Laundry, Ancaman di Balik Kebersihan, kelembutan dan Keharuman

Kesibukan dari aktifitas sesehari, acapkali menyita banyak waktu, sehingg awalnya pekerjaan yang bisa ditangani sendiri terpaksa harus diserahkan kepada penyedia jasa layanan. Laundry adalah salah satu penyedia jasa layanan dalam bidang cuci mencuci pakaian. Bagi mereka yang sibuk atau malas mencuci, maka laundry menjadi pilihan untuk keluar dari masalah. Adanya fenomena orang sibuk dan malas, maka menjadi lahan bisnis yang cukup menjajikan dengan menjadi penyedia jasa cucui pakaian. Menjamurlah laundry-laundry di berbagai tempat, dan salah satu yang paling banyak adalah dikawasan sekitar kampus.
Kampus menjadi sasaran empuk untuk menjalankan bisnis cuci pakaian. Mungkin kesibukan perkuliahan anak kampus, menyita sebagian waktunya untuk mencuci sendiri sehingga menyerahkan pada ahlinya. Kenyataannya dibalik padatnya waktu perkuliahan, masih ada saja waktu buat hang-ou, ke mall, main game online, pacaran atau aktivitas di luar kampus lainnya. Alasan waktu yang padat, tidak ada tempat jemuran, takut maling jemuran, hingga kawatir cat kuku mengelupas menjadi alasan para mahasiswa pergi ke laundry. Kalau di hitung-hitung, sepertinya lebih murah meriah laundry daripada harus mencuci sendiri, bahkan laundry juga menyediakan jasa antar jemput, layaknya agen perjalanan.
Menyikapi bermunculannya bisnis-bisnis cuci pakaian ini, ada permasalahan yang terpendam dan terlupakan. Banyak yang tidak berpikir apa dampak dari menjamurnya laundry-laundry yang bertebaran setiap sudut jalan. Saya mencoba mengamati dari contoh kota saya, di Salatiga, Jawa Tengah. Kota kecil dengan salah satu universitas terbesarnya menjadi ladang bisnis yang menjanjikan untuk laundry. Dari data yang di peroleh ada 14 laundry skala rumahan yang cukup besar dan tersebar di berbagai titik. Masih banyak lagi laundry-laundry dalam skala kecil rumahan yang tersebar di sekitar kost. Bahkan, untuk ukuran kosr yang cukup besar memiliki jasa laundry sendiri.
Banyaknya laundry yang bertebaran tersebut, dampak terhadap lingkungan acapkali terlupakan. Munngkin laundry untuk skala hotel dan rumah sakit sudah memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL), namun untuk skala rumahan maka lingkunganlah yang menjadi IPAL-nya. Ancaman muncul disaat lingkungan dengan daya dukung yang mulai terbatas dan ruang gerak yang semakin sempit, maka pencemaran itu yang terjadi.
Saat ini laundry skala rumahan, buangan limbahnya masuk dalam saluran selokan tanpa ada pengolahan. Dalam ukuran limbah rumah tangga, mungkin masih ada toleransi, tetapi untuk skala besar terutama limbah deterjen akan menjadi permasalah tersendiri. Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2009 tentang pengelolaan air limbah domestik, limbah laundry tidak boleh dibuang di instalasi pembuangan limbah komunal, ipal terpusat, sungai, maupun saluran air hujan, namun harus dilakukan pengelolaan limbah sendri sebelum dibuang. Kenyataan yang terjadi, limbah langsung di buang ke lingkungan. Mungkin saat ini dampak serius belum bermunculan, sehingga masih dinina bobokan dengan tindakan kejahatan lingkungan, padahal ancaman besar siap menerkam.
Secara praktis dan berprinsip ekonomi, pengusaha tidak menggunakan detergen, pewangi, dan pelembut pakaian yang dijual bebas dipasaran, mereka lebih banyak membeli dengan sistim curah. Produk-produk dipasaran dengan merk-merk yang sudah familiar, sudah memiliki sertifikasi dan pengujian terhadap dampak lingkungan yang mungkin akan di timbulkan beserta dispensasi jika menimbulkan pencemaran. Bagaimana dengan produk-produk curah yang tak jelas asal-usulnya apalagi dengan sertifikasinya.
