Bunga di Tepi Jalan, Alangkah Indahnya

Suatu kali ku temukan

Bunga ditepi jalan

Siapa yang menanamnya

Tak seorangpun mengira

Bunga ditepi jalan

Alangkah indahnya

Lagu yang dibawakan Koes Plus yang sudah tak asing di telinga kita. Menggambarkan  bunga-bunga yang berserakan di pinggir jalan tanpa ada yang menyapa siapa yang menanamnya. Indahnya bunga mungkin tak akan dilirik. Berbeda saat bunga ada dalam jambangan dan diletakkan ditempat yang tepat. Alangkah kasihan bunga ini yang tak seorangpun mau memperhatikannya.

1350534870542983373
Sungguh sayang dan kasihan, mahkota keindahan berguguran. (dok.pri)

Trotoar ini menjadi saksi bisu berapa orang yang sudah lewat tanpa harus terancam oleh hilir mudik kendaraan. Jalus pedestrian ini juga menjadi tempat yang nyaman bagi siapa saja yang ingin melangkahkan kaki. Dibalik itu semua, ada satu lagi yang memiliki andil besar dalam meberikan kenyamanan yang acapkali disia-siakan bahkan dengan sengaja disingkirkan.

Bunga-bunga kuning ini berserakan di sepanjang trotoar yang saya lewati. Angin yang disebabkan kendaraan yang lewat dengan pelan menyapu bunga-bunga yang berguguran ini ke tepi jalan. Saya melangkah laksana raja yang sepanjang jalan penuh dengan bunga-bunga berwarna kuning dan menawan. Ingin rasanya mondar-mandir dalam imajinasi jiwa saat melewati hamparan bunga-bunga yang telah berguguran.

Inilah bunga Angsana (Pterocarpus indicus) dari sebuah pohon yang menjulang tinggi. Dibalik teduhnya dari batang yang penuh akan cabang dan ranting-rating yang melingkari dan tertutup oleh lebatnya daunnya, Angsana telah memanjakan setiap pejalan kaki. Bulan ini, Oktober adalah masa berbunga dan kini telah gugur menjadi karpet kuning yang indah. Tanaman ini sudah ditanam di pinggir jalan Wahid Hasyim, Salatiga sejak tahun 70an dan tumbuh puluhan meter.

Ironis, salah satu sudah tumbang oleh mesin gergaji. Beberapa alasan muncul, dari mengganggu keamanan pejalan kaki, pohon yang sudah tua, menutupi papan reklame dan lain sebagainya. Tumbang sudah satu pohong yang memberi perlindungan kala terik matahari terlebih lagi mereka yang menunggu datangnya angkutan umum. Di beberapa pohon lainnya tak jauh berbeda, ada luka di sekujur batangnya akibat pemasangan reklame dengan cara dipaku. Lebih memprihatinkan lagi adalah proses pembunuhan secara pelan dengan cara membakar sampah disekitar pangkal pohon sehingga mematikan pembuluhnya. Mereka yang melakukan pemasangan pipa dan kabel bawah tanah tak segan-segan menghujamkan kapak atau benda tajam lainnya untuk memotong perakaran demi melancarkan jalan pipa atau kabel. Angsana, sungguh tragis nasibmu demi kepentingan segelintir orang harus menanggung derita.

13505346231937387087
Bunga Mahoni yang menghujani saat angin menerpa. (dok.pri)

Di Salatiga, pohon Mahoni (Swietenia macrophylla) peninggalan Belanda yang masih bertahan hidup hanya tinggal beberapa pohon saja, selebihnya sudah ditebang. Belanda merancang setiap sisi jalan diberi tanaman peneduh dan Mahoni adalah pilihannya. Perhitungan fisiologi tumbuhan ini, dimana batang kuat, daun rimbun dan perakaran yang tidak mengganggu adalah pilihannya. Kini Mahoni yang tersisa sudah tumbuh besar dan beberapa waktu yang lalu hampir terancam oleh gergaji mesin, namun selamat setelah ada penolakan dimana-mana.

Bulan ini Mahoni dan Angsana sedang berpesta yakni sama-sama sedang berbunga. Berjalan di bawah pohon Mahoni saat ada angin bertiup seperti hujan salju, namun yang turun kali ini adalah bunganya. Bunga berwarna kuning kehijauan menerpa seluruh tubuh dan memberikan sensasi tersendiri. Jarang orang yang menikmati fenomena ini, namun momen-momen seperti ini sepertinya jangan sampai terlewatkan. Mahoni yang berdiri tegak menjadi bukti masa lalu betapa tata kota ini sudah dirancang sedemikian untuk memanjalan pejalan kaki.

13505347361701078230
Bunga warna putih dan ungu yang kontras dengan hijau dedauan, itulah bunga Bungur. (dok.pri)

Tak lengkap pesta ini tanpa kehadian bunga Bungur (Lagerstroemia sp). Bunga yang sedang bermekaran ini sangat indah dibaliki kanopi pohonnya yang menjulang tinggi. Bunga berwarna putih dan ungu nampak kontras dengan warna hijau daun yang mendominasi. Bunga-bunga yang berguguran menghiasi jalan dengan warna kuning dan ungun dan menimbulkan imajinasi akan keindahan.

Inilah pesta bunga di bulan Oktober disaat musim kemarau telah berakhir dan selamat datang musim penghujan. Angsana, Mahoni, dan Bungur yang telah berpesata bunga tetap memberikan keindahan disaat pohon-pohon lain menggugurkan daunnya. Hawa sejuk yang dikeluarkan dari hasil fotosintesis dan nuansa teduh dari perlindungan daun dari paparan matahari adalah bentuk layanan ekologisnya. Sewajarnya kita memberikan apresiasi kepada layanan alam ini. Lepaskan mereka dari derita paku-paku reklame, penembangan demi keuntungan kelompok hingga tebasan perakarannya. Mungkin kita tak sadar darimana hawa sejuk dan nuansa teduh ini, tapi setidaknya kita sadar kalau kita nyaman dan dimanjakan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. hai kak dhave .. tulisan kakak bagus bagus semua. benar2 biologist, traveler, dan photographer sejati! salam kenal 🙂

  2. musim hujan datang disertai batuk pilek
    siapkan daya tahan tubuh mas biar fotonya siiiiip terus
    btw ak inget lagu ini di daur ulang oleh sheila on 7 heheheheh aku suka banget lagu ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...