Potret Anak-anak Timor

Usai belajar, mereka bermian sebelum dipanggil orang tuanya untuk mengambil air (dok.pri)

Usai belajar, mereka bermian sebelum dipanggil orang tuanya untuk mengambil air (dok.pri)

Seperti anak-anak seumurnya, waktu mereka dihabiskan untuk bermain, sekolah dan bekerja membantu orang tua. Letak wilayah geografis, sarana dan prasarana tidaklah menjadi penghambat untuk menciptakan keceriaan dalam dunianya. Anak-anak di Pulau Timor mencoba mangatasi segala keterbatasan dengan penuh keceriaan dan suka cita.

Bisa dibayangkan untuk berangkat sekolah harus berjalan 8Km melewati sungai tanpa ada jembatan, hutan belantara, jalan setapak dan beberapa kampung. Ini sangat nyata dan dengan mata kepala melihat perjuangan anak-anak ini untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya. Para orang tua ada yang berinisiatif menitipkan anak-anaknya di sebuah keluarga yang tak jauh dari sekolahan. Setiap hari sabtu anak-anak ini dijemput untuk pulang kerumah dan minggu sore diantar kembali ke tempat penitipan.

13774952131053954228
Pagi di dalam rumah bulat. Sebelum berangkat sekolah menunggu makanan siap. Walau hanya kacang, itu sudah cukup istimewa. Makanan pokok disini adalah jagung dan kacang-kacangan (dok.pri)

Disebuah kecamatan, yang hanya berjarak sekitar 10Km dari ibu kota kabupaten hanya ada 1 sekolah dasar dan 1 SMP, itupun baru dibuka 1 tahun 2012. Permasalahn geografis ada kendala yang benar-benar nyata, sebab anak-anak ini tersebar di pelosok-pelosok dusun yang berjauhan jaraknya.

13774953211382676381
Di awali dengan senam pagi bersama (dok.pri).

SDN 1 Sateo, pagi ini mengumpukan anak-anaknya untuk menikmati Ulang Tahun republik tercinta ini. Acara dibuka dengan senam pagi bersama sebagai pemanasan, lalu dilanjutkan dengan perlombaan-perlombaan layaknya 17-an seperti di daerah lain. Dari taman kanak-kanak hingga calon penghuni bangku kelas 6 semua tumpah ruah dilapangan.

1377495489321415472
Ulang tahun negeri tercinta dengan lomba gobag sodor (dok.pri).

Galasin atau gobag sodor menjadi perlombaan pembuka. Permainan tradisional ini sangat menarik membuat peserta membludak. Beragam perlombaan di pertandingan disini. Sangat meriah, bahkan orang tua murid yang hadir ikut dalam gempita perlombaan ini. Sepertinya jarang menemukan kemeriahan anak dan orang tua jadi satu saat berdiri di kota besar.

1377496148302284644
Kecerian adalah bekalnya (dok.pri)

Dusun-dusunu di desa Binaus, tempat saya melancong yang terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT kondisi geografisnya sangat terisolir. Hanya jalan setapak dan acapkali harus menyebrang sungai kering selebar 50meter dan harus melompat antar bebatuan saat melewati aliran airnya. Kembali sejenak melihat keceriaan anak-anak ditempat yang terpencil.

Di samping rumah kotak, anak-anak nampak sedang bermain permainan yang sederhana. Sebuah roda sepeda motor bekas digunakan untuk memanen keceriaan. Dengan cabang kayu berbentuk huruf ‘Y” digunakan untuk menggiring putaran roda dan mengendalikan arahnya. Sepintas mudah, namun berulang kali mencoba saya tak lebih pintar dari anak-anak ini.

1377495544986955770
Hanya roda bekas tak menghalangi mereka untuk melaju meraih cita-cita den keceriaan (dok.pri).

Hanya bermain roda bekas yang digelindingkan kesana-kemari secara bergantian. Sangat sederhana, namun mampu menghasilkan keceriaan dan menjadi pengisi sajian arena bermain mereka. Di beberapa tempat, permainan ini dijadikan ajang balapan dan benar saja keceriaan tumpah ruah disini.

Putaran roda bekas tak menjadi pengalang untuk bersenang-senang. Medan yang terjal tetap menjadi taman bermain buat mereka. Bersama teman-teman mereka habiskan waktu untuk bermain sebelum orang tua meminta mereka mengambil air dengan jerigen bekas minyak. Malamnya mereka harus berkutat dengan pekerjaan rumah sebelum besok disajikan disekolah. Tak ada hiburan layaknya televisi atau radio, sebab listrikpun tiada. Lampu-lampu dari biji jaraklah yang menjadi penerang, atau keluarga yang beruntung akan menikmati lampu dari panel surya, itupun terbatas.

13774956021609253688
Realita potret anak negeri (dok.pri).

Potret anak negri yang ingin terus merengkuh pendidikan. Tak bersahabtanya kondisi bentang alam menjadi kawah candradimuka mereka untuk menggempur batuan karang demi masa depan. Semangat belajar dan keceriaan inilah bekal mereka untuk meraih mimpi-mimpinya.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. kangn Mollo Tengah….

  2. Kalau jaman aku kecil dulu, ada juga permainan yang mirip gitu tuh Dhave. Cuma dulu gak pakai ban motor, melainkan pakai pelek sepeda yang juga didorong kesana kemari dengan bantuan sebatang kayu. Gak tahu apakah Dhave masih ngalami permainan begitu apa gak tuh.

  3. suka dengan foto dan cerita2nya….

  4. anak2 yg ceria…
    mas mas.. btw bikin foto melengkung2 gitu pake apa sih mas ?

  5. ditunggu kelanjutan ceritanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...