Nyalung Laron, Mendulang Protein dari Dalam Tanah

DSC00013

Rintik-rintik hujan menyambut saya saat jalan-jalan disebuah kebun yang tak jauh dari rumah. Kabut tipis mulai membalut rerimbunya kebun multi kultur tersebut. Ditengah-tengah kebun nampak sesosok lelaki tua sedang duduk sambil terus mengepulkan asap rokoknya. Air hujan yang terus jatuh dari langit tak diacuhkannya. Lantas saya bertanya “nembe napa mbah..?” (sedang apa Kek..?), “lagi nyalung” jawabnya. Dalam hati saya, kakek itu sedang mendulang sumber protein yang tinggi dari dalam tanah.

Siapa tak kenal serangga yang bernama Laron. Laron adalah rayap yang bersayap, artinya rayap yang sudah memiliki usia matang dan siap untuk mencari pasangan dan reproduksi. Laron atau anai-anai biasanya keluar pada sore atau petang. Prilaku Laron ini kadang membuat kita jengkel, karena jika malam tiba mereka akan mengerubuti sumber cahaya (lampu) dalam jumlah yang banyak. Pada pagi hari, sekitar lampu yang penuh dengan jaring laba-laba akan penuh dengan laron yang terjebak begitu juga dengan lantai akan penuh dengan laron yang mati.

Laron adalah fase rayap kasta reproduksi dan ada di rayap kasta prajurit dan pekerja. Menjelang usia matang laron akan keluar dari sarang dan mendatangi sumber cahaya. Mereka terbang mencari pasangan, dan jika sudah dapat maka akan kawin.Sayap akan tanggal kemudian mencari tempat dan menjadi koloni baru. Laron-laron yang tak mendapat pasangan yang akan mati.

Keluarnya laron dari sarang menjadi penanda datangnya musim penghujan sudah tiba atau pergantian musim. Nah laron-laron yang keluar ini dijadikan sumber rejeki bagi sebagian orang. Bagi sebagian orang datangnya laron dihalangi dengan menutup pintu dan mematikan lampu, namun ada yang mencegat laron untuk ditangkap hidup-hidup.

Nyelung laron (e dibaca seperti nyenggol) atau nyalung laron adalah kegiatan mencari laron. Nyelung dari bahasa Jawa Kawi yang artinya mencari. Nyelung Laron diawali dengan mencari lubang-lubang laron yang biasanya ada di kebun-kebun. Satu petak lahan bisa ada puluhan lubang-lubang yang dijadikan pintu keluar laron. Biasanya kebun untuk sarang laron adalah kebun yang kosong atau tidak pernah dicangkul.

1357177510383088019

Diawali keluarnya rayap, entah kasta prajurit atau pekerja yang kemudian diikuti keluarnya rayap kasta reproduktif yakni laron (dok.pri)

 

Begitu menemukan pintu keluar laron maka tepat didepannya akan digali lobang sedalam 30 cm dengan diameter 20cm. Lobang ini kemudian dialasi dengan daun pisang dengan bentuk kerucut untuk menampung laron yang keluar. Di mulut pintu diberi daun pisang dan dipasang posisi miring agar laron begitu keluar terpeleset dan masuk dalam lobang. Bagian atas di tutup rapat dengan daun pisang. Sesekali asap rokok dihembuskan di mulut sarang untuk memaksa Laron keluar.

Begitu lubang penung dengan laron biasanya ditampung dalam kantung plastik hingga ditunggu semua laron keluar. Jika dirasa sudah habis maka laron siap diolah. Sampai dirumah makan laron-laron tersebut akan di uyek atau diremas pelan untuk menanggalkan sayap-sayapnya barulah ditapiskan dengan menggunakan tampah. Sayap laron yang ringan akan terpisah dengan tubuh laron, dan akhirnya laron dijadikan santapan yang lezat.

1357177629425412423

Inilah sumber protein yang tinggi, bagi yang tidak tahan makan bersiaplah biduran, gatal-gatal atau bengkak (dok.pri)

 

Biasanya laron akan di goreng atau dibikin rempeyek. Rasa yang gurih dan lezat adalah ciri khas dari Laron. Bagi yang alergi dengan protein asing, maka siap-siaplah Biduran, gatal atau tubuh menjadi bengkak. Kejadian ini wajar, sebab tubuh merespon protein laron adalah protein asing. Cara paling sederhana, minum antihistamin atau tidak usah makan. Bagi yang kebal terhadap protein laron, maka ini adalah makanan yang sangat eksotis sebab hanya ada saat awal musim penghujan. Laron memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, sebab harganya bisa mahal saat laron dijadikan pakan burung. Laron bisa setara dengan kroto (anak semut rang-rang).

Serangga dari famili isoptera ini memang unik. Ada yang menjauhi ada juga yang mencari. Ada yang alergi namun ada juga yang begitu menikmati. Dibalik itu semua, ada sebuah siklus biologis yakni perjuangan hidup mati untuk mencari pasangan lalu kawin dan mencari tempat yang baru. Awal musim penghujan kita bisa belajar dari laron, entah dijauhi, atau dicari, dibenci atau dinikmati yang pasti Nyalung juga butuh perjuangan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Reblogged this on gadis petualang and commented:
    Tentang Siklus Hidup Laron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...