Biar Lambat Asal Motret

Melukis cahaya langit barat dengan kecepetan rana rendah (dok.pri)

Melukis cahaya langit barat dengan kecepetan rana rendah (dok.pri)

Cahaya, sebuah energi berbentuk gelombang elektromagnet. Paparannya yang berupa energi foton mengantarkan penemunya Albert Einstein memperoleh hadiah nobel. Sejarah panjang dan perdebatan menyimpulkan sebuah tetapan kecepatan cahaya. Dalam dunia fisika, kecepatan cahaya diukur sebesar 2,99792458 dikali 100.000.000 meter per detik. Dengan kecepatan seperti itu mustahil  mengikuti cahaya dan menangkapnya.

Fotografi, yang secara etimilogis berarti melukis cahaya adalah seni bagaimana menangkap cahaya dan memindahkan dalam obyek 2 dimensi. Kamera sebagai piranti memberikan layanan untuk kejar-kejaran dengan cahaya. Ada layanan jasa kilat yakni dengan kecepatan seperseribu detik hingga sekian jam untuk membuka mata rana.

13702464381835362662
Mengejar cahaya, sebuah keberuntungan ada meteor lewat di atas puncak Gunung Merapi (dok.pri)

Adu cepat kamera memang tak akan ada habisnya. Ada kamera yang dalam seperseribu detik dapat memangkap gerakan cahaya dan itu kembali kepada kecanggihan teknologi. Jika berkutat terus dengan kecepatan kamera, pasti besok akan ada yang lebih dan lebih cepat lagi. Biar kamera ini tidak ketinggalan jaman, maka sekarang dicoba adu lambat. Seberapa lama rana bisa menangkap goresan cahaya. Apakah mampu sepersekian detik, 10 detik, 30 detik atau 30 menit, bahkan berjam-jam mampu membuka rananya.

Seberapa lambat membuka rana atau tombol “klik” tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan. Jika seorang manusia sudah bisa malih rupa menjadi batu maka membuka rana 1 menit bukanlah masalah. Namun jika tangan ini sudah bergertar maka dengan kecepatan 1/10 detik saja gambar sudah goyang. Dalam kasus ini harus sadar diri dan serahkan pada benda diam untuk menyangga kamera. Percayakan pada kaki tiga/tripod atau taruh diatas batu dan biarkan kamera melukiskan cahaya-cahaya yang bersliweran.

1370246667631971661
Panning, mengikuti obyek bergerak untuk mendapatkan elemen yang dinamis dan POI tetap freez (dok.pri)

Fotografi dengan kecepatan membuka nutup rana lama/lambat biasa menyebutnya dengan slow speed. Kecepatan rendah inilah yang membuat gambar jauh memiliki cerita, dinamis dan penuh jiwa seni. Bagi yang tidak memahami mungkin akan berkata “gambarnya goyang, tidak fokus, kabur, blur” dan masih banyak lagi cibiran. Namun bagi yang mengerti dan memahami, akan takjub bagaimana menciptakan gambar kabur yang bercerita dan memiliki nilai seni.

1370246776871360336
Gambar kabur, menjadi menarik jika ada satu atau beberapa yang fokus dan menjadi pembedanya (dok.pri).

Penilaian memang mutlak subyektif, namun jika mengerti sedikit teknik dibalik layarnya bisa makan bisa berdecak kagum. Mari melihat sedikit dibalik layar bagaimana menghasilkan gambar kabur, tidak fokus dan bergoyang ini. Pada prinsipnya teknik kecepatan rendah, adalah saat rana dibuka dan salah satu element gambar yang tertangkap bergerak dinamis. Urusan berapa kecepatan tidak jaminan itu slow speed atau bukan. 1/60 bisa dikatakan slow speed dan 1 detik juga belum tentu slow speed. Slow speed bukan ukuran kecepatan rana, namun bisa juga obyek apa yang terekam.

Beragam teknik digunakan untuk menantang kecepatan cahaya. Ada yang menyebut dirinnya panning/unpanning, yakni merekam obyek yang bergerak dengan mengikuti point of interestnya. ada juga yang obyeknya diam namun elemen lainnya bergerak. Untuk tekni ini dibutuhkan feeling yang bagus dalam memencet tombol rana, dan kemampuan menggerakan kamera mengikuti obyek. Gambar yang dihasilkan akan terasa dinamis.

13702473421532901628
Serahkan pada batu untuk mengabadikan momen ini (dok.pri).

Setetelah mata pecicilan dengan gerakan, sekarang saatnya diam dan duduk manis. Kali ini serahkan tripod atau batu yang memegang kamera. Memotret obyek kali ini memeng dibutuhkan piranti penopang kamera untuk meredam gerakan sekecil apapun yang dikawatirakan bisa menyebabkan obyek kabur. Pastikan tripod terpasang dengan benar dan kuda-kuda yang kuat. Tripod yang baik tentu saja bisa menahan kamera dengan mantap dan kuat. Jangan sampai 3 kakinya berdiri mampu digoyangkan oleh hembusan angin atau lalat yang mendarat.

Masih bermain-main dengan kaki tiga. Kali ini tantangan motret lambat lebih berat dan penuh resiko. Tantangannya adalah pada kondisi gelap gulita, karena obyeknya adalah taburan bintang dilangit. Mencari obyek tersebut harus keluar dari perkotaan yang sudah terkontaminasi oleh cahaya lampu dan polusi udara. Makan paling baik adalah pergi ke pelosok kampung, pantai atau di lereng gunung. Cuaca adalah faktor penentunya, sebab sia-sia jika tiba-tiba kabut tebal datang atau turun hujan. Tantang terakhir adalah bawa peralatan yang cukup berat, jika harus mendaki gunung dan memotret tengah malam.

1370247421760992376
Star Trail, melukis gerak semu bintang akibat adanya rotasi bumi (dok.pri).

Teknik memotret bintang diangkasa bisa dengan merekam keberadaan bintang atau gerak semunya. Menggambar gerak semu bintang biasa disebut dengan star trail. Rotasi bumilah yang menyebabkan bintang seolah-olah bergerak memutar dan itulah yang menjadi obyek yang menariknya. Teknik sangat sederhana namun sedikit rumit. Percobaan pertama mungkin cukup rekam 30 detik dengan mode bulb pada setingan manual. Nah jika sudah dapat sampel 30 detik, sekarang tinggal suka-suka kita saja. Mau 1 menit, setangah jam atau berjam-jam. Cukup menghitang naik turun ISO, diafragma saja untuk mendapatkan kecepatan yang diinginkan.

1370247198574378545
Melukis langit malam adalah sebuah tantangan tersendiri (dok.pri).

Slow speed sepertinya tak berarti apa-apa jika semuanya bergerak. Semua kelihatan bergerak jika ada obyek yang diam, maka kontrasnya obyek tersebut yang menjadi point of interest. Disinilah kepekaan fotografer diuji untuk mencari komposisi obyek yang bagus dan mengkolaborasikan. Masih mau adu cepat, saya biar lambat asal sampai.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Mantaaap! Thanks sharingnya, Dhave.

  2. hehe..akuuurr 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...