Darmiyanto Kakek Pelari Segudang Prestasi

IMG_6383
[/caption]

Kakekane, mlebu dituntun kaya orang setruk, ndang mlayu kaya jaran” (sialan, masuk dituntun kaya orang kena stroke, begitu berlari seperti kuda). Kira-kira demikianlah umpatan salah satu peserta lari yang ditantang untuk melawan kakek berusia 79 tahun untuk menyelesaikan 15 putaran lapangan sepak bola atau sekitar 5Km. Start paling belakang dan finis yang terdepan saat semuanya sudah tumbang dan tak mampu melawan. Kisah inspiratif dari seorang Darmiyanto, pengayuh becak dengan segudang prestasi lari.

3 maret 2015 menjelang tengah hari ponsel saya berdering. Sapaan seorang perempan yang sepertinya sudah mengenal saya langsung berbicara pada intinya tanpa ada basa-basi. “Mas apakah bisa menghadirkan pak Dar, nanti 11 maret untuk live di kompas tv..?“. Dengan mantab saya jawab “bisa“. Lantas saya berpikir, apa benar apa yang saya jawab tadi..?.

Sore itu juga saya meluncur menuju rumah Pak Dar yang berjarak 12km dari pusat kota Salatiga. Bersama teman saya naik sepeda motor, padahal saban hari pak Dar pulang pergi dengan berlari dengan kedua kakinya dengan total jarak 24Km. Sesampainya di rumahnya, saya bingung hendak berkata apa kepada pak Dar berkaitan dengan permintaan kompas tv untuk mengundangnya.

Istri pak Dar lah yang pertama saya ajak berbicara tentang niat saya. Setelah istrinya setuju, lantas saya berbicara pada putrinya dan menyetujuinya juga. Akhirnya saya hanya menyampaikan pada pak Dar “pak Dar, minggu depan hari selasa pagi jam 7 saya jemput dirumah, kita akan ke jakarta naik pesawat jam 10. Pak Dar siap-siap saja dan jangan lupa bawa beberapa medali“. Seminggu kemudian akhirnya pak Dar terbang menuju Jakarta dan mendarat di studio Kompas TV di FX.Senayan.

Pukul 18.00 suasana begitu tegang saat diskusi tentang materi wawancara. mBa Cindy sebagai presenter dengan luwesnya segera mengakrabkan diri dengan pak Dar agar tidak kaku sambil melirik daftar pertanyaan saat siaran langsung nanti. Saya juga ikut berdebar-debar melihat pak Dar yang jauh lebih tegang dibanding saat bertanding marathon di jalan. Ketegangan saya semakin membuncah saat ada yang berkata “mas ayo di make up dulu dan ganti baju“, “loh loh saya kan hanya mengantar pak Dar dan tidak ikut siaran“, bela saya namun apa daya.

7 bulan kemudian sebuah perusahaan mengundang sesosok pak Dar untuk membagikan nilai-nilai kehidupan dan pengalamannya. Pak Dar di dandani sebagai sosok kakek dengan baju koko, berpeci, dan bersarung. Beberapa medali di kalungkan dibalik baju sebagai kejutan pada mereka yang hadir. Iringan musik qasidah melantun saat pak Dar memasuki sebuah aulan disambut oleh tepuk tangan mereka yang hadir. Raut wajah peserta yang mengira akan mendapat siraman rohani dari seorang kakek renta terlihat, wajah yang merasa bosan dan penolakan.

Tebak-tebakan yang tidak ada satupun jawaban yang benar, kecuali setelah pak Dar membuka siapa dia sebenarnya. Wajah-wajah bosan berubah muka airnya begitu melihat siapa sebenarnya sosok kakek tua tersebut. Video rekaman Kompas TV yang sudah saya undah ikut menjadi pelengkap pak Dar dalam membagikan kisah-kisah hidupnya.

Salah satu kisahnya yang menarik adalah saat dia jatuh pingsan saat terlalu lelah bekerja di rumah. Saat dirawat di rumah sakit, dia divonis dokter menderita stroke ringan. Bagi seorang Darmiyanto, vonis tersebut adalah seperti putusan hukuman mati. Padahal 2 bulan lagi dia akan mengikuti lomba atletik master. Vonis dokter tidak diindahkannya dan dia memutuskan pulang paksa. Dia menjalani apa yang dia jalani seperti hari-hari biasanya.

2 bulan berikutnya dia kontrol ke rumah sakit dan menemui dokter yang memvonis dia kena serangan stroke ringan. Dia menunjukan 5 medali emas hasil lomba larinya kemarin sebagai bukti dia baik-baik saja. Dokter lantas meminta suster yang merawat dia untuk berkumpul sambil berkata “yang menyembukan penyakit itu bukan obat, tetapi semangat hidup”. Akhir sesi, perusahaan menantang karyawannya untuk lomba lari dengan pak Dar esok paginya. Mau marathon, setengah marathon, atau 10Km. Akhirnya disepakati 5Km.

Menjelang pagi, saat semua peserta yang penasaran dengan Pak Dar sudah siap untuk adu lari. Saat bendera start dikibarkan pak Dar belum boleh berlari, tetapi menjadi yang terakhir dari semua peserta lari. Start paling belakang bukan masalah bagi sosok kakek enerjik satu ini. Satu persatu peserta dilewati. Beberapa peserta sudah mengibarkan bendera putih. Ada juga yang keluar lintasan karena sudah tidak sanggup. Beberapa masih ada yang gigih tidak mau kalah dengan kekeknya.

Sebanyak 15 putaran harus dilalui untuk menempuh 5Km. Pada putaran ke-10 tinggal 5 orang yang masih bertahan dari 130 peserta. Putaran ke 13 tingal 3 orang yang mampu adu cepat dengan pak Dar. Putaran ke-15 tinggal pak Dar sendiri yang masih berlari. Saya yang ikut menemi berlari sambil merekam terasa ada banyak bintang saat memandang. Sekelumit kisah yang akan menjadi bagian buku biografi pak Darmiyanto, sosok pengayuh becak yang berpretasi dalam dunia lari.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangkit Setelah 300.000 Tahun Terkubur

Saya membayangkan tanah Jawa sekitar 300.000 tahun yang lalu. Sebuah hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan seperti pencakar langit. Di angkasa berterbangan kepak-kepak sayap ...