Teknologi Membantu Atau Melemahkan Manusia

Mengapa manusia tetap ada sampai sekarang?, karena mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Tetapi perkembangan saat ini sepertinya harus evaluasi lagi sebelum masuk dalam kepunahan. Perkembangan teknologi, menciptakan kemudahan dalam segala hal dan membuat manusia semakin malas dan lemah. Untuk membeli makanan di toko dekat tikungan jalan yang tak lebih dari 200m dengan naik angkutan umum atau sepeda motor. Pergi ke sekolah atau kampus, sepeda motor menjadi andalah, padahal jalan kaki saja tidak lebih dari 10 menit.

Kaki kini sudah digantikan putaran roda dan deru mesin begitu terasa. Mungkin beberapa manusia sekarang yang mau diajak jalan-jalan, dengan alasan capek, tidak kuat, tidak biasa. Karena sudah dimanjakan dengan moda transportasi, seolah melemahkan kaki untuk berjalan, tetapi berbeda saat diajak jalan di dalam mall yang pengap, atau jalan utama di Singapura. Itu urusan pribadi masing-masing tentang bagaimana memperlakukan kedua kakinya.

Setelah kaki yang dilemahkan, kini mungkin jari jemari yang dilemahkan. Bicara bodo-bodohan, asal mula gadget layar sentuh ”touch screen” mungkin dari ide Pak Warto dan Bu Warti yang jualan di Warteg. Lihat saja pelanggannya dengan teknologi layar sentuh dan ”voice senser” memilih menu makanan. Dengan menekan layar ”kaca” pelanggan bisa menentukan menu dan sebarapa banyak jumlahnya. Jika salah menu maka dengan mudah mengisyaratkan tanda penolakan, dan jika berganti menu tinggal geser lalu tekan kaca. Begitu juga saat membayar, tinggal sentuh kaca takan san tekan sini geser sana geser sini, begitu mudahnya. Lantas lahirlah ponsel layar sentuh untuk memudahkan manusia memilih menunya.

Sebelum warteg, mungkin ada warung yang memaksa orang memilih menu makanannya dengan datang sendiri memilah dan memilih, istilahnya prasmanan atau swalayan. Jadi kalau mau makan tidak asal tunjuk saja, tetapi ada niatan usaha untuk mengambil sendiri. Sekarang juga demikian bertebaran ponsel-ponsel atau tablet dengan teknologi layar sentuh. Mesin ketik analog membutuhkan tekanan jemari lebih dari 100gr untuk mencetak huruf dan saya yakin, bakalan berkeringat ”cetak cetok”. Berpindah dengan papan tombol pada komputer, dengan beban 5-10gr sudah bisa membuat karakter atau mengetik. Nah dengan layar sentuh, dengan usapan saja atau tekanan lembut kurang dari 5gr sudah bisa menghasilkan karakter. Coba jika iseng-iseng di kalikan dengan kalori, makan menggunakan mesin ketik analog membutuhkan energi yang besar dibanding layar sentuh.

Bagi anda yang memakai teknologi layar sentuh, coba bandingkan dengan mesin ketik analog, rasakan perbedaannya. Sensasi tangan menari dan menghajar tombol demi tombol kini sudah digantikan dengan usapan dan sentuhan halus ”touch screen”. Betapa halus dan lembut jemari sekretaris jaman sekarang, dengan jemari yang lentik dan berkuku panjang. Berbeda dengan sekretaris jaman dahulu dengan jemari yang kekar dan kuku yang tumpul, karena setiap hari harus bertarung dengan mesin ketik analog.

Kaki dan jemari yang semakin melemah, karena teknologi. Mungkin kita akan sangat berterimakasih dengan perkembangan teknologi, tetapi apakah akan terus memanjakan dan melemahkan kita?. Teknologi hakikatnya membantu kesulitan orang dan mempermudah permasalahan, tetapi sekarang terkesan melemahkan manusia. Hitung-hitungan sederhana saja sudah menggunakan kalkulator, padahal dahulu ada metode ”awangan/mencongak” yang memaksa otak untuk berpikir keras tanpa alat bantu.

Dimana posisi tawar manusia sekarang saat berhadapan dengan segala kemudahan yang ada. Teknologi menciptakan kemalasan untuk menghadapi tiap tantangan. Bayangkan saja, untuk mengisi perut saja menunggu pinjaman sepeda motor karena malas jalan kaki dan takut kepanasan. Bagaimana jika teknologi itu tiba-tiba hilang, maka bersiap menuju ambang kepunahan. Memanfaatkan teknologi secara bijak dan terus menjaga posisi tawar manusia sebagaimana hakikat manusia seutuhnya yang memiliki kemampuan. Teknologi untuk membantu, bukan untuk melemahkan manusia. Bijaklah dan tetap jaga harga diri..

salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: cungpol!acung jemol 😀

    kan kesimpulannya seperti itu mBa….