Secara ekonomis, produk-produk curah jauh lebih murah, bersih hasilnya, lebh lembut dan wangi. Menjadi pertanyaan sekarang, produk dari pabrik besar kenapa bisa kalah dengan produk curah, pasti ada sesuatu. Katakanlah kenapa lebih wangi, pasti parfum di tambah dalam jumlah lebih banyak, atau memakai bahan sintesis dengan bau yang lebih tajam. Kenapa lebih bersih, juga harus ada tanda tanya di balik produk terkenal dengan moto “membersihkan paling bersih”. Produk-produk pabrikan saja memiliki resiko pencemar, apalagi dengan produk yang katakanlah ilegal tersebut. Konsumen sepertinya juga terbius dengan harga murah dan memiliki khasiat yang lebih ampuh dengan produk-produk pembersih dipasaran, itu kembali lagi kemasalah selera dan daya beli.
Membahas pencemaran yang ditimbulkan, makan mata ini akan tertuju, mau kemana limbah laundry tersebut. Dari selokan pasti akan ke sungai dan dari sungai pasti kelaut. Jika di perhatikan, di selokan, sungai dan laut ada mata rantai ekosistem yang tak terendus oleh mereka. Apa tidak terbayangkan, jika air limbah tersebut masuk ke sungai yang dijadikan irigasi, jangan-jangan nanti beras yang dihasilkan nampak bersih, lembut dan wangi?. Begitu jengan dengan ikan-ikan di sungai, nampak berkilauan, aroma yang tak lagi amis tetapi beraroma wangi dan lembut ditangan. Itu hanyalah imajinasi sesaat, namun jika ditilik lebih dalam jauh lebih mengerikan.
Air limbah yang di buang ke lingkungan, pasti akan masuk ke dalam sebuah sistem kehidupan, baik dari rantai makananan hingga jejaring makanan. Mungkin organisme yang kecil-kecil dan mikroskopis dahulu yang kena, lalu di makan oleh binatang yang lebih besar dan besar lagi dan berakhir di manusia. katakanlah binatang terkecil saja sudah mengkonsumsi bahan-bahan pencemar dari limbah tersebut, dan dari sistem makan-memakan maka konsumen tertinggi lah yang akan menjadi tempat pembuangan akhirnya. Akumulasi bahan-bahan pencemar, dalam tubuh yang nantinya akan menimbulkan masalah gangguan kesehatan.
Beberapa bahan tambahan pada detergen, seperti Linear Alkaly bensene Sulfonate (LAS), surfaktan, Clorin dan golongan amonium kuartener bisa menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. Golongan ammonium kuartener bisa membentuk senyawa nitrosamin yang bersifat karsinogenik, iritasi pada kulot, memperlambat proses penyembuhan dan katarak pada orang dewasa. Contoh lain adalah kandungan phospat pada detergen yang bisa menimbulkan eutrofikasi, atau ledakan alga diperairan. Contoh sederhana, busa yang ditimbulkan bisa menghambat kontak oksigen di udara dengan air, akibatnya oksigen terlarut turun dan matinya organisme perairan.
Sampai saat ini mungkin belum ada sanksi dan regulasi yang tegas dari fenomene jasa cuci pakaian yang bertebaran. Seoalah semua pihak tutup mata dan tidak peduli, sebab ada hubungan yang saling membutuhkan. Tanggung jawab pemerintah juga di pertanyakan, apakah usaha laundry tersebut memiliki ijin, kajian analisis dampak lingkungan atau sanksi yang tegas disaat benar-benar menimbulkan masalah lingkungan.
Laundry mungkin hanya sebagian kecil saja dari sumber-sumber polutan di perairan. Yang orang gembor-gemborkan biasanya dari industri besar, seperti pabrik tekstil, makanan minuman dan lain sebagainy
a, tetapi titik
api pencemaran laundry seolah tak tersentuh sama sekali. Industri besar biasanya di awasi dengan ketat dan memiliki IPAL, sedangkan laundry tak ubahnya dengan limbah rumah tangga. Ancaman lingkungan yang dininabobokan dengan kebersihan, kelembutan dan wewangian. Butuh kesadaran kita semua tentang arti penting lingkungan, penceraman ibarat dekokrasi, dari kita, oleh kita dan untuk kita.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. astonmartin126 said: salam kenal, saya berterima kasih atas artikel2 pemerhati lingkungan seperti ini. pengelolaan limbah secara industri kecil memang harus di lakukan karena, apabila tidak di kelola, usaha laundry yang makin menjamur atau bertambah banyak, juga akan berakibat penambahan limbah di lingkungan sekitar. kalo mau liat prototypenya dmn mas? ada nama alatnya? mungkin mau d share prototype nya demi lingkungan sekitar

