Kisah Tepian Rawa Pening

 

DCIM100GOPRO

hay kenapa tidak memakai helm..?” tanya seorang bapak yang masuk dalam rombongan bersepeda. “jangankan helm, sepeda saja saya pinjam pak..” itulah jawaban yang muncul saat berpapasan dengan penghobi sepeda. Yang membedakan dengan kami adalah, kami lewat di jalur yang tidak biasa di lewati  para penghobi sepeda. 47,27km jalur yang kami tempuh dan melepas dahaga dengan kelapa muda sambil menikmati kerbau yang berkubang menjelang matahari terbenam. Inilah kisah kami di tepian rawa pening.

Rawa pening menjadi magnet tersendiri karena menyimpan pesona keindahan. Entah berapa kali saya mengelilingi danau alam ini dan tak ada bosannya karena selalu menemukan sudut pandang baru dalam membidik keindahan. Kali ini kami mencoba mencari peruntungan dengan mengayuh sepeda untuk mengelilingi danau indah ini. Salatiga kota terderkat dengan rawa pening menjadi awal dari mengayuh keledai besi ini.

Kami mengawali kayuhan sepeda menuju ambarawa dengan jalur lewat kecamatan Candi dan Banyu Biru. Setelah melewati jalan aspal kami langsung membanting stang menuju jalanan berbatu dan beton. Kami sudah berara di sisi selatan rawa pening. Perkampungan Rawa Sari dan Rawa Boni adalah dusun yang berada di tepi danau. Sepanjang jalan kami menyaksikan  tangkai-tangkai daun eceng gondok yang dijemur di tepi jalan. Inilah bahan baku untuk kerajinan tangan.

1401419797419125361

Para penduduk di sini memanfaatkan tangkai eceng gondok sebagai usaha sampingan. Usai mencari ikan di danau baik dengan cara mbranjang, memancing, atau menjalan mereka pulang dengan mencari tangkai daun eceng gondok. Ada pula yang menggantungkan sepenuhnya dengan mencari tanaman ini karena memiliki harga jual yang cukup lumayan dan ketersediaannya ada sepanjang masa.

Hamparan sawah kami lewati dengan sisi kiri jalan terlihat gunung gajah mungkur dan telomoyo yang berhimpitan dan di belakangnya berdiri dengan gagah gunung merbabu. Hari ini kami cukup beruntung karena langit begitu cerah dan hanya awan tipis yang melintas di atas kepala kami. Sengatan matahari tak kami hiraukan karena sayang untuk melewatkan keindahan yang mengelilingi kami.

1401419875194297680

Kami kembali tak hentinya mengayuh sepeda. Sebuah papan petunjuk bertulisakan “candi dukuh” menghentikan kami dan spontan kami mengikuti tanda panah tersebut. Kami terpukau melihat pemandangan menuju candi duku. Sisi kakan kiri kami adalah berderet pohon kelapa yang rimbun dan hamparan sawah yang menghijau. Lokasi peninggalan sejarah ini sepertinya tidak banyak dikunjungi. Jalan setapak yang licin memaksa kami menitipkan sepeda di rumah penduduk lalu  meneruskan langkah dengan jalan kaki.

14014199311235972144

Jalan berundak yang licin karena sudah diselimuti lumut membuat kami harus hati-hati. Akhirnya di atas bukit kami menemukan candi yang dimaksud. Candi dengan kubah yang sudah tidak utuh lagi dan beberapa reruntuhan yang ada di pelatarannya. Tidak banyak infrormasi yang kami dapat dari candi ini. Saya hanya mengamati bahwa candi ini mirip sekali dengan candi-candi hindu dengan model relief dan bentuk bangunannya. Namun saya tidak berani berspekulasi, yang pasti ada peninggalan sejarah di tempat ini yang tidak banyak orang ketahui.

Tidak terasa sudah hampir 15km kami mengayuh sepeda. Saatnya melepas dahaga dengan menenggak air kelapa muda. Di obyek wisata bukit cinta kami melepaskan penat sambil menikmati segarnya air degan. Bukit cinta kini sudah menata dirinya dengan penambahan fasilitas dan bangunan barunya. Pintu gerbangnya begitu megah menyambut para tamu untuk menikmati pesona baru klinting yang meringkuk melingkari bukit.

Saatnya melanjutkan perjalanan menuju kota penuh sejarah perjuangan, Ambarawa. Inilah kota dengan basis militer yang kuat. Kota ini dulu menjadi kekuatan militer pada masa penjajahan belanda dan jepang. Di tengah kota berdiri batalyon kavaleri 2 tank. Badak-badak besi berjajar rapi di garasi yang bisa disaksikan dari tepi jalan. Berdiri dengan gagah patung panglima Sudirman. Sesaat kemudian kami melewati museum kereta api ambaraw yang kini masih digunakan yang konon akan direvitalisasi kembali. Jalur ambarawa-gubug-purwodadi-semarang-solo akan dihidupkan kembali, tidak membayangkan bagaimana kereta api akan bersliweran di kota mungil ini.

