Caraku Bermesraan dengan Alam

Entah apa yang terpikir di benak ini, sehingga apa yang saya lakukan aneh dimata orang. Memang kalau tidak kontroversial, tidak akan disebut kurang kerjaan. Dilain tempat mungkin sudah biasa, namu ditempat lain akan luar biasa, kata pepatah lain ladang lain ilalang. Intinya harus menjadi diri sendiri untuk memuaskan hasrat yang terus meletup-letup di angan. Berani memutuskan lalu ekseskusi dalam tindakan. Biar aneh kata orang, yang penting saya senang.

Pagi ini hampir 15km jalanan setapak sudah terlewati. Lewat jalan kampung, kebun, hutan, sungai, dari berjalan, merayap, merangkak, berlari, bahkan hingga melompat. Bagi anda ini kurang kerjaan dan menghambur-hamburkan waktu dan energi. Banyak yang menilai, ah ini orang sinting, ini orang kurang kerjaan, walah pamer kekuatan atau masih banyak kata yang lain, yang pasti orang rumah ngomel-ngomel tidak karuan.

Lari lintas alam, atau apalah namanya menjadi pilihan disaat berlari dijalan raya sudah tidak dijamin keselamatannya. Pengendara sudah tidak bisa membedakan mana orang mana barang atau hewan. Nah kalau dijalan setapak, masih bisa dibedakan mana orang mana pupuk kandang. Lewat jalan kampung, kebun dan hutan, udara yang bersih, sejuk dan mata ini segar sekali dan paru-paru bersih. Rasa lelah tak terasa sama sekali disaat hati ini bisa menikmati, otak segar kembali dan kedua kaki tak kalah menikmati.

Iseng saja ingin berlarian diantara hutan pinus yang berjarak 7KM dari rumah. Tak ada angkutan atau kendaraan umum, yang ada hanyalah jalanan setapak. Hanya tegur sapa petani yang terus menyapa setiap kali bertatap muka. Disaat memasuki hutan, hanya sapa jaring laba-laba yang tersangkut dimuka, sebagai welcome drink ”selamat anda orang pertama yang lewat sejak saya membuat sarang” demikian kata laba-laba.

Embun pagi nembus sela-sela kaki yang terbungkus sepatu lari, sebuah sensasi yang acapkali dicari. Sapa burung-burung dengan kicuan merdu, terus menyambuat langkah kaki yang terus menapaki jalan. Lichens si Lumut Kerak nampak tertawa disaat kaki terpeleset karena licin dan kehilangan friksi. Sinar mantari menembus sela-sela jemari pepohonan yang membentuk ray of light. Keindahan pagi ini, saya nikmati sendiri, dan sepertinya banyak yang iri ”salah siapa”.

Pagi yang menyenangkan ditengah hawa kesejukan. Pagi yang indah dibawah langit yang cerah. Menjadi tanda tanya, kapan suasana ini akan terus ada, jika kapan-kapak mulai menghujam kayu-kayu dihutan sana. Deru motor 2tak modifikasi yang mengaku petualang, membelah kesunyian hutan. Ataukah muda-mudi yang berjajar dipinggir hutan, berpasang-pasang mengumbar kemesraan. Saya sadar, mereka dan saya menikmati anugerah alam dengan caranya sendiri. Saya yang kaum papa hanya mengandalkan kedua kaki untuk berjalan. Mereka yang mengandalkan hutan sebagai mata pencaharian dengan melakukan penebangan. Para bikers dengan suara mesin meraung-raung yang menggemparkan isi hutan menganggap ini petualangan. Bahkan mereka yang mabuk kasmaran, disela-sela semak dan dedauanan.

Masih bilang saya kurang kerjaan, atau akan bilang pada perambah hutan itu sebuah kerjaan, bagaimana dengan pengendara motor trail jadi-jadian dengan sebutan petualang dan dua sejoli dengan cinta terlarang. Ah itu semua hanyalah retorika belaka, yang baik adalah jadi diri sendiri, nikmati, jangan sesali, syukuri dan pertanggung jawabkan. Mari berlari, nikmati hutan ini dengan kedua kaki agar tahu apa itu harmoni dan kehidupan. Jangan lukai mereka dengan tindakan demi uang, petualangan atau kemesraan.

Salam

DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. udelpot said: dan lutut kanan, keselo saat berlompat2an mengejar bayang rembulan.. lutut kiri, ndelosor saat berkendara di jalur ngadas.. wahahahahaha

    wahaha….yen iku berlari di padang ilalang Ki….hehhehehe

  2. brotherihda said: klo aku sukanya cukup jalan sante aja berjam-jam nyusuri hutan,hhe

    kalo udah ngos2an ya…. jalan Mas,,,, ;p

  3. rembulanku said: yen bermesraan ora dewekan dadi aku iso ngomong ayo bermesraan berjamaah….*kaploki berjamaah*

    wah bisa juga mBa…..

  4. duabadai said: kalo saya tiap kali berkunjung ke daerah baru, pasti menyempatkan diri melepas sepatu/sandal, membiarkan kaki saya menjejak tanah dimana saya berada saat itu 🙂

    wah itu…wajib Mas

  5. siasetia said: pastinya jarang mandi tuh :p

    2kali sehari..aer anget kok

  6. smallnote said: Jadi ingat puisinya Dian Sastro. :-))

    aku berlari kehuta..pecahkan beling-belingnya

  7. rawins said: lama banget aku ga keluyuran gunungkalopun sekarang suka masuk hutan, rasanya beda karena itu tuntutan pekerjaankangen rasanya duduk di puncak sambil menunggu matahari terbit

    saya tunggu OM… di borneo alas tokk ya…. Kinabalu yoook

  8. dan lutut kanan, keselo saat berlompat2an mengejar bayang rembulan.. lutut kiri, ndelosor saat berkendara di jalur ngadas.. wahahahahaha

  9. klo aku sukanya cukup jalan sante aja berjam-jam nyusuri hutan,hhe

  10. yen bermesraan ora dewekan dadi aku iso ngomong ayo bermesraan berjamaah….*kaploki berjamaah*

  11. kalo saya tiap kali berkunjung ke daerah baru, pasti menyempatkan diri melepas sepatu/sandal, membiarkan kaki saya menjejak tanah dimana saya berada saat itu 🙂

  12. pastinya jarang mandi tuh :p

  13. Jadi ingat puisinya Dian Sastro. :-))

  14. lama banget aku ga keluyuran gunungkalopun sekarang suka masuk hutan, rasanya beda karena itu tuntutan pekerjaankangen rasanya duduk di puncak sambil menunggu matahari terbit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bonn Challenge 2017, Restorasi Bagi Lingkungan Kritis dan Terdegradasi

Bonn-Jerman, adalah salah satu kota tempat kelahiran maestro musik nan legendaris yakni Ludwig van Beethoven pada tahun 1770. Kota yang terletak di tepi sungai Rhein ...