    http://wastewater.indonetwork.co.id/593957/ipal-instalasi-pengolahan-air-limbah-komunal-sewerage.htmatau googling dengan kata kunci “comunal wash waste treatment”terimakasih dan semoga berkenansaya sudah ada prototipe sederhana, jika berkehendak email saja saya di [email protected]

  2. rawins said: mendingan londri yang bisa mijet dong om..selain buang limbah detergen, bisa buat buang limbah lain…:hammer..

    salam kenal, saya berterima kasih atas artikel2 pemerhati lingkungan seperti ini. pengelolaan limbah secara industri kecil memang harus di lakukan karena, apabila tidak di kelola, usaha laundry yang makin menjamur atau bertambah banyak, juga akan berakibat penambahan limbah di lingkungan sekitar. kalo mau liat prototypenya dmn mas? ada nama alatnya? mungkin mau d share prototype nya demi lingkungan sekitar

  3. rawins said: mendingan londri yang bisa mijet dong om..selain buang limbah detergen, bisa buat buang limbah lain…:hammer..

    gan kalo mau liat prototypenya dmn ya?? namanya apa ya? ane juga stuju sih kalo limbah harus di atur. atau mungkin sabun curahnya harus sesuai kadar jadi standart limbah sesuai ketentuan UU lingkungan.

  4. rawins said: mendingan londri yang bisa mijet dong om..selain buang limbah detergen, bisa buat buang limbah lain…:hammer..

    mbok londri namanya hehehhe

  5. dkdewi said: eh..br nyadar klo segitu besar pengaruh dari londri2 itu..bener jg ya..hmm…semoga para pemilik londri2 itu baca tulisanmu ini mas..spy mereka lbh perduli dgn efek samping limbahnya..

    di rumah samping, tulisanku menjadi kecaman malahan :(yah pro kontra sudah biasa

  6. duabadai said: duh bener juga ya, baru terpikir sekarang soal limbah laundry rumahan..

    banyak yang tak menyadari Om….

  7. kohan2282 said: kajian yang sangat mendalam… bersyukur sampe saat ini masih belum merasa perlu menggunakan jasa laundry, yang berarti saya menciptakan limbah sendiri dan urun secara langsung terhadap pencemaran itu, terus gimana om? di tutup juga usaha mikro ini… hehe 😀

    saya kira jangan di tutup, biarkan apa adanya namun ada sistem yang harus di perbaiki, terutama limbahnya.

  8. slamsr said: hmmm kalo dirumah aku pake lerak yang limbahnya bisa terurai..lumayan bisa mengurangi pencemaran..

    sekarang cari lerak dimana yah?

  9. rirhikyu said: meluncurrrrr ^^

    mendingan londri yang bisa mijet dong om..selain buang limbah detergen, bisa buat buang limbah lain…:hammer..

  10. rirhikyu said: meluncurrrrr ^^

    eh..br nyadar klo segitu besar pengaruh dari londri2 itu..bener jg ya..hmm…semoga para pemilik londri2 itu baca tulisanmu ini mas..spy mereka lbh perduli dgn efek samping limbahnya..

  11. rirhikyu said: meluncurrrrr ^^

    duh bener juga ya, baru terpikir sekarang soal limbah laundry rumahan..

