Melongok Asiatique Pasar Malamnya Bangkok

Sediakan uang koin yang cukup untuk membeli tiket kereta, karena uang koin begitu berharga di sini (dok.pri)

Sediakan uang koin yang cukup untuk membeli tiket kereta, karena uang koin begitu berharga di sini (dok.pri)

cepat-cepat nanti ketinggalan..!” teriak teman seperjalanan saya yang meminta berlari. Dalam stasiun kereta, saya tak melihat para calon penumpang berjalan dengan pelan, atau duduk di lantai. Semua orang sepertinya terlambat karena terkesan tergesa-gesa bahkan ada yang berlari. Suasana yang kontras dengan stasiun di negriku yang semua serba santai, pelan tetapi di Bangkok hampir semua bisa berjalan cepat atau berlari.

3 keping uang logam senilai 30 bhat cukup untuk sekali berjalan naik kereta menuju stasiun yang di inginkan. Malam itu untuk pertamakalinya mencoba petualangan baru di negeri gajah putih untuk menikmati layanan transportasi masal. Benar saja, antrian sudah panjang mengular untuk membeli tiket. Untung saja pegawai dibagian tiket sangat fasih berbahasa inggris dengan artikulasi yang jelas layaknya aksen melayu. Tiket di tangan dan segera masuk menuju dalam stasiun. Tiket ditelan mesin alu terbuka pintunya untuk masuk menunggu datangnya kereta.

Stasiun kereta yang bersih dan rapi (dok.pri).

Stasiun kereta yang bersih dan rapi (dok.pri).

Stasiun yang bersih, rapi dan tidak ada yang menggelar dagangan. Aroma rokok juga tidak tercium dan nampak beberapa petugas bersenjata kesana kemari dengan senyum ramahnya. Ingin rasanya segera duduk melantai membaca buku atau ngobrol-ngobrol, namun ini negeri orang. Hanya 2 menit menunggu kereta sudah datang, dan entah ini akan membawa saya kemana, intinya saya hanya mengekor mereka yang memakai baju berwarna biru.

Suasana di dalam kereta (dok.pri).-

Suasana di dalam kereta (dok.pri).-

Di dalam kereta nampak penumpang tak seperti yang biasa saya lihat di tanah air. Kaum wanita, lansia dan cacat mendapat tempat yang istimewa. Tak ada penumpang yang saling bercakap satu sama lain, walau hanya berbasa-basi menanyankan hendak turun dimana. Anak-anak muda asyik dengan gawainya, dan para lansia menikmati perjalanan sambil memejamkan mata. Hanya kami yang menunjukan khas kekeluargaan sesama pribumi, yakni ngobrol kesana-kemari menandakan ketakjuban, dalam hati hanya bersenandika “sebentar lagi kita punya yang ginian“.

Hanya 15 menit kereta berjalan dan hanya berhenti di beberapa stasiun. Kami berbondong- bondong layaknya turis udik yang mengekor pemandu yang sama-sama masih meraba-raba. Tujuan kami adalah asiatique night market, pasar malamnya bangkok. Untuk memfasilitasi pengunjung telah disediakan angkutan gratis, yakni berupa perahu. Untuk traveler yang bermodal cekak layaknya saya, moda transportasi ini menjadi andalah. Jalan yang terbaik adalah tanya pada orang lokal, jika tujuan sama tinggal mengekor saja.

Perahu melaju di sungai  Chao Phraya sambil menikmati malam di kota bangkok (dok.pri).

Perahu melaju di sungai Chao Phraya sambil menikmati malam di kota bangkok (dok.pri).

Akhirnya perahu menyisir perairan sungai Chao Phraya. Kerlap-kerlip ibu kota Thailand membuat decak agum bagi mereka yang baru pertama kali menginjakan kaki di sini. Perahu-perahu khas Thailand dengan riasan  ampu nampak bersliweran di sungai Chao Phraya. Cukup 20 menit akhirnya perahu bersandar di dermaga Asiatique dak kaki-kaki udik ini segera bergegas menjelajahi pasar malam. Bagi yang kalap belanja, maka tempat ini adalah yang habitat yang tepat terutama bagi yang hobi kuliner.

Asiatique, tempat belanja dan bersantai di Thailan yang buka hingga larut malam 9dok.pri).

Asiatique, tempat belanja dan bersantai di Thailan yang buka hingga larut malam 9dok.pri).

