Sumber Energi dari Eutrofikasi

pano

Duduk termenung sambil mendendangkan lagu punya Sang Maestro Iwan Fals. “Sampai stasiun kereta Pukul setengah dua, Duduk aku menunggu Tanya loket dan penjaga, Kereta tiba pukul berapa, Biasanya…kereta terlambat Dua jam mungkin biasa, Dua jam cerita lama“. Sebuah lagu penghiburan yang tak juga menghilangkan kejenuhan, akhirnya beranjak juga keluar stasiun. Stasiun Tawang-Semarang mungkin satu-satunya yang membuat saya takjub sekaligus miris dan Polder Tawang adalah penyebabnya.

Termangun berharap melihat sebuah bayang dari lampu-lampu hias yang mengelilingi kolam seluas lapangan sepak bola, yang ada hanyalah air berwarna hijau. Berharap diluar mendapat hembusan angin segar yang didapat hanyalah bau pesing dan aroma tak sedap dari kolam. Imaji yang tebayang dalam pikiran nakal ini adalah kolam yang jernih, banyak ikan bersliweran, ada teratai yang sedang mekar bunganya dan suasana yang romantis. Tetapi, yang terlihat nyata didepan mata adalah suasana yang ironis.

13685861622092279996
Suasana yang romantis, namun terusik bau pesing dan amis (dok.pri)

Lain cerita saat saya berpindah mengunjungi Rawa Pening. Bersama dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah akan melakukan pengambilan contoh air di beberapa titik. Sebuah perahu sewaan kami tumpangi untuk membelah air danau yang tenang ini. Tiba-tiba sedang asyiknya menikmati perahu yang melaju, perahu menjadi oleng dan berpindah haluan. Ternyata Eceng Gondok (Eichornia crassipes) yang mengapung dan menggerombol tersenggol oleh badan perahu. Di depan sana ternyata terhampar hijau padang Eceng Gondok.

13685862381285209110
Pengambilan contoh air di Rawa Pening untuk melihat kualitas air yang dilakukan secara berkala (dok.pri).

Harapan kembali sirna, saat ingin menikmati air danau yang tenang, jernih harus pupus oleh hamparan Eceng Gondok. Gulma air asal Amerika Latin ini telag menjadi penghuni yang merajalela di Rawa Pening dan mengancam ekosistem yang ada disana. Dua penggal kisah yang antagonis terhadap sebuah lingkungan perairan yang idealis.

Air berwarna hijau di Polder Tawang dan hamparan Eceng Gondok di Rawa Pening adalah salah fenomena alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Mungkin banyak yang akan mengelak jika di jadikan kambing hitamnya. Apabila ditelusuri maka akan di tarik banyak benang merah, mengapa aktivitas dan prilaku manusia adalah simpul ujung satunya.

Ledakan Alga atau yang biasa disebut eutrofikasi merupakan fenomena alam biasa. Menjadi tidak biasa saat manusia terganggu olehnya. Air keruh, warna berubah menjadi hijau, bau tak sedap dan tidak ada ikan di dalamnya adalah kondisi yang membuat orang risih dengan keadaan perairan. Yang menjadi penyebab perairan berubah adalah adanya akumulasi bahan kimia, terutama Nitrogen dan Fosfat.

Dua unsur tersebut bisa menjadi pemicu cepatnya pertumbuhan alga. Nitrogen dan Fosfat menjadi makanan yang empuk oleh alga, sehingga menyebabkan blooming algae. Jika perairan penuh oleh ganggan air tawar ini, maka air berubah menjadi hijau. Menjadi persoalan adalah saat alga ini menyedot banyak oksigen dari perairan, menghisap semua nutrisi, menutupu cahaya matahari dan menjadi organisme yang dominan diperaian. Adanya dominasi alga ini akan menyebabkan desakan terhadap organisme lain, termasuk ikan dan tumbuhan air sehingga mereka akan pergi atau mati karena kalah berkompetisi.

