Hutan Purba di Perut Bumi Goa Jomblang

IMG_2211

Tiba-tiba langit yang setadi cerah berubah menjadi kelabu, ketika saya bergelantungan di seutas tali. Suara rintik hujan mulai sedikit terasa ketika kaki menginjak dasar goa sedalam 40an meter. Peluh keringat membasahi badan, namun semua terbayar lunas dengan rimbunnya hutan purba dan hawa dingin dari dalam goa. Saat ini saya mencoba meraba-raba ada apa di hutan purba goa jomblang.

Goa Jomblang-Grubug demikian nama yang untuk goa vertikal ini. Berada di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul-DIY, goa sangat terkenal sebagai tujuan para speolog dan mahasiswa penggiat alam bebas. Mulut goa mirip lubang sumur raksasa dengan diamater lebih dari 100 m dan kedalaman dari 40 – 110 m. Untuk akses masuk ke dalam goa harus turun dengan bantuan tali dan alat descender.

13964050621053658974

Mulut Goa Jomblang dilihat dari permukaan. Untuk masuk dalam goanya harus turun dulu secara vertikal dengan kedalam yang bervariasi (dok.pri).

Sebelumnya saya dan tim meminta ijin kepada pak dukuh atau kepala dusun yang secara administratif memiliki kawasan goa jombloang. Beberapa wejangan dari pak kepala dukuh, seperti; jangan etika, peralatan harus standar, keharmonisan tim dan tetap menjaga lingkungan sekitar dari kerusakan. Tidak ada tarif yang harus kami bayar, kecuali jika lewat operator.

3 buah tali carmantle yang masing-masing memiliki panjang 50m sudah kami siapkan di tepi goa, begitu juga dengan peralatan panjat tebing dan dokumentasi. Keselamatan adalah hal yang paling utama, sehingga beberapa kali kami harus memeriksa ulang perlengkapan keselamatan kami hingga tidak ada yang luput.

Usai pengaman utama di pasang, kami memasang beberapa pengaman tambahan yang kami ikat lewat batang pohon yang memebelit batuan gamping. Setelah semua siap satu persatu kamu turun menuju perut bumi untuk menelusuri nadi-nadinya. Tetesan keringat jatuh bebas ke dasar goa saat tubuh ini pelan-pelan turun lewat seutas tali yang sesekali memutarkan tubuh kami.

1396405276415657041

Hutan purba di dasar gua dengan mikroklimatnya. Banyak tumbuhan yang sudah mengalami adaptasi karena perubahan lingkungan yang ekstrim (dok.pri).

Sungguh luar biasa pemandangan di dasar goa yang penuh dengan pepohonan, semak, gulma, rerumputan paku-pakuan dan lumut. Inilah yang dimaksud dengan hutan purba, karena menjadi koleksi vegetasi pada masa lalu yang terawetkan dan masih hidup di dasar goa. ratusan atau ribuan tahun yang lalu sebuah tanah dengan diameter 100 meter tiba-tiba runtuh. Kemungkinan adalah aktifitas tektonik/gempa hingga rongga dalam tanah berupa sungai runtuh dan menghempaskan kehidupan di permukaan jatuh dalam dasar lorong.

Tumbuhan, hewan dan mikroorganisme berlomba-lomba menyesuaikan diri dengan kondisi yang ekstrim. Jika semula organise yang ada dipermukaan dihadapkan oleh cuaca yang panas, kering dan minim air, maka setelah runtuh berubah drastis. Di dasar goa terbentuk ekosistem sendiri dengan mikroklimat yang unik. Cahaya sangat minim, karena sekitar pukul 10-14 dasar goa akan terkena sinar matahari, setelahnya hanya cayaha remang-remang saja. Air yang melimpah di dasar goa memberikan suhu yang sejuk dan kelembapan yang tinggi.

Mata saya terpaku pada sebuah pohon dengan diameter sekitar 30 cm namun menjulang tinggi menuju permukaan goa. Saya membayangkan, jika pohon ini tumbuh dipermukaan setinggi itu makan pasti roboh. Tidak adanya hempasan angin, membuat pohon ini tetap tega berdiri. Alasan pohon ini terus saja tumbuh tanpa memikirkan proporsi besarnya batang adalah dalam rangka adaptasi yakni berebut sinar matahari.

13964055042120828188

Tumbuhan penghuni lantai dan dinding goa memiliki caranya masing-masing agar tetap bertahan hidup. Ada yang memiliki daun lebar, memiliki batang pembelit atau menempati tempat-tempat yang sudah dijangkau tumbuhan lain (dok.pri).

