Sandiwara Sepak Bola yang Penuh Tipuan

Akhir pekan kemarin melihat pertandingan sepak bola, baik liga-liga Eropa maupun yang ada di Tanah Air. Jika dibilang menarik, semua menarik dan tak kalah seru, katakanlah Arsenal Vs Mu sama menariknya Persela Vs PSAP. Semua tegang, penuh emosi dan tensi tinggi menyelimuti pertandingan. Beberapa penikmat si kulit bundar hanya berharap gol yang terjadi, ada juga yang lebih cerdas dengan melihat pola-pola permainannya, atau hanya sekedar basa-basi mengikuti suasana biar tidak dikatakan ”hari gini nonton sinetron, ntuh bola pantengin”.

Dibalik aksi 2x45menit, banyak kejadian-kejadian unik yang terkadang membuat jengkel, geram gemas bahkan tak simpatik sama sekali. Lupakan aksi Pepe yang menginjak tangan Messi, sebab aksi tersebut memang patut disesalkan dilapangan hijau. Namun, aksi-aksi tak sportif ini jauh lebih menjengkelkan dan kalau saya bilang jauh tak layak di lapangan hijau. Mungkin kejadian ini hanya di liga Indonesia, sebab liga Eropa tak banyak yang melakukannya. Kejadian yang menurut saya dibuat-buat, mengada-ada, seolah mencari empati ternyata hanya ulah mereka yang tak punya nyali dan berjiwa sportif.

Lihat saja aksi-aksi menggemaskan pemain, saat pura-pura sakit atau cidera di lapangan, seolah ada yang patah, robek, atau apalah biar terkesan parah. Disaat tim medis masuk lapangan, dengan tas berisi peralatan medis dan 4 orang dengan membawa tandu, tiba-tiba pemain sehat dan bisa berdiri lalu jalan dengan gaya terpincang, usai itu lari kencang. Belum lagi penjaga gawang saat ada kemelut, sedikit tersenggol saja, lalu berguling-guling tak karuan sambil memegang bagian yang sakit. Aksi tersebut disertai melepas sarung tangan, atau tali sepatu hingga tim medis datang, dan ajaibnya hanya beberapa sentuhan langsung segar bugar kembali. Anehnya lagi, masih saja sibuk betulin sarung tangan, usai itu teriak pada libero ”oww…tolong ikat tali sepatu”.

Masih banyak aksi yang penuh trik, tipuan, kepura-puraan bahkan kebohongan. Mungkin jika diving dikotak penalti jelas tujuannya untuk mendapat belas kasihan sang pengadil, bagaimana jika diving tersebut hanya untuk tujuan yang lain.? Sebelum belum pertandingan di gelas bendera bertuliskan ”fair play game” ada juga tulisan Dicipline, Sportif dan pesan moral yang lain, namun dilapangan hijau semua bisa berubah. Lihat saja, disaat tim sudah menang tipis dan waktu mendekati menit-menit akhir, ada saja tindakan kurang baik dilakukan. Istilahnya mungkin mendelay waktu; pura-pura cidera, berjalan pelan saat pergantian pemain, kiper menunda menendang dengan ancang-ancang jauh dibelakang gawang dan pura-pura mengatur, masih banyak trik-trik tersebut.

Menit-menit akhir adalah yang menegangkan dan menarik, tetapi saat dinodai tindakan tak sportif dengan mendelay waktu seolah menciderai kemenangan itu sendiri. Terlebih yang sedikit tersentuh lalu jatuh, pura-pura pincang habis itu bisa lari kencang. Katakanlah liga-liga eropa, seperti Spanyol, Italia, dan Inggris jarang ditemukan kejadian demikian. Istilahnya liga di Eropa sana, pemainnya lebih spartan, sepertinya jarang ditemukan kepura-puraan. Jatuh, terjembab, berguling, menggelepar masih saja bangkit dan berlari walau akhirnya roboh juga diatas rumput. Berbeda dengan mereka yang mengharap belas kasihan wasit untuk meniup peluit, dengan berpura-pura cidera parah, sehingga waktu bisa sedikit berhenti biar semua bisa ambil nafas, minum atau berbincang mengatur strategi.

Kejadian kepura-puraan yang acapkali terekam kamera seharusnya menjadi efek jera dan pembelajaraan, namun masih saja terulang. Bagaimana aksi bodo David Beckahm yang menendang Diego Simeone, sundulan Materazi pada Zidane menjadi contoh buruk, namun sepertinya tak ada kejadian serupa. Nah liga-liga kita, seprtinya tak bisa belajar dari mereka, apa tidak malu ketahuan pura-pura. Lapangan hijau layaknya panggung sandiwara atau laga Kurusetra, pertarungan sportifitas yang dibumbui kecurangan dan kepura-puraan. Banyak aktor lapangan hijau dan pantas saja hiburan tersebut penuh intrik, tetapi penonton cerdas bisa menilai siapa saja yang curang. Menariknya sepak bola negeri kita, sudah kisruh masih saja ada dusta dibalik sandiwara, majulah Liga Indonesia.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rembulanku said: btw, jaman sekarang atlet juga harus pandai bersandiwara lhosiapa tahu kalo dah ga laku di bid. olah raga bisa terjun banting stir ke dunia entertainxixixi…. kek tuh sapa pemain bola yg jadi lebih kondang main iklan ketimbang prestasi sepak bolanya sendiri 😛 IMHO

    bener juga ya….

  2. rembulanku said: rak seneng nonton bal2an

    bukan komunitasnya kali

  3. henidebudi said: Ada2 ajah ya..

    btw, jaman sekarang atlet juga harus pandai bersandiwara lhosiapa tahu kalo dah ga laku di bid. olah raga bisa terjun banting stir ke dunia entertainxixixi…. kek tuh sapa pemain bola yg jadi lebih kondang main iklan ketimbang prestasi sepak bolanya sendiri 😛 IMHO

  4. henidebudi said: Ada2 ajah ya..

    rak seneng nonton bal2an

  5. henidebudi said: Ada2 ajah ya..

    emang ada kok…

  6. rawins said: asal pemain sandiwaranya jangan udin halid om…

    itu sutradaranya Om…

  7. asal pemain sandiwaranya jangan udin halid om…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...