  12. rirhikyu said: meluncurrrrr ^^

    kajian yang sangat mendalam… bersyukur sampe saat ini masih belum merasa perlu menggunakan jasa laundry, yang berarti saya menciptakan limbah sendiri dan urun secara langsung terhadap pencemaran itu, terus gimana om? di tutup juga usaha mikro ini… hehe 😀

  13. rirhikyu said: meluncurrrrr ^^

    hmmm kalo dirumah aku pake lerak yang limbahnya bisa terurai..lumayan bisa mengurangi pencemaran..

  14. rirhikyu said: meluncurrrrr ^^

    haaaajar sajah TKPnya….

  15. bambangpriantono said: Hmmmmm/..Gitu ya ?”

    hayoo to cak,…

  16. dhave29 said: tenang,,, ada namanya IPAL… bikinan sendiri… kok… kalo maubeli juga adahttp://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Limbahrt/limbahrt.htmlcoba siapa tahu bisa menginspirasi…. saya juga sudah ada prototype-nya yang lebih kecil dan sederhana, tapi khasiatnya sama kok. modifikasi bentuk dan ukuran tapi lebih optimal dah getu intinya

    meluncurrrrr ^^

  17. rirhikyu said: kl di kota yang rapat?

    Hmmmmm/..Gitu ya ?”

  18. rirhikyu said: kl di kota yang rapat?

    tenang,,, ada namanya IPAL… bikinan sendiri… kok… kalo maubeli juga adahttp://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Limbahrt/limbahrt.htmlcoba siapa tahu bisa menginspirasi…. saya juga sudah ada prototype-nya yang lebih kecil dan sederhana, tapi khasiatnya sama kok. modifikasi bentuk dan ukuran tapi lebih optimal dah getu intinya

  19. dhave29 said: tampung di kolam, saring, endapkan pelan-pelan (bisa tambahin lumpur aktif), trus kasih tanaman air (eceng gondok, salvina, hydrilia/ganggang) biar polutan terserap, setelah itu saring pake bio film, kasih kolam lagi dan siap di buang… sedikit banyak bisa mengurangi dampak polutannya

    kl di kota yang rapat?

  20. siasetia said: tulisan ini boleh di edaran ke para laundry?

    boleh monggo sajah….. hehehe”siap-siap tamen kalo ada yang lempar ember apa setrika”

  21. imeel said: bner jg yah, limbahnya tuh bisa merusak ling & ekosistim yg lain2…*btw sy jg sering pakai jasa mrk utk setrika…klo nyuci lbh sreg dicuci sendiri 🙂

    yups..kadang kita tidak sadar sajah hehehhe

  22. siasetia said: cuci murmer aja mas dhave….

    pake super busa,,,,batangan hehehehe

  23. rirhikyu said: So saran buat laudry, gimana cara pengolahan limbahnya?

    tampung di kolam, saring, endapkan pelan-pelan (bisa tambahin lumpur aktif), trus kasih tanaman air (eceng gondok, salvina, hydrilia/ganggang) biar polutan terserap, setelah itu saring pake bio film, kasih kolam lagi dan siap di buang… sedikit banyak bisa mengurangi dampak polutannya

  24. pennygata said: maksudnya mengolah sendiri itu kudu punya bak penampung gitu ya, yg dikasih seperti filter, dr batu2 atau sabut atau apalah, disaring disitu baru dibuang ke luar?kayaknya dr mgkn jutaan yg punya laundry diindonesia yg besar terdaftar maupun yg kecil dan liar, gak punya itu yg namanya bak penampung…masalahnya jg, kayaknya ndak ada peraturan yg ngatur dr awal…misal, kalo mau buka laundry harus ada bak penampung dulu, atau gimana..biasa toh… kalo udah kejadian baru ribut… =_=’ ya bgtulah..

    iya ya…

  25. pennygata said: maksudnya mengolah sendiri itu kudu punya bak penampung gitu ya, yg dikasih seperti filter, dr batu2 atau sabut atau apalah, disaring disitu baru dibuang ke luar?kayaknya dr mgkn jutaan yg punya laundry diindonesia yg besar terdaftar maupun yg kecil dan liar, gak punya itu yg namanya bak penampung…masalahnya jg, kayaknya ndak ada peraturan yg ngatur dr awal…misal, kalo mau buka laundry harus ada bak penampung dulu, atau gimana..biasa toh… kalo udah kejadian baru ribut… =_=’ ya bgtulah..

    tulisan ini boleh di edaran ke para laundry?

