Lupakan Gelar dan IPK4, tak Ada Guna Kawan…!

Bangku pendidikan, entah aras sekolah, universitas atau tempat kursus pasti mempunyai tujuan untuk menciptakan lulusan yang cerdas. Indikator cerdas biasanya lewat data kuantitatif berupa nilai rapor, IPK dan sejenisnya, namun tak kalah penting adalah segi kualitatif. Tindak ada garansi prestasi kuantitatif tinggi mampunyai kualitas yang baik pula, begitupula sebaliknya. Saat ini masih saja ada yang percaya angka-angka keramat dalam ijazah tanpa memperhatikan sisi kualitatif, sehingga mereka yang mempunyai skill tinggi harus tersingkir dengan mereka yang nilai tinggi.

Apa makna dibalik angka yang indah dan nyaris sempurna, jika kenyataannya tidak demikian?, sangat ironis sekali tentunya. Entah apa yang terpikir mereka yang melihat profil lulusan dari selembar kertas dengan deretan angka-angka tanpa menimbang sisi skill dan bakat sebenarnya. Sungguh menyesakan, terkadang orang yang salah berhasil menempati tempat yang salah, lihat saja profil-profil PNS yang tak jelas latar belakangnya.

Lupakan PNS yang tak jelas, sekarang masuk dalam dunia pendidikan. Ironis sekali jika dikampus, sekolahan disediakan sarana namun tak digunakan. Saya punya teman, kuliah kaya masuk jalan tol, lempeng, lurus, tanpa hambatan dan akhirnya finis tepat 4 tahun dan paska sarjana kurang dari 2 tahun, sekarang jadi apa coba? ”gendong anak, kasur, dapur, sumur dan mujur”. Kasihan sekali, seolah kepintaran dan ketepatan waktu kuliah sia-sia dan hanya sebatas angka belaka. Entah apa yang terpikir diotaknya waktu kuliah dulu, jangankan ikut dalam aktifitas kemahasiswaan, diajak nongkrong saja tidak mau. Kesehariannya hanya kuliah, belajar, dikost, tidur, makan, kamar mandi dan seperti itu selama 6 tahun lalu nikah dan jadi simbok rumah tangga.

Sebelas dua belas dengan teman 1nya, kuliah tak jelas, IPK konsisten di angka 2,1, dan akhirnya putus kuliah, namun sekarang jadi juragan. Lihat profilnya sebagai aktifis mahasiswa, hobi gaul, nongkrong jadi agenda wajib, demo tak pernah absen, panitia kegiatan selalu tampil dan beragam kegiatan lainya. Malam jarang tidur, makan tak teratur, gaya hidup semrawut, namun sisi baiknya apa yang dia dapat selama kuliah benar-benar matang dan nyaris sempurna. Lobi-lobi sangat handal, ide-ide sangat cemerlang, inspiratif dan bagusnya lagi bisa mengkoordinasi orang. Akhirnya dirasa ilmu cukup, keluar kampus dan bikin usaha. Kini saya bilang eksekutif muda tanpa gelar sarjana, tapi layak sudah dapat gelar master dibidangnya. Tawaran menduduki kursi empuk dibeberapa perusahaan ditampiknya dan tetap menjadi dirinya sendiri, serta terus berjuang dengan kedua kakinya.

Masih percayakah dengan angka-angka keramat yang kadang tidak bisa diterjemahkan pemiliknya?. Saya tak yakin dengan nilai A dimata kuliah saya, karena nilai C terlalu besar buat saya. Kini persetan dengan angka-angka itu, saya lebih percaya dengan apa yang saya bisa kerjakan dan untuk berkarya. Tidak urusan dengan mereka yang mengejar cumlaode, karena tak akan dibawa kemana-mana. Hanya kepakaran, kemampuan kita yang selalu akan dibawa dimanapun berada, ijazah IPK4 hanya akan tersimpan rapi di map seolah tak ada arti jika tak bisa mempertanggungjawabkan. Mau lewat jalan tol, ataukah mengarungi kerasnya jalan yang berliku…? terserah anda, saya tetap mendaki gunung dan akan berhenti saat sudah sampai.

salam
DhaVe

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. marifhidayat said: sebenarnya kuliah itu sangatlah penting, karena dengan kuliah kita akan tau bahwa sebenarnya kuliah tidak penting

    bener juga ya mas….

  2. slamsr said: mas dhave kapan lulus? hehe

    sebenarnya kuliah itu sangatlah penting, karena dengan kuliah kita akan tau bahwa sebenarnya kuliah tidak penting

  3. slamsr said: mas dhave kapan lulus? hehe

    kapan..kapan…..hahahamasih menimati di lab kok

  4. rengganiez said: lha yoooo….emang urusane wis hidup mati. Direwangi mati2an ngejar angka

    iyah….sampe..sampe berbuta diluar logika dan mengharao mukjizat

  5. dhave29 said: nah loh…. realita kan…. hidup mati di angka kan….?

    mas dhave kapan lulus? hehe

  6. dhave29 said: nah loh…. realita kan…. hidup mati di angka kan….?

    lha yoooo….emang urusane wis hidup mati. Direwangi mati2an ngejar angka

  7. 3ojo said: sabar2…, nggak sumuanya kaya gitu…. ada juga yang seimbang antara IPK dan karier. yang jelas saya sangat setuju IP nggak jaminan yang penting profesional di bidangnya……

    idelanya kan begitu Om…hehehe

  8. rengganiez said: sayange malah pendidikan saiki semakin mendewakan angka2 itu.korban UN wis pirang2

    nah loh…. realita kan…. hidup mati di angka kan….?

