Sarkem ala Bandungan

Pedagang bungan berangkat pagi-pagi ke pasar kembang.(dok pri)

Pedagang bungan berangkat pagi-pagi ke pasar kembang.(dok pri)

Suasana yang sunyi, hawa yang dingin disertai kabut yang turun dari lereng gunung Ungaran, kepakan sayap jangkrik yang lirih terdengar membuat merinding saat aroma Sedap Malam (Polianthus tuberosa) tercium. Jalanan sepi saya lewati untuk mencari sumber wewangian dan keindahan di Bandungan.

Sarkem alias pasar kembang selalu identik dengan sesuatu identik dengan lokasi di dekat Stasiun Tugu, yogyakarta. Saat saya mengunggah status di media sosial dengan mengetik kata sarkem, mengundang kesan negatif. Generalisasi dari kata sarkem yang selalu identik dengan lokalosasi. Namun sarkem yang saya kunjungin kali ini adalah benar-benar pasar kembang dan bunga hias yang menjadi dagangannya. Sarkem bandungan, itu tujuan saya pagi buta ini.

13935532851634269046
Rembulan belum beranjak dan mentari belum menampakan diri, namun para pedagang bunga melanjutkan begadang (dok.pri).

Pukul 03.30 alarm dari ponsel membangunkan saya yang meringkuk kedinginan di salah satu villa di Bandungan, Ambarawa – Jawa Tengah. Sejenak berpikir ulang, mau jalan atau tidak. Sebuah pilihan yang sulit saat berada dalam area nyaman. 30 menit berlalu akhirnya memutuskan untuk keluar dari hangatnya selimut.

Di ketinggian 1035 mdpl, hawa cukup dingin terlebih hembusan angin yang memaksa menutup sela-sela jaket tang terbuka. Keluar dari pintu penginapan, berjalan seorang diri di tengah-tengah kegelapan. Lampu-lampu taman villa sepertinya tak mampi menembus pekatnya kabut menjelang subuh ini.

13935533471812351719
Dinamika pasar kembang bandungan (dok.pri).

Dari kejauhan terdengan suara adzan subuh dikumandangkan. Mata saya melirik di sisi kanan kiri jalan, berdiri villa-villa mewah yang penghuninya masih terlelap. Saya terus berjalan mengarah pada jalan besar yang meghubungkan Bandungan dan Sumowono.

Hidung saya yang sedikit sensitif dengan wawangian, karena merasa pusing dengan aroma tersebut. Pekatnya aroma mawar jelas menusuk hidung. Ternyata dua orang ibu sedang berjalan menuju pasar sambil membawa bunga-bunga dagannganya.

1393553399603047564
Semua bergerak agar segera laku (dok.pri).

Tujuan saya ternyata sama dengan ibu tersebut, yakni pasar bunga Bandungan Ambarawa. Pasar bunga disini sangat terkenal, karena menjadi pemasok bunga-bunga hias di beberapa kota, seperti; Semarang, Salatiga, Kendal dan beberapa kota lainnya. Menarik lagi adalah harga yang ditawarkan pedagang bunga di sini sangat fluktuatif.

Menjelang akhir pekan, harga bunga akan melonjak 3-5 kali lipat dari harga normal. Perbedaan waktu juga menentukan harga, sebab semakin siang harga bunga semakin mahal. Berbeda jika membali bunga dipagi buta, yakni sekitar pukul 02.30-05.00 akan mendapatkan harga yang cukup murah.

Dibawah bulan yang bersinar setengahnya saja, pedagang bungan membuncah pagi ini dengan menawarkan dagangannya. Beraneka macam dan warna bunga ditawarkan. Bungan dengan ukuran besar yakni dalam bentuk 100 tangkai dalam satu ikatan, juga ada yang menjual per tangkai bunga.

13935534431161904928
Tawan menawar hingga harganya cocok (dok.pri).

Krisan, sedap malam, gladiol, melati, aster, dahlia dan mawar yang mewarnai pasar bunga pagi ini. Para tengkulak bungan yang akan mengirim ke beberapa kota langsung memboron bunga-bunga segar ini dan memindahkan dalam pikap. Ada juga pedagang eceran yang membeli dalam jumlah sedikit yang kemudian dijual lagi untuk para pengunjung obyek wisata Bandungan.

Sejenak saya bertanya pada beberapa penjual bunga. “bu harga satu ikat sedap malam berapa ?” saya menunjuk ikatan besar. “yang ini 150 ribu karena bagus dan besar, sedangkan yang ini 100 ribu saja” jawab ibunya. “jika beli eceran berapa bu..?” kembali saya bertanya “seribu sampai dua ribu mas per tangkainya” jawabnya sambil sibuk mengikat bunga.

13935534801863375584
Sebelum mentari datang (dok.pri).

Saya teringat, kemarin sebelum masuk di penginapan sempat melihat beberapa kebun bunga di Bandungan. Para petani bunga disini membudidayakan bungan dengan membuat rumah kaca yang terbuat dari plastik. Pot-pot dari plastik menjadi media tanam. Penanaman bunga tidak dilakukan secara serempak, agar panen bungan bisa dilakukan secara berkala. Namun itu hanya sekilas saja, sebab saya masih tertarik dengan pasar bunga pagi ini.

Akhirnya pagipun datang. Langi timur mulai terlihat. Dari ketinggian 941 mdpl terlihat jelas bukit-bukit kecil yang saling tumpang tindih dan berselimutkan halimun tipis. Rawa pening terlihat elok pagi ini, karena hanya terlihat garis meliak-liuk yang menjadi pembatas daratan dan perairan.

13935535081238708264
Ternyata sang surya menyembunyikan wajahnya (dok.pri).

Udara yang dingin berangsur-angsur hangat. Saat secercah cahaya yang menyeburat dari timur mulai terlihat. Sepertinya sang surya tak beranjak dari kaki langit, tetapi sudah merangkak sedikit lebih tinggi. Awan tebal di sisi timur menghalangi terbitnya matahari pagi ini.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. kalau ke tempat orang jual kembang itu wangi terus ya mas, betah jadinya 🙂

  2. Hahaha, pas saya baca kata “sarkem” ya yang terlintas yang di dekat Stasiun Tugu Jogja itu, hehehe. Curiga saya, bilangnya “sarkem” kok thumbnailnya simbah2, dan ternyata saya salah, hahaha.

    Murah juga ya per tangkainya. Satu tangkai sedap malam di Jogja dekat gereja Kota Baru itu Rp 3.000.

  3. He he he . . . aku ya tergelitik dengan konotasi sarkem yang negatif itu Dhave. Aku pikir ngapain Dhave kluyuran ke situ 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...