Hikayat Baru Klinting di Rawa Pening

IMG_3143

Suatu hari anak yang buruk rupa itu mengadakan sayembara. “Barang siapa yang bisa mencabut lidi ini maka mereka boleh melakukan apa saja untuku, tetapi jika tidak bisa maka rasakan bencana itu datang” begitu kata anak ini. Cerita tersebut menjadi dongeng bagi masyarakat sekitar Rawa Pening, karena dari lidi tersebut keluar mata air yang menenggelamkan seluruh kampung.

Rawa Pening, sebuah danau alam di Terletak di kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Rawa ini terletak di 3 Kecamatan, yakni; Bawen, Tuntang, dan Ambarawa. Sebuah mangkuk raksasa yang dikelilingi oleh gunung dan perbukitan menjadikan danau ini sebagai lansekap yang eksotis. 9 sungai besar menjadi kran-kran yang mengucur deras hampir setiap tahun. 1 sungai menjadi pintu keluar yang akan mengantarkan menuju laut jawa.

Pagi sebelum sang surya beranjak, kaki ini sudah berpijak di tengah-tengah sawah. Halimun tipis membelai lembut, terasa dingin dan beku saat mata ini melihat secercah cahaya di ufuk timur. Ingin rasanya membuat waktu ini lambat agar detik-detik cahaya kehidupan itu berjalan pelan. Semilir angin yang mengelus pupus-pupus padi berbisik mengatakan bahwa inilah keindahan.

Tak terasa kehidupan mulai bergeliat. Sesosok lori kecil terseok-seok di remang pagi sambil menyusuri rel. Perahu-perahu tak bercadik mulai meninggalkan dermaga mengikuti dayungan tuannya. Burung-burung kuntul putih mulai menjejak sawah yang kemarin usai dibajak. Inilah geliat kehidupan di tepian rawa pening.

1398326009964012086

Geliat kehidupan sudah dimulai (dok.pri).

Rona kuning keemasan mengguyur hamparan hijaunya padi di sawah. Saya seolah dibawa terbang bebas dan jemari ini menyentuh pupus-pupus yang masih lunak lalu melesat ke atas dengan kecepatan maksimal. Dari atas sini saya ingin menari dan berputar-putar melihat pesona bumi pertiwi. Ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawi dan saya baru sadar tanah kita kaya. Urat-urat nadi transportasi berupa jalanan aspal sudah meramikan pagi ini saat saya melintas di atasnya. Luar biasa pagi ini saat rawa pening menjadi titik awal.

Tercatat 2000an nelayan menggantungkan hidupnya pada rawa pening. Mereka yang mancing, menjala, karamba dan mbranjang menggantungkan sepenuhnya pada danau dari anak buruk rupa yang bernama Baru Klinting ini. Petani yang membuka sawah di sekeliling danau mengandalkan pada limpahan air yang tak pernah kering sepanjang tahun. Tidak salah jika rawa pening menjadi oase lumbung padi yang tak pernah dahaga.

13983260671834465446

Mereka yang menghandalkan hidup dari rawa (dok.pri).

Saat ini kondisi danau alam ini semakin memprihatinkan. Hampir 70% muka danau sudah ditutupi oleh Eceng Gondok. Dalam jumlah terbatas, tanaman dengan nama ilmiah Eichornia crassipes bisa menjadi pelengkap ekologi. Saat ini jumlah yang semakin tak terkendali seolah menjadi ancaman ekologis. Daya serap air yang tinggi begitu juga dengan evapotranspirasi tanaman ini mampu menyedot air rawa dalam jumlah yang besar. Pergerakan sarana transportasi juga akan dihampat saat ribuan stolon eceng gondok saling terkait satu sama lain.

Sisi lain rawa pening tetaplah memiliki keindahan yang tak ada ditempat lain. Dari matahari terbit hingga tenggelam, ada saja yang bisa dikulik dari danau alam ini. Jika ingin melihat rawa pening dari ketinggian berjalanlah menuju sisi selatan, maka Gunung Gajah Mungkir dan Telomoyo akan menyambut. Ada sebuah air terjun cantik menanti untuk di Kunjungi. Baladewa, demikian air terjun yang terletak 7km ke arah selatan Banyu Biru.

13983261111611546603

Air terjun balada dewa, menjadi eksotika di atas rawa (dok.pri).

Belum puas melihat rawa pening dari ketinggian, maka berjalanlah ke sisi timur. Ada sebuah bukit yang masyarakat sekitar menamakan gunung goa Rong. Akses jalan sangat mudah, dari jembatan Tuntang berjalan menuju arah beringin sejauh 4km. Usai agrowisata telogo akan ada papan petunjuk yang mengarahkan jalur menuju puncak bukit. Dengan membayar tiker Rp2.000,00 mata akan dimanjakan dengan eloknya rawa pening dari ketinggian 711mdpl.

Terbayangkan aroma pala yang hangat dan harum. Dari puncak bukit ini tersaji beraneka jenis makanan yang terjangkau. Menurut saya, terlalu murah untuk tempat yang seindah ini. Di kelilingi perkebunan pala dan karet, menjadikan tempat ini memang tiada duanya. Masih sedikit orang yang mengenal tempat ini, tetapi akan ketagihan jika sekali kaki menginjak tempat ini.

Memandang rawa pening dari ketinggian memang terasa beda. Seperti bebek-bebek yang biasa berenang tiba-tiba memiliki kemampuan untuk terbang. Enggan rasanya berhenti menikmati eksotisme danau ini tak kala perahu harus segera menepi. Tak sampai disini saja keindahan danau cantik ini berakhir, yang pasti Baru Klinting akan memberikan keajaibannya jika kita bisa menjaga sumber penghidupan tersebut.

 

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

6 comments

  1. Dhave, postingan kali ini bener-bener bikin aku pengen jalan-jalan ke Salatiga lagi dan kluyuran di daerah-daerah sekitaran Rawapening nih

  2. Wah cepet banget diperbaikinya dan yang pertama kali saya lihat adalah foto air terjun Baladewa, hahaha. Mingin-mingini ini namanya, tapi blum mengumpulkan niat trekking kayak yg mas Dhave dulu lakukan ke Baladewa.

    Omong2, dari judulnya yang menyebut2 nama Baru Klinting tak pikir mas Dhave mau cerita tentang Babad Mangir, hahaha. Baru Klinting itu klo ga salah temannya atau “senjatanya” Wanabaya ya?

  3. Mas Dhave kayaknya konten nya error deh. Kok yg kelihatan markup HTML nya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...