Air Terjun Kedung Kayang, 3 Mahasiswa Meninggal Terseret Arus Sungai Pabelan

Pagi ini (6/1/2012), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga dan Universitas Katolik Soegija Pranoto (UNIKA), Semarang berduka diawal semester. 2 mahasiswa dari Pendidikan Matematika UKSW dan 1 Mahasiswa UNIKA wafat di Sungai Pabelan. SUngai yang berhulu di Barat Laut Gunung Merapi, memiliki patahan sehingga membentuk air terjun. Air terjun yang dikenal dengan nama Kedung Kayang, menjadi salah satu obyek yang menarik karena berada di jalur SOSEBO (Solo, Selo, Borobudur). Lokasinya yang dekat dengan Gardu Pandang Ketep Pass membuat pengunjung sekalian berkunjung ke wisata air terjun.

Lokasi air terjun yang tak jauh dari jalan besar memudahkan akses menuju lokasi. Dari atas lembah air terjun sudah bisa dinikmati, tetapi bagi mereka yang ingin lebih dekat bisa turun ke lembah, lalu masuk ke sungai dan menyusurinya sekitar 300m untuk sampai di bawah air terjuannya. Dihari-hari biasa, air terjun Kedung Kayang memiliki aliran yang deras, terlebih lagi dengan gemuruh hantaman air dari atas tebing. Akses menuju lokasi air terjun dengan menyusuri sungai dengan melewati celah-celah bebatuan vulkanis menjadi daya tarik sendiri, sehingga banyak pengunjung yang tak melewatkanya. Berangkat dari menyusuri air sungai Pabelan untuk menuju dasar Air Terjun menjadi awal tragedi yang menewaskan 3 mahasiswa.

Menurut Sisca, teman korban, mereka berdelapan hendak menuju ke air terjun Kedung Kayang (5/1/2012). Mereka berdelapan menyusuri sungai Pabelan, kebetulan saat itu usai hujan lebat. Tiba-tiba debit air meningkat dan semakin deras, karena panik segera mencari tempat berlindung. Akhirnya diputuskan untuk menyeberang sambil berpegangan tangan, dan Ketika korban berada di barisan paling depan. Arus air yang semakin kuat dan debit yang semakin tinggi menyeret mereka hingga terjatuh, dan tangan Sisca tak kuat memegangi Deby. Akhirnya mereka terseret arus, walau sudah di tolong beberapa warga yang mengulurkan tali tak dapat menolong korban. Akhirnya korban di temukan di bendungan pabelan dalam keadaan meninggal. 2 Korban kakak beradik, Natan dan Deby, sedangkan Dwi teman dekat Natan sangat memukul teman-teman seperjalannya.

Kecelakaan serupa, banyak terjadi di tempat-tempat wisata alam, khususnya Air Terjun. Ketidak tahuan pengunjung membaca tanda-tanda alam bisa menjadi faktor penyebab kecelakaan tersebut. Hujan di hulu menjadi indikator bahwa prinsip air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah dan terakumulasi. Kondisi bentang alam yang spesifik seperti Air terjun Kedung Kayang adalah aliran sungai yang dilewati material lahar dingin Gunung Merapi. Bahaya berlipat kali ganda saat disungai, selain aliran air, ikut terbawa juga pasir, kerikil, dan batu-batu besar yang alirannya tak terkendali. Potensi bahaya yang harus menjadi perhatian bersama, khususnya pengelola dan pengunjung. Adanya peringatan dini akan potensi bahaya tempat wisata bisa mencegah kecelakaan, yakni dengan menutup sementara sampai kondisi benar-benar aman.

Dalam kondisi berduka, tidak etis jika mencari siapa yang salah dan menjadi kambing hitam. Semestinya belajar dari tiap tragedi agar tidak terjadi kejadian serupa. Ketegasan pengelola dalam menentukan status lokasi wisata dan kesadaran pengunjung akan potensi bahaya adalah tindakan bijak agar terhindar dari celaka. Tak selamanya tempat wisata menjadi tempat yang menyenangkan, acapkali menjadi tempat yang mengerikan. Pelajaran berharga buat kita semua dan kiranya tidak terulang lagi kejadian serupa. Turut berbela sungkawa buat Natananel, Dwi dan Deby, Tuhan beserta kalian.

Dari berbagai sumber

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. chris13jkt said: Turut berduka atas meninggalnya para mahasiswa ini,

    makasih Om…

  2. poniyemsaja said: Ndherek belasungkawa nggih…. (btw, sepertinya ada sedikit ralat untuk tahunnya.. 2012, bukan 2001)

    iyah ghegege ralat deh mnakasiuh mBa

  3. laurentiadewi said: may their soul rest in peace..

    ameen

  4. rembulanku said: nderek bela sungkawa…btw, iku foto terakhir sing jenenge kali pabelan?kethoke watu thok ga kethok banyune…*rak nyana*

    itu foto jadul hanya untuk deskripsikan saja

  5. rudal2008 said: Turut berdukacita atas kepergiannya. Semoga menjadi peringatan untuk teman-teman yg ditinggalkannya.

    pelajaran berharga Om…

  6. ohtrie said: ahhhh…kabar pagi tadi yang kudenger ternyata benar ta Kang Dhanang, dan mereka teman2muuu…?Hemmm, #menunduklesuTurut berduka kanggg… ūüôĀ

    satu almamater Mas…

  7. smallnote said: Maut pun bisa begitu dekat ketika kita merasakannya ia sangatlah jauh.

    saapa yang dapat menduga…

  8. siasetia said: hmmm tidak ada rambu kah?

    belom…kayae

  9. Turut berduka atas meninggalnya para mahasiswa ini,

  10. Ndherek belasungkawa nggih…. (btw, sepertinya ada sedikit ralat untuk tahunnya.. 2012, bukan 2001)

  11. may their soul rest in peace..

  12. nderek bela sungkawa…btw, iku foto terakhir sing jenenge kali pabelan?kethoke watu thok ga kethok banyune…*rak nyana*

  13. Turut berdukacita atas kepergiannya. Semoga menjadi peringatan untuk teman-teman yg ditinggalkannya.

  14. ahhhh…kabar pagi tadi yang kudenger ternyata benar ta Kang Dhanang, dan mereka teman2muuu…?Hemmm, #menunduklesuTurut berduka kanggg… ūüôĀ

  15. Maut pun bisa begitu dekat ketika kita merasakannya ia sangatlah jauh.

  16. hmmm tidak ada rambu kah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bonn Challenge 2017, Restorasi Bagi Lingkungan Kritis dan Terdegradasi

Bonn-Jerman, adalah salah satu kota tempat kelahiran maestro musik nan legendaris yakni Ludwig van Beethoven pada tahun 1770. Kota yang terletak di tepi sungai Rhein ...