Rumah Mungil Ditengah Belantara Hutan

IMG_1799

Harum wangi cempedak (Artocarpus integer) begitu menggoda, saat butiran-butiran aroma ini terbawa angin dan hinggap indera pencium. Bak anjing pelacak, langsung segera mencari sumber bau tersebut. Benar saja, tak jauh dari tempat saya berdiri ada sebuah pohon nangka dengan buah-buah yang ranum di sekujur batangnya. Cempedak, sejenis nangka namum memiliki aroma dan rasa yang khas. Aroma yang lebih kuat dari nangka menjadi ciri khasnya. Rasa lezat, manis dan teksur yang lembut menjadi nilai tambahnya dibanding nangka.

Usai menikmati cempedak hingga puas langkah kaki menuju sebuah rumah mungil. Bangunan kecil ini, tanggung antara sebuah rumah atau gubug. Dikatakan gubug, tetapi bentuknya permanen, ada ruang tamu walau diteras, ada dapur, bale-bale, hingga tempat penampungan air. Dikatakan rumah, sangat tidak nyaman ditinggali dalam jangka waktu yang lama karena ukurannya yang sangat kecil.

IMG_2225

Rumah mungil, begitu saya menyebut berdiri dijalan lintas Kalimantan. Berada ditengah-tengah hutan sawit menjadi tempat berlindung dikala melepas lelah dan penat usai menggarap lahan. Rumah mungil ini serasa istimewa bagi saya, bahkan sangat istimewa karena seumur hidup baru kali ini saya jumpai. Jangan lihat ukurannya yang mungil, namun perhatikan lebih dalam dan saya akan sangat tercengan bahkan kagum akan nilai manfaatnya.

IMG_2201

Sejenak duduk diteras, akhirnya ada kesempatan untuk masuk. Selangkah kaki langsung disambut dengan bale-bale dan bantal empuk. Benar-benar tempat yang nyaman saat ditengah belantara hutan. Bayangkan saja, saat tubuh lelah dan capai langsung merebahkan diri disini, saya jamin hotel bintang lima tak ada bedanya. Benar-benar tempat yang didisain untuk memanjakan tubuh usai memeras keringat di ladang.

Saya tergelitik dengan sebuah stoples sisa tempat kembang gula. Walau kembang gula tak ada, namun dialih fungsikan menjadi tempat obat. Beraneka macam obat ada disini, dari obat maag, diare, deman, flu, pilek, pusing, hingga luka luar. P3K benar-benar dipersiapkan secara matang untuk mengatisipasi kejadian yang tak diinginkan. Inilah salah satu istimewanya tempat ini.

Belum usai rasa kagum ini, mata saya terjebak pada sebuah miniatur dapur. Walau masih menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu bakar, tak menjadi soal untuk mengagumi tempat ini. Beberapa bungkus mie instan terbungkus plastik, beras, garam dan bumbu-bumbu juga ada. Jika ada yang bermasalah dengan gula, disediakan juga gula rendah kalori. Masalah alat masak dan makan, jangan kawatir sebab sudah cukup lengkap untuk urusan masak. Jadi mau pesta kuliner disini, tak salah tempat saat berada ditengah hutan.

IMG_2200

Yang namanya ladang, pasti tak jauh-jauh dengan yang namanya benda tajam. Koleksi benda-benda logam itu, tertata disini. Sabit, pisau, parang, mandau, pancing, tombak berjajar disini dengan kondisi siap perang. Hewan liar seperti babi hutan masih sering berkeliaran disini dan acapkali merusak tanaman diladang. Tombaklah yang berperan dalam perlawanan dengan babi hutan. Sungai kecil didekta rumah mungil ini tak kalah pentingnya.

DSC04552

Dari sinilah sumber protein bisa didapat. Ikan gabus, lele dan udang adalah penghuninya dan bersiap naas saja saat pancing dengan umpan cacing mulai dipasang. Varanus salvator atau biawak acapkali numpang lewat di sungai ini, sehingga menjadi indikator masih adanya makanan untuk reptil ini, yakni ikan-ikan kecil.

Rasa kagum ini belum usai, saat keluar lewat pintu belakang. Ini bukan rumah mungil, tapi istana buah. Tak hanya cempedak yang tadi saya nikmati, namun dibelakang masih ada banyak lagi. Jeruk aneke varietas sedang ranum-ranumnya berbuah dan tak sedikit yang matang di pohon hingga beberapa ada yang sudah berguguran. Petai, tak kalah menampilkan buahnya yang menggelitik bagi para pecinta kuliner yang berbau menyengat ini namun sedap. Kedondong, pisang, pepaya yang sudah masak mungkin sudah menjadi jatas burung-burung atau kelelawar yang hendak mengisi perut, Rambutan yang sudah kelewat masak hanya menjadi pewarna kebuh dengan warna merah maroonnya.

IMG_1808

Gubug  kecil ini pernah ditawar 1/4 miliar rupiah, namun ditampik empunya. Tanah ditempat gubug ini memiliki nilai jual dan ekonomis yang tinggi. 100meter menghadap jalan negara trans kalimantan inilah yang menjadi incaran para pebisnis mengapa tanah ini dianggap sangat strategis. Inilah kekayaan lokasi, dibalik tanah yang subur, tanaman beraneka macam, sungai kecil yang mendamaikan hingga gubung kecil yang nyaman. Saya beruntung memiliki istana ditengah hutan ini, dan bapaklah kreatornya.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. mantab…. jeruk dan cempedaknya mengundang selera!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...