sebagai mahluk yang berbudaya. Budaya, hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang hingga saat ini ada akan terus ada sepanjang manusia ada. Sedikit melihat dari sudut pandang lain, bagaimana jika budaya masuk dalam dunia akademik menjelma sebuah ilmu pengetahuan.

Bagaimana peranan kaum akademik, apakah akan hidup karena memiliki pengetahuan atau tanpa ilmu pengetahuan mereka tak akan hidup. Suatu ketika dalam sebuah seminar tingkat nasional, ada sebuah diskusi yang menarik dan menimbulkan perdebatan sana-sini. Ada sebuah pernytaan, bagaimana jika hasil penelitian itu hanya sebatan skala lab ”pilot project”, sebab hakikatnya penemuan harus bisa di aplikasikan untuk umat manusia.

Andaikata, ada penemuan bahwa ”wortel mengandung karotenoid” dan semua orang sudah menerima penelitian tersebut. Lantas beberapa ilmuwan mencoba mencari sumber-sumber karotenoid, seperti dari cangkang kerang, kulit udang atau dari bahan lain. Hasilnya sama, semua mengandung karotenoid, tetapi apakah semuanya bisa dan memiliki potensi sebagai asupan karotenoid bagi manusia. Mungkin orang awam akan dengan mudah mengunyah wortel ala kelinci atau dibuat sari buah, tetapi apakah ada juga yang menggerogoti cangkang Rajungan atau Kepiting..?. Tidak ada salahnya menemukan sumber karotenoid, tetapi satu sisi sudah menjadi skala masal, sebab diterima semua orang, sedangkan lainnya masih sebatas skala lab, dan hanya menjadi konsumsi jas putih.

Ada contoh lain, disaat ilmuwan menemukan formula pakan ikan dari bahan-bahan limbah organik. Diklaim dari bahan-bahan tersebut bisa menjadi sumber nutrisi bagi ikan. Namun, disisi lain pembudidaya ikan dengan menggunakan pakan ikan murahan yang ada dipasar jasilnya lebih bagus dari formula racikan orang lab. Seolah seperti sia-sia penemuan tersebut, bagi mereka yang berpikir praktis, tetapi bagi yang dibalik jas putih seolah membela diri ”saya menemukan pakan yang tidak efektif untuk ikan”.

Memang yang namanya hasil penelitian harus berhasil dan bernilai positif. Thomas Alfa Edison, mungkin telah menemukan 1000 cara yang salah untuk membuat lampu pijar. Yang namanya hasil, apapun bentuknya tetaplah hasil. Sisi lain menganggap sebagai penemuan yang sia-sia, tetapi ada yang menganggap penemuan gagal tersebut sebagai peringatan cara yang salah. Tinggal berdiri dimana, dalam menyikapi hasil tersebut sehingga bisa menerima apapun hasilnya.

Namanya penelitian tentu saja memiliki kajian ilmiah dan memiliki skala prioritas. Mungkin belum ada yang meneliti, berapa berat tiap butiran pasir di setiap pantai di Indonesia. Walau meneliti bobot pasir memiliki kajian ilmiah, namun tidak memiliki skala prioritas dan entah kemana hasil penelitian tersebut. Kenyataannya sekarang adalah demikian, seolah dunia ini sempit dan sudah habis apa yang harus di gali guna memberikan sumbangsih bagi umat manusia.

Banyak peneliti yang seolah ikut trend, ala ABG gandrung Boy Band atau Girl Band. Katakanlah sekarang sedang marak pewarna alami, maka peneliti berbondong-bondong mencari pewarna alami dari hewan atau tumbuhan. Mungkin mereka yang meneliti yang terlebih dahulu bermain-main akan dengan mudah mencari bahan-bahan potensial pewarna alami, sedangkan yang belakangan akan susah payah mengais-ngais sisa-sisa apa yang bisa di teliti. Yang menyedihkan adalah mereka yang kehabisan ide, sehingga mengada-ada dan yang penting meneliti, padahal hasilnya sudah diramalkan jelas tidak ada gunanya dalam skala masal, dan mentok di pilot project semata.

Memang tidak ada yang sia-sia dari setiap hasil riset, tetapi perlu dipertimbangan juga prioritas dan arah tujuannya. Sepertinya penelitian itu tak akan bermakna sama sekali disaat tidak bisa memberikan sumbangsih bagi umat manusia. Tetapi sekecil apapun penelitian yang bisa mencerahkan orang-orang jauh lebih bermakna dalam menambah ilmu pengetahuan. Dari beragam cabang dan disiplin ilmu, mau dibawa kemana riset-riset yang dilakukan, sudahkah memiliki prioritas dan tujuan yang jelas dan bagaimana dengan hasilnya. Apakah hasil memberikan sumbangsih bagu umat manusia atau hanya sebatas ”butuh penelitian lebih lanjut”.

salam

DhaVea

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rawins said: trus ada embel embelnya om…syarat ketentuan berlaku…

    hahaha….. betool dah..jika sakit berlanjoort hubungi rektor

  2. dhave29 said: ‘butuh penelitian lebih lanjut

    trus ada embel embelnya om…syarat ketentuan berlaku…

  3. rudal2008 said: Cerita tentang Wortel, Aku suka mengkonsumsinya Mas, Bagus utk kesehatan tubuh.Thanks sharingnya, sangat menarik sekali.

    oke Om RUdal…salam buat yang di jerman,,,,

  4. rembulanku said: dan jawabannya, “LANJUTKAN!”

    lebih cepat lebih baik 😀

  5. Cerita tentang Wortel, Aku suka mengkonsumsinya Mas, Bagus utk kesehatan tubuh.Thanks sharingnya, sangat menarik sekali.

  6. dan jawabannya, “LANJUTKAN!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...