1401420768150073550

Kami memutuskan untuk beristirahat di goa maria kerep. Tempat yang teduh, sejuk, damai, sepi dan nyaman untuk melepas penat usai menempuh 23km yang melelahkan. Sepiring nasi pecel dan pisang rebus mengisi perut kami untuk menggantikan energi yang sudah terkuras habis. Kebetulan kami datang bersamaan dengan peringatan kenaikan Isa Almasih, sehingga tempat ini banyak umat yang beribadah. Kamipun sesaat terlelap dalam lelah dan penat yang begitu nikmat.

Tidak terasa matahari sudah semakin condong ke sisi barat. Keledai besi kembali kami kayuh untuk menuju tuntang, yakni sisi timur dari rawa pening. Sepanjang jalani kami menyaksikan rona danau yang indah dan membuat kami semakin bersemangat untuk terus mengayuh pedal. kami memutuskan untuk melewati jalan kampung bahkan jalan setapak agar sedekat mungkin dengan bibir rawa pening.

1401420838614476224

Kembali tubuh ini lelah dan saatnya menambah pasokan energi. Kami menuju tepian danau di dusun kelurahan yang menjadi randevous para pemancing. Segelas es teh dan beberapa pisang goreng menjadi sajian kami sambil menikmati keindahan rawa pening dari sisi timur. Seluas mata memandang hanya hamparan danau, bukit dan gunung-gunung. Saya mengatakan “dulu Tuhan memberikan repihan taman eden di sini”.

Cahaya sang surya semakin menghangat dan semilir angin meninabobokan kami. Saatnya meneruskan perjalanan beraharap kami tidak kemalaman di jalan. Jalan makadam dan setapak kami libas walau beberapa kali harus terjungkal karena banyak lobang. Kami hanya tertawa riang saat ada rekan yang terjatuh atau kakinya terperosok dalam kubangan lumpur sambil melihat sepati yang sudah mirip adonan tanah sawah.

1401420711199301160

Sapa ramah penduduk setempat membuat kami semakin bersemangat. Tak henti-hentinya saya melihat peta digital dalam GPS agar kami tetap berada di jalur yang benar. Tidak terasa roda sepeda kami sudah menembus angka 40km dan artinya masih beberapa km lagi agar kami bisa keluar dari rawa pening. Jalan yang sempit kadang membuat kami saling bernegosiasi, apakah kami yang minggir atau petani yang mengalah.

Kali ini hadangan di depan kami tidak bisa di ajak berkompromi. Badan bongsor, mata merah dengan tanduk melingkar tidak bisa dihindari dan memaksa kami harus berhenti dan menepi. Biarlah para mahesa ini berjalan tanpa ada rintangan daripada harus di seruduk. Kamipun lega saat melihat para kerbau ini melewati kami. Tidak dinyana mereka melebarkan senyum seolah sambil berkata “mari mandi” sambil memicingkan mata dan menutup hidung usai mencium aroma tubuh kami. Merekapun berkubang di sungai sambil memakan reruputan.

1401420635620344835

akhirnya kami keluar juga dari jalan yang panjang dan melelahkan. 47,27km sudah kami tempuh dengan jalan yang tidak normal. Rasa lelah yang kami dapat terbayar lunas dengan keindahan alam yang tersaji sepanjang jalan. Akhirnya kami diberi imaji berupa tenggelamnya sang surya di sisi barat bumi. Cahaya merah merona mengakhiri perjalanan ini dan berharap kami akan kembali lagi untuk menikmati ceceran firdaus di bumi.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

No comments

  1. dulu enceng gondok dianggap sampah, syukurlah sekarang brmanfaat jadi kerajinan tangan

  2. Holadala, mas Dhave nyepeda juga pada akhirnya, hahaha. Saya malah baru tahu klo Rawa Pening bisa dikitari dari Salatiga. Setahu saya ya Ambarawa. Saya juga baru tahu ada candi di dekat sana.

    Boleh juga ini kapan2 dijajal rute nyepedanya dari Salatiga. Eh saya juga kalau nyepeda jarang pake helm. Soalnya kan lewat kampung2, lawannya paling ayam sama bebek, bukan bus dan truk kayak di jalan besar.

    • hahaha… mari Mas… saya tunggu…
      haha… kalo jalan makadam jatuh juga bisa biki benjol atau kajutahn kelapa kan berabe.. helm aja mas.. ngga berat kok..

  3. Jos mas..marai pengen mulih, dan terus mulih..nduwe kenangan mancing karo kancaku neng tengah danau kuwi. Kapan2 nderek mas dhanang mbolang boleh ya?

  4. Memang keindahan Rawapening gak ada habisnya ya Dhave

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...