Api Primitif dari Lembah Baliem Dijaman Modern

di Pedalaman Papua, api adalah benda yang vital. Di salah satu lengan pemuda ini terselip pamatik api modern yang selalu dibawa kemana saja pergi (dok.pri).

di Pedalaman Papua, api adalah benda yang vital. Di salah satu lengan pemuda ini terselip pamatik api modern yang selalu dibawa kemana saja pergi (dok.pri).

Mudah sekali membuat api untuk saat ini, bahkan tanpa di buat api kadang datang tanpa di sadari. Kembali saya di pedalaman Papua. Di sana tak ada warung yang menjajakan pematik api.  “Saya seolah berada di jaman batu. Penduduk disini seperti manusia-manusia primitif yang membuat api dengan kuno.” Guman saya, namun itu hanya kebodohan saya begitu mencoba membuat api seperti cara mereka gagal total.

Saya tidak membayangkan jika sebuah kehidupan tanpa ada cahaya. Gelap, dingin dan nyaris tak ada geliat nafas kehidupan. Cahaya merupakan sumber kehidupan dan api adalah salah satunya. Api merupakan penggabungan panas dan cahaya dari benda yang terbakar. Bisa kah kehidupan ini tanpa api..?

Tidak terbayangkan jaman dulu saat alat pematik api belum di temukan. berbeda dengan saat ini, untuk mendapatkan api begitu mudahnta. Batang korek api dari kayu pinus yang di salut lapisan campuran belerangnya dan sekali hajar pada kertas pematik sudah bisa menghasilkan api. Ada juga pematik dari benturan roda dengan sejenis logam yang mudah memercikan api lalu tersulut pada gas atau kapas yang mudah terbakar. Lebih modern lagi, pematik api cukup dengan percikan listrik yang di konsletkan lalu disambarkan pada gas yang di tekan, seperti pada korek gas atau kompor gas.

1373965209973491124
Pematik api jaman purba ini dijajakan sebagai oleh-oleh khas dari Lembah Baliem. Mungkin bagi kita ada gunanya, percayalah suatu saat pasti ada manfaatnya (dok.pri).

Kembali saya dibuat takjub oleh penduduk di lembah Baliem. Pengetahuan masa lalu yang masih di pakai hingga saat ini, terutama dalam membuat api. Bakar batu adalah salah satu cara penduduk setempat dalam mengolah makanan. Mengapa mereka membakar batu untuk memanaskan bahan makanan, mungkin saja dulu belum ada panci atau tembikar tahan api sehingga cara tersebut lebih efektif untuk memasak. Inilah peradaban jaman batu yang hingga kini masih ada.

Sangat mudah membakar batu hingga membara. Cukup dengan menumpuk batu lalu diatasnya dikasuh kayu dan dibakar. Salah satu tingkat kesulitan yang tak semua orang bisa adalah membuat api. Dahulu tak ada korek seperti jaman sekarang. Pengetahuan nenek moyang dulu mampu mengatasi permasalah dalam menciptakan api. Beragam cara seperti; memakai batu api dengan cara di benturkan, lewat gesekan kayu, dan mencari api abadi.

1373965335577848738
Lewat gesekan kayu dan bilahan rotan diatas rumput kering inilah api di ciptakan oleh Suku Lani di Lembah Baliem (dok.pri)

Salah satu yang unik di lembah Baliem adalah dengan menggesekan bilahan rotan dengan kayu yang di buat pecah dan rumput kering. Awalnya saya tidak tahu, benda apa yang dibawa oleh salah soerang bapak yang masih mengenakan koteka. “ini untuk membuat api anak…” jawab dia saat saya tanya “benda apa itu bapak…?“. Saya masih kebingungan bagaiman cara membuat api dengan kayu, rotan dan rumput kering. Yang saya ingat seperti di film-film yakni dengan memutar ujung kayu yang runcing di kayu kering atau dengan menggesekan keduanya hingga terbakar.

Saat-saat yang saya tunggu akhirnya tiba juga. Bapak ini mendemonstrasikan caranya membuat api. Rumput kering di susun sebagai alasnya lalu di taruh 1 bilah rotan dan di timpa kayu yang di belah setengah yang di ganjal dengan batu kecil. Kayu kemudian diinjak dan ujung rotan di tarik ke kanan dan ke kiri bergantian secara kuat dan cepat. Tak berapa lama kemudian timbulah asap yang diakibatkan gesekan rotan dengan kayu. Lalu rumput di gulung dan kayu di tiup pada sisi tengah yang terbelah. Beberapa kali tiupan halus dan seketika kobaran api membakar rumput kering.

13739654301967011171
Jadilah api, walau dibuat dengan cara primitif manfaatnya tetap sama dijaman modern ini (dok.pri).

Saya yakin tak semua orang bisa membuat api seperni ini. Mungkin membuat api model primitif adalah pekerjaan sia-sia saja sebab sudah banyak yang korek api, tetapi di sisi lain inilah menariknya. Tak sembarang orang bisa membuat api dengan cara orang jaman purba. Kearifan lokal berupa pengetahuan, harus terus di pertahankan. Tidak ada yang memprediksi suatu saat tidak punya korek api, maka mau tidak mau akan kembali seperti orang jaman purba. Saya hanya berandai-andai saja, bagaimana ada lomba membuat api dengan cara tradisional. Pasti akan menarik dan unik.

Video membuat api ala Lembah Baliem ada di sini.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Wah anak gunung kalah sama penduduk Papua ya Dhave 😛

  2. Wah, mesti nek PRAMUKA menang ini, gak perlu ngeringin korek api di ketiak kalau pas kehujanan hihihi

    • Yo pasti… ye ngga cari anak paling keras kepala… pukul pake batu api… pletaaak… keluar apinya… yen mau sabar… ambil lensa makro cari semu geni hehehe 😀 siram minyak… beres dah

  3. next.. cerita ikut berburu ya.. 🙂

  4. biking jo lomba di lab.. bakar kulit pisang haha :p

  5. wah, masih seperti itu ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...