pelataran museum kereta api ambarawa

Museum yang Berstasiun, di Ambarawa

pelataran museum kereta api ambarawa

pelataran museum kereta api ambarawa

Selamat datang di museum kereta api Ambarawa, ada yang bisa saya bantu mas? Kalau mau masuk silahkan membeli tiket dulu, lalu ini pintu masuknya”. Sapa ramah petugas museum yang mengenakan baju safari, yang membuat saya nampak keki. Mungkin, ini satu-satunya museum yang memberikan ucapan selamat datang bagi para pengunjungnya. Bagi saya yang biasa dicuek-in petugas museum, kali ini seperti mendapat perlakuan yang berlebihan, mungkin kata anak sekarang “alay“. Namun, inilah wajah baru Museum Kereta Api Ambarawa dengan wajah barunya.

Pintu masuk museum kerta ta api ambarawa.

Pintu masuk museum kerta ta api ambarawa.

Biasanya, berkunjung ke museum, tidak ada yang istimewa buat para pengunjung. Cobalah mengujungi Museum KA Ambarawa, seperti masuk ke Bank Swasta untuk setor uang miliara. Petugasnya sangat ramah, mungkin lebih ramah dari Bank Swasta, begitu saya mengistilahkan. Inilah wajah baru sebuab meseum yang membuat pengunjungnya merasa betah, diterima dan benar-benar mendapat tempat.

Halaman museum yang nampak tertata rapi.

Halaman museum yang nampak tertata rapi.

Jauh sebelum museum ini di renovasi, beberapa kali saya mengunjungi. Jangankan senyum ramah, acapkali wajah-wajah sangar petugas nya membuat merinding, seperti loko-loko yang berusia ratusan tahun. Mungkin sudah 3 tahun museum ini di renovasi dan menampilkan wajah baru yang sangat ramah, informatif dan nyaman bagi pengunjung. Walau di beberapa titik masih dalam penataan, tetapi untuk kelas museum, maka ini salah satu museum yang terekomendasi untuk dikunjungi.

Rindangnya pepohonan di halaman museum.

Rindangnya pepohonan di halaman museum.

Museum yang masih mempertahankan arsitektur asli buatan Belanda manakala dibangun pada 21 Mei 1873. Museum yang kini sudah berusia 173 tahun masih kokoh berdiri dan semakin megah dengan beberapa bangunan tambahannya. Saya seolah masuk ke dalam mesin waktu manakala petugas usai menyobek tiket saya dan memasuki lorong yang panjang. Lorong dengan sisi kanan menceritakan sejarah perkereta apian di Indonesia membawa saya kembali jauh ke masa lalu, masa dimana lokomotif-lokomotif mulai didatangkan dari Eropa dan disebarkan di beberapa tempat di Indonesia.

Ruang tunggu stasiun.

Ruang tunggu stasiun.

Kereta api bisa menjadi salah satu warisan yang tak ternilai yang dibangun oleh Belanda, dibalik dijarahnya sumber daya alam kita berikut dengan kebebasan yang direnggut. Museum ini menjadi saksi bisu tentang kondisi masa lalu. Duduk di teras berlantaikan jubin berwarna kuning sembari memandang bentangan rel dari timur ke barat, saya seolah bernostalgia dengan romansa masa lalu seperti dalam film-film sejarah. Sebut saja film Sang Pencerah yang salah satu pengambilan gambarnya di museum ini, begitu apik ditampilkan dan saya merasakan suasan pada waktu sekarang ini. Saya mungkin terlalu sentimentil, tetapi nuansa itulah yang ada di sini manakala loko uap mulai mengepulkan asapnya dan suara ketel memekikan telinga “tuuuutttt… tuuuuttttt“.

Ubin aseli museum yang ada sejak jaman Belanda.

Ubin aseli museum yang ada sejak jaman Belanda.

Saya menyadari, saatnya museum harus berbenah dan bermimikiri dengan keadaan masa kini yang serba modern. Museum ini sepertinya sedang berbenah dan mengubah dirinya menjadi salah satu museum modern. Bisa dibayangkan suatu saat nanti, ada stasiun yang ada museumnya. Menurut rencana, stasiun Ambarawa akan dihidupkan lagi secara komersial dan melayani angkutan kereta api. Bisa dibayangkan, para calon penumpang akan dibawa kembali ke masa lalu. Impian saya seolah ingin segera terjaga, agar bisa benar-benar menikmati stasiun bermuseum, datanglah ke Ambarawa.

Roda gigi yang dipemerkan menjadi cirikhas museum ini.

Roda gigi yang dipemerkan menjadi cirikhas museum ini.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

4 comments

  1. Meskipun hasil bumikita di jarah tapi kita dapat peninggalan yang sangat berharga yessss

  2. Eh, ada thomas
    Jare Bian, ponakanku, umurnya hampir 5 tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...