Belajar di tepi jalan.

Mengubah Nasib Lewat Pendidikan, Potret Manila Saat Malam Tiba

Belajar di tepi jalan.

Belajar di tepi jalan.

Sang surya tenggelam di balik laut tiongkok selatan. Gelap malam belum berganti, namun trotoar yang sepi kini sudah berganti. Lapak-lapak dibongkar dari mobil pikap lalu dibangun ditepian jalan dan dagangan ikut digelar. Riuh ramai kendaraan kota Manila berangsur sepi, berganti dengan riuh penduduknya yang mencari makan malam. Hanya jeepney dan trisikel yang meraung-raung kelebihan muatan penumpang. Sebuah potret ibu kota Filipina yang tidak berbeda jauh dengan Jakarta, namun saya tertarik dengan polah tingkah generasi mudanya.

Kaum tuna wisma yang harus menyambung hidup.

Kaum tuna wisma yang harus menyambung hidup.

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya berkisah tentang kaum yang bisa dibilang tuna wisma. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal tetap. Mereka hidup hanya beratapkan sepeda kayuh yang dimodifikasi menjadi becak di sisi kanannya. Yah hanya ruangan kecil dan mungil sebagai tempat bernaung sebuah keluarga. Anak-anak dan ibunya menjelang malam akan tidur di dalam kabin trisikel, sedangkan ayahnya akan tidur beralaskan kardus di trotoar.

Sangat miris, bahkan sepertinya tak manusiawi ada sebuah keluarga tinggal berpindah dengan fasilitas yang sangat minim. Jika di beberapa tempat mungkin mereka mirip dengan manusia gerobag. Sejenak sepertinya ingin lebih dekat dengan mereka tetapi ada perasaan canggung jika mereka tidak nyaman. Keberanian itu pun terpupuk pelan-pelan dan akhirnya berbuahkan kenekatan daripada diam dalam rasa penasaran.

Jeepney yang sarat penumpang terus melenggah di jalanan Manila.

Jeepney yang sarat penumpang terus melenggah di jalanan Manila.

Dengan bahasa inggris yang terbata-bata coba saya menyapa mereka. Di luar dugaan saya, ternyata mereka ramah dan begitu fasih berbahasa inggris walau sesekali ditimpali dengan bahasa Tagalog. Sebuah cerita yang mengatakan, jika ditempat mapan belum tentu ada kehidupan yang mapan dan terpaksa membuat mereka menggelandang. Tuntutan kebutuhan hidup memaksa meraka turun ke jalan dan melakukan apa saja asal mendapat uang.

Bekajar di sela-sela keramaian saat orang tua sibuk bekerja,

Bekajar di sela-sela keramaian saat orang tua sibuk bekerja,

Dari obrolan singkat tersebut saya terhenya saat melihat anak-anak yang petang tadi asyik bermain ditrotoar saat malam tiba semu dudu manis di meja belajar. Jangan membayangkan meja belakar lengkap dengan meja kursi, buku, dan lampu. Meja belajar hanyalah kursi plastik, sedangkan kursinya pantat mereka sendiri sambil bersimpuh di tepian jalan. Cahaya remang dari lampu penerangan jalan menjadi penerangnya. Buku dan pensil menjadi piranti belajar, dan apa yang mereka kerjakan selebihnya saya tidak tahu. Yang bisa saya tebak, dia sedang berkonsentrasi penuh disela-selan klakson jeepney yang memekakan telinga.

Bagi kaum ini, pendidikan tetap menjadi prioritas utama. Seburuk apapun pekerjaan dan sekecil apa pun penghasilan, anak harus tetap sekolah. Orang tuanya berkisah, salah satu cara untuk mengubah nasib adalah lewat pendidikan, yakni sekolah. Terhenyak saya mendengar pendapat seperti itu dinegeri tetangga yang saya kira lebih makmur dari negeri saya. Masih ada saja orang yang memiliki keyakinan jika pendidikan bisa dan mampu merubah nasib seseorang saat jalan lain mustahil ditempuh.

Malam yang makin riang di jalanan manila.

Malam yang makin riang di jalanan manila.

Kaki saya pun beranjak berjalan menyusuri pinggiran kota Manila. Semakin malam semakin menyenangkan dan banyak hal yang bisa saya temukan. Namun, yang menggelitik saya adalah generasi muda yang duduk manis dimeja belajar darurat dengan bertumpuk-tumpuk buku. Disaat orang tua mereka sibuk berjualan atau memilah-milah barang bekas, mereka tetap dengan tugas utamanya yakni berproses merubah nasib. Saya belajar tentang sebuah makna pendidikan di tetangga beda negara.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...