1368586371922197806
Keindahan dibalik danau yang semakin menua (dok.pri)

Malapetaka akan bertambah saat alga yang meledak ini mati. Tubuh mungil dari yang bersel satu dan bersel banyak akan mengendap. Sedimentasi, peningkatan dekomposisi, oksigen menurun, dan menciptakan kondisi anaerob. Jika ketersediaan oksigen kurang, maka organisme dekomposer aerob tidak akan bekerja maka bau tak sedap yang akan muncul.

Darimana makanan alga ini berasalah, sehingga memicu malapetaka di perairan. Banyak sumbernya, dari industri hingga rumah tangga dan pertanian.  Sumber nitrogen dan fosfat biasanya banyak berasal dari deterjen dan pupuk pertanian. Usai cuci tangan atau mandi secara tidak sadar manusia sudah melepas sejumlah nitrogen dan fosfat ke perairan yang akan terakumulasi disejumlah titik. Pemakaian pupuk berlebih juga akan menjadi sumber petaka ledakan alga.

Tanpa deterjen dan pupuk, ledakan alga suatu saat juga akan terjadi. Eutrofikasi bisa terjadi kerena penuaan dari sebuah ekosistem perairan, dimana ada akumulasi dari material organi dan alga merajalela disana. Lantas bagaiamana dengan Rawa Pening, apa yang terjadi disana. Rawa Pening merupakan danau dengan luas 2.000ha lebih yang menjadi penampungan apa yang dibawah oleh sekitar 19 sungai.

Tidak hanya alga yang meledak di Rawa Pening, tetapi tumbuhan tingkat tinggi yang ledakannya lebih dasyat. Eceng Gondok juga memiliki efek yang tak kalah mengerikannya dengan Alga. Pertumbuhan yang tak terkendali menutupi permukaan danau, akibatnya penetrasi cahaya tidak bisa menembus dalam perairan, nutrisi juga disikat habis olehnya dan penguapan yang lebih cepat sehingga mampu menguras debit air. Laju transportasi air juga akan terganggu oleh pulau-pulau hidup yang terus bergerak kesana-kemari.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana solusinya, agar bencana itu bisa dikurangi. Mengoptimalkan penggunaan pupuk pertanian dalah salah satunya, sehingga tidak banyak yang terbuang sia-sia dan dimanfaatkan organisme lain. Bijak dalam penggunaan deterjen dan sabun juga sedikit bisa mengurangi penyebabnya. Pengolahan air limbah, terutama limbah komunal akan jauh membantu saat dibuang di perairan. Namun, tanpa usaha tersebut juga tidak persoalan sebab secara tidak langsung sudah memupuk lingkungan walau berlebihan.

13685864471677732345
Pemanfaatan tangkai daun Eceng Gondok untuk kerajinan tangan. Salah satu cara mekanis untuk mengurangi dan memanfaatkan populasi gulma air ini (dok.pri).

Pemanfaatan musibah bahkan bisa menjadikan lapangan pekerjaan dan mendatangkan uang. Tangkai daun Eceng Gondok dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, endapapan dari Sisa Eceng Gondok menjadi pupuk kompos yang subur. Setidaknya ada berkah dibalik musibah. Bagaimana dengan ledakan alga, apakah tidak bisa ditangani..?. Sebernya bisa, untuk meminilkan efek buruknya maka di perairan perlu diaerasi atau penghembusan udara. Tujuan dengan memberi nafas buatan ini adalah untuk meningkatkan oksigen terlarut di perairan, sehingga ikan, tumbuhan dan mikroorganisme bisa hidup dan akan menjalankan perannya masing-masing.

Apabila jeli, beberapa alga bisa dijadikan sumber energi. Alga adalah mahluk purba yang saat ini masih ada. Zat hijau daun/klorofil yang dimilikinya menjadikan dia sebagai mahluk autotrof. Hasil fotosintesisnya akan menghasilkan oksigen dan nutris dan pati adalah salah satunya. Kandungan pati inilah yang bisa dikonversi menjadi energi berupa ethanol. Dengan dibantu oleh ragi bisa merombak pati dalam alga menjadi alkohol yang banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan. Cepat atau lambat musibah itu akan terjadi, setidaknya bagaimana berfikir mengubahnya menjadi berkah. Tragedi bukan untuk dihindari namun berpotensi menjadi sumber energi.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...