  26. pennygata said: maksudnya mengolah sendiri itu kudu punya bak penampung gitu ya, yg dikasih seperti filter, dr batu2 atau sabut atau apalah, disaring disitu baru dibuang ke luar?kayaknya dr mgkn jutaan yg punya laundry diindonesia yg besar terdaftar maupun yg kecil dan liar, gak punya itu yg namanya bak penampung…masalahnya jg, kayaknya ndak ada peraturan yg ngatur dr awal…misal, kalo mau buka laundry harus ada bak penampung dulu, atau gimana..biasa toh… kalo udah kejadian baru ribut… =_=’ ya bgtulah..

    bner jg yah, limbahnya tuh bisa merusak ling & ekosistim yg lain2…*btw sy jg sering pakai jasa mrk utk setrika…klo nyuci lbh sreg dicuci sendiri 🙂

  27. pennygata said: maksudnya mengolah sendiri itu kudu punya bak penampung gitu ya, yg dikasih seperti filter, dr batu2 atau sabut atau apalah, disaring disitu baru dibuang ke luar?kayaknya dr mgkn jutaan yg punya laundry diindonesia yg besar terdaftar maupun yg kecil dan liar, gak punya itu yg namanya bak penampung…masalahnya jg, kayaknya ndak ada peraturan yg ngatur dr awal…misal, kalo mau buka laundry harus ada bak penampung dulu, atau gimana..biasa toh… kalo udah kejadian baru ribut… =_=’ ya bgtulah..

    cuci murmer aja mas dhave….

  28. pennygata said: maksudnya mengolah sendiri itu kudu punya bak penampung gitu ya, yg dikasih seperti filter, dr batu2 atau sabut atau apalah, disaring disitu baru dibuang ke luar?kayaknya dr mgkn jutaan yg punya laundry diindonesia yg besar terdaftar maupun yg kecil dan liar, gak punya itu yg namanya bak penampung…masalahnya jg, kayaknya ndak ada peraturan yg ngatur dr awal…misal, kalo mau buka laundry harus ada bak penampung dulu, atau gimana..biasa toh… kalo udah kejadian baru ribut… =_=’ ya bgtulah..

    So saran buat laudry, gimana cara pengolahan limbahnya?

  29. pennygata said: maksudnya mengolah sendiri itu kudu punya bak penampung gitu ya, yg dikasih seperti filter, dr batu2 atau sabut atau apalah, disaring disitu baru dibuang ke luar?kayaknya dr mgkn jutaan yg punya laundry diindonesia yg besar terdaftar maupun yg kecil dan liar, gak punya itu yg namanya bak penampung…masalahnya jg, kayaknya ndak ada peraturan yg ngatur dr awal…misal, kalo mau buka laundry harus ada bak penampung dulu, atau gimana..biasa toh… kalo udah kejadian baru ribut… =_=’ ya bgtulah..

    aturannya sudah ada Sist…. tapi belum tersampaikan dan mereka tidak tahu.yah seperti itu kira-kira model pengolahannya, jadi sedikit lebih aman sebelum di buang ke lingkungan.nah ntar baru kalo sudah merasakan baru dah teriak

  30. maksudnya mengolah sendiri itu kudu punya bak penampung gitu ya, yg dikasih seperti filter, dr batu2 atau sabut atau apalah, disaring disitu baru dibuang ke luar?kayaknya dr mgkn jutaan yg punya laundry diindonesia yg besar terdaftar maupun yg kecil dan liar, gak punya itu yg namanya bak penampung…masalahnya jg, kayaknya ndak ada peraturan yg ngatur dr awal…misal, kalo mau buka laundry harus ada bak penampung dulu, atau gimana..biasa toh… kalo udah kejadian baru ribut… =_=’ ya bgtulah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Air, Sumber Kehidupan atau Ancaman

Saya teringat teman saya yang tetiba mengurungkan niatnya untuk membasuh muka manakala saya menunjukan sumber airnya. Tidak hanya murung, dia sepertinya merasa mual, sebab dia ...