  9. dieend18 said: Saya milih ikut naik gunung aja ya 😀

    yuuk mareee mba

  10. mupengml said: suka sama komeng inih 😀

    sayange malah pendidikan saiki semakin mendewakan angka2 itu.korban UN wis pirang2

  11. mupengml said: suka sama komeng inih 😀

    Saya milih ikut naik gunung aja ya 😀

  12. mupengml said: suka sama komeng inih 😀

    sabar2…, nggak sumuanya kaya gitu…. ada juga yang seimbang antara IPK dan karier. yang jelas saya sangat setuju IP nggak jaminan yang penting profesional di bidangnya……

  13. mupengml said: suka sama komeng inih 😀

    laikthis

  14. rudal2008 said: Menarik sekali sharingnya Mas, Terus berkarya dan sukses selalu.

    amiiin dah….amin

  15. smallnote said: Toh saya kuliah hanya untuk bermain, bukan belajar dalam arti yang sesungguhnya. 🙂

    saya malah bereskperimen dan liburan…..

  16. poniyemsaja said: jadi ibu rumah tangga tu juga bukan hal yg mudah lho.. Sampai-sampai ndak ada satupun sekolah yg berani buka jurusan “Pendidikan Ibu Rumah Tangga”… Dan menurutku tidaklah sia-sia bila seorang wanita memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, meskipun memiliki gelar yang puanjang, karena itu sudah pilihan hidup dan salah satu bentuk rasa syukurnya…

    saya kiran bukan pilihan… tetapi realita….. kalo boleh memilih saya kira ada yang lebih baik jika dilihat dari latar belakangnya.IMHO

  17. rirhikyu said: memang IPK ga guna :)btw, kl yang soal si cewe, ntar gunanya buat si anak so maybe kudunya kasih contoh yang cowo en cowo :))

    hahaha….bener juga ya…..IP bikin sendiri ajah

  18. edwinlives4ever said: Good attitude.School is overrated. Education is not, and education is not school’s monopoly.

    tenkyuh..sangeeed

  19. poniyemsaja said: jadi ibu rumah tangga tu juga bukan hal yg mudah lho.. Sampai-sampai ndak ada satupun sekolah yg berani buka jurusan “Pendidikan Ibu Rumah Tangga”… Dan menurutku tidaklah sia-sia bila seorang wanita memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, meskipun memiliki gelar yang puanjang, karena itu sudah pilihan hidup dan salah satu bentuk rasa syukurnya…

    Menarik sekali sharingnya Mas, Terus berkarya dan sukses selalu.

  20. poniyemsaja said: jadi ibu rumah tangga tu juga bukan hal yg mudah lho.. Sampai-sampai ndak ada satupun sekolah yg berani buka jurusan “Pendidikan Ibu Rumah Tangga”… Dan menurutku tidaklah sia-sia bila seorang wanita memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, meskipun memiliki gelar yang puanjang, karena itu sudah pilihan hidup dan salah satu bentuk rasa syukurnya…

    suka sama komeng inih 😀

  21. dhave29 said: Kini persetan dengan angka-angka itu, saya lebih percaya dengan apa yang saya bisa kerjakan dan untuk berkarya.

    Toh saya kuliah hanya untuk bermain, bukan belajar dalam arti yang sesungguhnya. 🙂

  22. dhave29 said: Kini persetan dengan angka-angka itu, saya lebih percaya dengan apa yang saya bisa kerjakan dan untuk berkarya.

    jadi ibu rumah tangga tu juga bukan hal yg mudah lho.. Sampai-sampai ndak ada satupun sekolah yg berani buka jurusan “Pendidikan Ibu Rumah Tangga”… Dan menurutku tidaklah sia-sia bila seorang wanita memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, meskipun memiliki gelar yang puanjang, karena itu sudah pilihan hidup dan salah satu bentuk rasa syukurnya…

  23. dhave29 said: Kini persetan dengan angka-angka itu, saya lebih percaya dengan apa yang saya bisa kerjakan dan untuk berkarya.

    memang IPK ga guna :)btw, kl yang soal si cewe, ntar gunanya buat si anak so maybe kudunya kasih contoh yang cowo en cowo :))

  24. dhave29 said: Kini persetan dengan angka-angka itu, saya lebih percaya dengan apa yang saya bisa kerjakan dan untuk berkarya.

    Good attitude.School is overrated. Education is not, and education is not school’s monopoly.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...