Tumbuhan sebagai organisme autotrof  berlomba-lomba menangkap cahaya matahari yang sangat minim. Pohon dengan batang yang besar dan tinggi maka akan memiliki daun yang banyak dengan ukuran kecil, agar efektif dalam menangkap sinar matahari. Tumbuhan yang berada di dasar goa biasanya memiliki morfologi daun yang lebar untuk menangkap sisa-sisa cahaya. Tumbuhan yang oportunis lain adalah tipe pembelit, karena harus bertahan hidupa maka dia membelit batang-batang tumbuhan lain agar dapat cahaya matahari. Lumut dan paku-pakuan sepertinya tumbuhan yang pasrah, karena berada di dasar sebagai karpet dan pelapis batuan dinding goa.

1396405675958166663

Untuk masuk menuju goa Grubug harus melewati lorong sepanjang 200an meter. kabut tipis di mulut lorong memberikan suasana yang sedikit berbeda, namun kata teman saya “show must go on” (dok.pri).

Suara gemuruh air terjun dan sungai bawah tanah dari dalam goa terdengar sayup-sayup. Kaki ini mencoba melangkah dalam lorong goa yang sudah dibuat jalur untuk berjalan. Dari dasar goa jomblang bisa menembus lorong yang menuju goa grubug dengan jarak sekitaw 200an meter. Zona terang, remang-remang dan gelap gulita terdapat di lorong ini. Dari mulut goa terlihat kabut tipis yang membuat suasana menyeramkan, dan dibawah sana gelap gulita.

Saat mata ini benar-benar menyaksikan zona gelap total makan akan tertebus dengan pemangdan yang luar biasa indah. Di atas sana di ketinggian 110m terdapat lobang dan cahaya dari luar menembus ke dasar goa. Inilah ray of light yang di cari mereka yang menelusuri goa ini. Stalagtit dan stalagmit menghiasi beberapa sudut goa yang selalu diguyur tetesan air dari atap goa.

13964058041626064594

Dari zona gelap total muncul cahaya remang-remang. Gambar ini diambil dengan bantuan lampu kilat (dok.pri).

Di tempat ini, masih saja ada kehidupan ekstrim. Lumut masih ada yang bertahan hidup dengan kondisi yang minim cahaya. Kelembapan yang tinggi adalah habitat yang disukai lumut yang menempel pada bebatuan yang mulai lapuk. Sedikit saya termenung sambil dihujani air dari atap goa dengan sinar yang remang-remang dari mulut grubug. “Ini baru tumbuhan, bagaimana dengan hewan-hewan dan mikroorganisme di sini”,lamunan saya buyar ketikan saya melihat jam tangan yang menunjuk angka 16.00.

1396405878667874663

Akhir dari sebuah perjalanan dan saatnya kembali. Cahaya dari mulut goa Grubug dan hiasan stalagtit stalagmit membayar sudah semuanya. (dok.pri).

Suara dari handy talkie terdengar saat teman dari atas meminta kami untuk segera naik. Waktu yang sudah mulai gelap dan cuaca yang kurang bersahabat mengharuskan kami segera naik dengan memanjat seutas tali. Inilah perjuangan terakhir menuju permukaan goa.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. Ini masuk Jomblang paling nekad! Bareng orang-orang “nggak waras” hahahahaha. Aku dijebaaaaak….

  2. Lho itu turun swadaya, Dhave? Bukannya kalau mau turun situ harus pakai operator lokal? Januari lalu aku sama anakku sudah mau ke situ tapi gak jadi karena keburu kehalang hujan deras

    • Swadaya, swadana, swasembada…
      Saya bawa peralatan sendiri Om. Hanya mengandalkan skill dan teman yang pernah kesana sekaligus membaca beberapa tulisan tentang goa jomblang. Cukup lama bikin rencana, akhirnya kesampaian juga.

  3. Dahsyat petualangannya! Nggak kebayang saya gimana akrobatnya motret sambil bergelantungan di tali menuruni tebing. Foto-fotonya dijepret pakai ISO tinggi ya? Banyak noisenya.

    Eh, kalau mau turun ke dasarnya berarti harus ikut rombongan khusus ya Kang? Desa menyediakan jasa nggak?

    • Yups.. saya gener iso 800 ngejar speed biar ngga banyak goyangnya.. yang penting dapat momen di cahaya minim.
      Di sekitar goa ada beberapa operator dan pemandu. Minimal 10-20 orang bisa turun dengan harga 400ribu per orang, banyak jasa kok mas yang menawarkan paket2nya,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...