Tujuan saya ke sini hanya ingin mencari apa yang khas dari negeri gajah putih ini, yakni miniatur tuk-tuk. Kebiasaan setiap berkunjung ke negeri orang pasti mencari miniatur yang khas, karena selain murah meraih juga mudah dibawa. Kami akhirnya berpisah mencari buruan masing-masing dan saya masuk menuju toko-toko souvenir. Sebuah tuk-tuk seharga 250 bhat membuat saya menyerah dan tak kuasa menolak dan akhirnya ditebus juga untuk barang bukti sekembali ke tanah air. Akhirnya saya orang pertama yang selesai belanja, karena hanya 1 barang saja sedangkan yang lain nampak masih kalap berbelanja aneka makanan yang murah meriah dan dapat banyak.

Surganya belanja makanan. Murah meriah dapat banyak, tidak salah jika langsung main borong saja (dok.pri).

Surganya belanja makanan. Murah meriah dapat banyak, tidak salah jika langsung main borong saja (dok.pri).

Saya hanya bisa memandangi teman-teman saya dengan plastik yang dijining kakan kiri dan saya tetap dengan tas kecil saja. Usai belanja arlonji menunjukan pukul 10 malam, dan harus berburu karena kereta terakhir adalah pukul 11. Kami berlari menuju dermaga untuk perahu terakhir demi misi mengejar kereta terakhir. Akhirnya kami sampai di stasiun terdekat dan berhasil naik kereta di jam-jam terkahir. Kami memutuskan untuk turun di stasiun terdekat dengan hotel tempat kami menginap.

Sebelum naik kereta kami harus membeli tiket dimesin penjual tiket. Kami mengumpulkan uang-uang logam, kerena mesin tiket layaknya telepon umum koin. Antrean yang panjang membuat degub jantung kami berdetang kencang karena kereta keburu datang dan tiket belum ditangan. Kami antri dibelakang turis-turis bule yang nampak kebingungan. Akhirnya teman kami yang sudah terbiasa dengan mesin ini mencoba membantu. Akhirnya semua beres dan tiket sudah ditangan. Para turis bule henda naik kereta menuju arah bandara, teman kami hanya bisa menunjuk arah ke kiri dan mereka mengikuti petunjuknya.

Walau tanpa ada petugas yang mengawasi, semua calon penumpang mengantri dengan tertib untuk membeli tiket yang dilayani oleh mesin (dok.pri).

Walau tanpa ada petugas yang mengawasi, semua calon penumpang mengantri dengan tertib untuk membeli tiket yang dilayani oleh mesin (dok.pri).

kejadian menarik saat hendak menuju pintu kereta, ternyata kami salah dan harus jalan memutar lewat lorong dibawah rel. Nasib sial dari seorang teman kami, karena dia terlanjur masuk dipintu keluar bukannya pintu lorong kereta. Kami panik, karena dia bisa ketinggalan kereta dan hilang ditengah kota. Tetapi petugas di sana begitu mengerti dengan situasi kami, sebagai orang asing. Petugas dengan tersenyum membukakan pintu masuk lagi dan mempersilahkan teman untuk masuk dalam lorong, tetapi sorot mata petugas tersebut sepertinya sedang mendongkol.

Akhirnya kami sampai di kereta juga dan dapat tempat duduk. Kebetulan kami berbapasan dengan kereta yang membawa turis bule dan hanya bisa memberikan lambaian tangan. “oh my God..” kata teman saya sambil menunjuk tiket dan tertera air port, ternyata turis bule salah arah naik kereta. Cuma bisa berserah dan pasrah, semoga mendapat yang terbaik dan kata teman saya “naik taksi saja dijamin tidak salah arah”.

Miniatur tuk-tuk yang banyak dijajakan di asiatuque dan banyak diminati para pembeli (dok.pri).

Miniatur tuk-tuk yang banyak dijajakan di asiatuque dan banyak diminati para pembeli (dok.pri).

Kami turun di stasiun yang terdekat dengan penginaan, alhasil kami harus berjalan sekitar 2km. Arloji sudah menunjuk angka hampir pukul 01.00 namun kaki ini belum sampai gang menuju hotel. Dari kejauhan hanya nampak menara hotel yang akan memandu kaki ini melangkah sempoyongan. Sesampai di hotel baru ingat “kenapa tidak naik tuk-tuk saja, murah meriah tanpa lelah” dan tangan saya memegangi miniatur seharga 250 bhat.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangkit Setelah 300.000 Tahun Terkubur

Saya membayangkan tanah Jawa sekitar 300.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap ...