Ancaman Dibalik Kamuflase Makanan dan Minuman

Panca indera tercipta untuk menerima, dan membedakan rangsang dari apa yang didengar, dikecap, diraba, dilihat dan dicium. Setiap hari kita akan selalu berhadapan dengan benda-benda yang mengharuskan panca indera untuk menguji dan memutuskan. Bagaiaman jika benda-benda tersebut dimanipulasi untuk menipu panca indera dan apa akibatnya bagi tubuh manusia. Contoh paling sederhana dalam keseharian kita adalah makanan dan minuman, yang acapkali dimanipulasi untuk menipu panca indera kita.

Dimedia masa pernah ditayangkan, gorengan yang diproses dengan menambahkan plastik dan lilin. Katakanlah mendoan yang digoreng dicampur dengan lilin dan plastik. Telinga kita akan merasa betapa renyahnya dengan suara ”kriuk-kriuk”, mata melihat betapa mengkilapnya, hidung mencium sedapnya bumbu-bumbu, lidah merasakan lezatnya dan tangan meraba betapa mantapnya. Memang sangat susah membedakan hidangan dipasaran mana yang baik mana yang dicurangi, bahkan pelaku berlomba-lomba untuk menyamarkan dengan sempurna. Apabila orang dewasa saja kesulitan mana makanan yang baik mana hasil produk yang diakali, bagaimana dengan anak-anak kecil yang belum mengerti dan memahami permasalahannya.

Rasa, aroma dan warna saat ini sangat mudah untuk dimanipulasi dari bahan aslinya atau alaminya. Untuk menciptakan rasa, aroma dan warna tertentu sudah tersedian bahan-bahan kimia sintetis dipasaran. Pabrik-pabrik pembuat bahan perisa, pewarna dan aroma sintetis dengan mudahnya memproduksi. Sasaran produknya adalah pembuat makanan atau minuman. Apabila bahan-bahan sintetis tersebut dibuat dipabrik yang resmi, tentu saja sudah melewati tahap-tahap penelitian dan pengujian, sehingga aman untuk dikonsumsi untuk dosis tertentu. Nah yang jadi masalah saat ini, bagaimana jika perisa, pewarna dan aroma sintetis disalahgunakan oleh mereka yang tak mengerti dan tidak bertanggung jawab.

Tidak sedikit kasus penggunaan pewarna sintetis untuk campuran makanan. Andaikata pewarna yang digunakan adalah ”food grade” tidaklah menjadi perkara asal dosisnya benar, bagaimana jika pewarna yang digunakan adalah pewarna untuk teksil atau campuran cat, akan lain cerita jadinya. Nah banyak mereka yang curang dengan mengakali barang dagangan dengan bahan-bahan yang tidak sebagai mana mestinya.

Warna yang ngejreng, rasa yang pekat dan aroma yang kuat adalah daya tarik tersendiri bagi indra penglihat, perasa dan pencium. Anak-anak adalah sasaran empuk dengan produk-produk hasil kecurangan pelaku yang tak bertanggung jawab. Kamuflase terhadap makanan-makanan yang tidak layak bisa memanipulasi pancaindra terlebih anak kecil yang belum peka terhadap zat-zat asing atau yang tidak selazimnya. Entah apa jadinya jika generasi muda sejak dini sudah di ”cekoki” dengan makanan-makanan yang sebenarnya tidak tersebut. Ancaman penyakit degeneratif, kangker, kerusakan organ mungkin saat itu tidak dirasakan langsung, tetapi akumulasinya yang akan dipeti dikemudian hari.

Sebenarnya jika mau kreatif, disekitar kita banyak bahan-bahan alami yang aman sebagai perisa, pewarna dan aroma. Rempah-rempah, ekstrak buah adalah gudangnya rasa dan aroma, sedangkan pewarna bisa diperoleh dari tumbuh-tumbuhan. Jika ingin warna hijau bisa mengekstrak daun pandan atau suji, warna merah dari buah kesumba, kuning dari kayu secang atau kunyit, dan masih banyak lagi tumbuhan yang bisa diekstrak untuk diambil warnanya. Namun ketersediaan bahan baku yang tak selalu ada acapkali menjadi kendalanya, selain itu pengetahuan masyarakat juga terbatas berkaitan dengan ekstraksi yang benar. Namun, alasan kepraktisan, dan murah serta hasil yang lebih baik menjadi alibi memakai bahan kimia sintetis. Urusan akan efek bagi kesehatan ibarat ”resiko ditangan penumpang”.

Dengan segala kerendahan hati, selamatkan generasi kita dari racun-racun yang memanipulasi panca indera. Tanpa mengkesampingkan penjual makanan yang baik, tetapi berhati-hati dengan oknum yang nakal dan curang patut dilakukan. Saat ini memang tidak terasa, tetapi akumulasi dari bahan kimia nantinya akan menjadi malapetaka, disaat kesehatan dirasa sangat begitu berharga. Amankan generasi kita dan kita sendiri dari kamuflase-kamuflase yang menipu panca indera.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. rawins said: emang masih ada makanan bebas kimia jaman saiki om..?di kampung kampung juga mulai pake pengawetkacaw…

    OMNIVORA….pemakan segala….Dihutan ada gak Mas,,,,,aku yakin mas Rawins salah satu korban makanan yang berpengawet…. jadinya awet ngganteng….”jangan percaya ucapan saya”

  2. chris13jkt said: Memang paling aman kalau mengkonsumsi olahan sendiri. Tetapi lingkungan dan pergaulan sering kali memaksa seseorang, khususnya para remaja, mengkonsumsi junk food. Kata-kata orang tua kalah dengan ucapan “kalau gak makan atau minum yang itu gak gaul” 🙁

    iya Om, atas nama gengsi kadang mengorbankan kesehatan. Yups lingkungan sangat berpengaruh sekali.

  3. siasetia said: daya beli, atau sudah jadi hal paten pembeli pengen yang murmer :p

    ya itu..murah meriah..padahal murah meriah tak harus begitu kan Sist

  4. bambangpriantono said: Hhhhh,…masalah besar kalau itu. Pengetahuan para pedagangnya masih sangat rendah, hanya tahu murah dan untung

    itulah yang terjadi Cak….

  5. mmamir38 said: Kalo tiap sekolah mengawasi pedagang makanan di sekitarnya, saya kira akan banyak sekali membantu.

    Mewajibkan jajan di koprasi atau kantin sekolah yang benar-benar di awasi dengan ketat.

  6. rembulanku said: di RR selalu diharuskan snack bikin sendiri agar lebih sehat dan terjaga qualitasnyatidak boleh beli, kalaupun beli tidak boleh sembarangan

    kasih bumbu bodho gak?

  7. pennygata said: sebetulnya efeknya udah kliatan sih ya, anak2 yg kliatannya gemuk, tp lesu, suka pusing, pilek gak sembuh2, batuk trs.. Alergi macem2, sering mules, itu kan salah satu dr efek konsumsi yg enggak2 itu, celakanya tukang dagang jajanan gak jelas itu malah paling banyak ngumpul dideket2 sekolah…Jaman skrng nyuruh anak makan sayur itu susahnya setengah mati. Dan doyannya makan fastfood… *sigh*, gak usahlah makan2an yg dipalsu2 itu, tidak sering makan2an sehat/rumahan dan lbh milih fastfood..itu jg sdh masalaah sendiri.

    Masalah yang terus mengancam Sist. Dibalik kenikmatnya tersimpan bencana dalam waktu lama. Efek jangka pendek juga ada, namun ngeri untuk kedepannya.

  8. emang masih ada makanan bebas kimia jaman saiki om..?di kampung kampung juga mulai pake pengawetkacaw…

  9. Memang paling aman kalau mengkonsumsi olahan sendiri. Tetapi lingkungan dan pergaulan sering kali memaksa seseorang, khususnya para remaja, mengkonsumsi junk food. Kata-kata orang tua kalah dengan ucapan “kalau gak makan atau minum yang itu gak gaul” 🙁

  10. daya beli, atau sudah jadi hal paten pembeli pengen yang murmer :p

  11. Hhhhh,…masalah besar kalau itu. Pengetahuan para pedagangnya masih sangat rendah, hanya tahu murah dan untung

  12. Kalo tiap sekolah mengawasi pedagang makanan di sekitarnya, saya kira akan banyak sekali membantu.

  13. di RR selalu diharuskan snack bikin sendiri agar lebih sehat dan terjaga qualitasnyatidak boleh beli, kalaupun beli tidak boleh sembarangan

  14. sebetulnya efeknya udah kliatan sih ya, anak2 yg kliatannya gemuk, tp lesu, suka pusing, pilek gak sembuh2, batuk trs.. Alergi macem2, sering mules, itu kan salah satu dr efek konsumsi yg enggak2 itu, celakanya tukang dagang jajanan gak jelas itu malah paling banyak ngumpul dideket2 sekolah…Jaman skrng nyuruh anak makan sayur itu susahnya setengah mati. Dan doyannya makan fastfood… *sigh*, gak usahlah makan2an yg dipalsu2 itu, tidak sering makan2an sehat/rumahan dan lbh milih fastfood..itu jg sdh masalaah sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...