  2. dhave29 said: makane bijak dan jaga harga diri kan…..?

    cungpol!acung jemol 😀

  3. rembulanku said: hehehe, yen bab rusak po ngadat iku lumrah wong gawean Gusti yo iso rusak po maneh gawean menungso, banyak faktor n resikotp yen sengojo mencipta teknologi kanggo gawe cilaka menungsa iku sing mbebayani bomb, virus dll kabeh cen ono sisi positif karo negatif teknologi manut tuhane yoiku menungso sing gawe lan manfaatke 😀

    makane bijak dan jaga harga diri kan…..?

  4. dhave29 said: yah…selama teknologi itu membantu sih oke mBa…lah yen malah nyilakake dan membuat susah menungsa lak cilaka toh hayo…?coba modem-mu ngadat… hayoo…apa letope mendem..hayo…?

    hehehe, yen bab rusak po ngadat iku lumrah wong gawean Gusti yo iso rusak po maneh gawean menungso, banyak faktor n resikotp yen sengojo mencipta teknologi kanggo gawe cilaka menungsa iku sing mbebayani bomb, virus dll kabeh cen ono sisi positif karo negatif teknologi manut tuhane yoiku menungso sing gawe lan manfaatke 😀

  5. yagizaaa said: KEREN!

    terimakasih…. 😀

  6. smallnote said: Ini dia kuncinya!

    KEREN!

  7. smallnote said: Ini dia kuncinya!

    tul sist….

  8. rembulanku said: lah mas, teknologi kan slogane memudahkan kehidupan manusiajajal yen ga ono hengpong, opo ndadak mlayu ngabari sedulur sing bedho panggonmasalah masels ga males kui kan pribadine dewe2imho*mbayangke ono sepatu sing iso mabur ben ora ngobahke sikil yen pengen mlaku ning tanjakan* hehehe

    yah…selama teknologi itu membantu sih oke mBa…lah yen malah nyilakake dan membuat susah menungsa lak cilaka toh hayo…?coba modem-mu ngadat… hayoo…apa letope mendem..hayo…?

  9. siasetia said: buat yang males jadi musibah tuh teknologi

    nah loh..ini pasti salah satu korbannya 😀

  10. slamsr said: itu cuma faktor ketergantungan, kebiasaan dan gaya hidup aja kok untuk mempermudah dan efisien…

    holic….kah..? kaya narkoba saja yah

  11. rirhikyu said: hmmm soal jalan kakiitu jg yg bikin sebel 🙂

    wuaduh..habis kesleo pa kakinya?

  12. dhave29 said: Bijaklah dan tetap jaga harga diri..

    Ini dia kuncinya!

  13. rawins said: semua akan serba online omsekarang pacaran lewat jejaring sosialnikah lewat teleconfrencemas kawin pake internet bankinghahehoh cukup liwat email trus diprint jadi anak…

    lah mas, teknologi kan slogane memudahkan kehidupan manusiajajal yen ga ono hengpong, opo ndadak mlayu ngabari sedulur sing bedho panggonmasalah masels ga males kui kan pribadine dewe2imho*mbayangke ono sepatu sing iso mabur ben ora ngobahke sikil yen pengen mlaku ning tanjakan* hehehe

  14. rawins said: semua akan serba online omsekarang pacaran lewat jejaring sosialnikah lewat teleconfrencemas kawin pake internet bankinghahehoh cukup liwat email trus diprint jadi anak…

    buat yang males jadi musibah tuh teknologi

  15. rawins said: semua akan serba online omsekarang pacaran lewat jejaring sosialnikah lewat teleconfrencemas kawin pake internet bankinghahehoh cukup liwat email trus diprint jadi anak…

    itu cuma faktor ketergantungan, kebiasaan dan gaya hidup aja kok untuk mempermudah dan efisien…

  16. rawins said: semua akan serba online omsekarang pacaran lewat jejaring sosialnikah lewat teleconfrencemas kawin pake internet bankinghahehoh cukup liwat email trus diprint jadi anak…

    hmmm soal jalan kakiitu jg yg bikin sebel 🙂

  17. rawins said: semua akan serba online omsekarang pacaran lewat jejaring sosialnikah lewat teleconfrencemas kawin pake internet bankinghahehoh cukup liwat email trus diprint jadi anak…

    yen gak ada setrum lewat dah semuanya hehehe 😀

  18. semua akan serba online omsekarang pacaran lewat jejaring sosialnikah lewat teleconfrencemas kawin pake internet bankinghahehoh cukup liwat email trus diprint jadi anak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...