Hujan meteor di puncak merapi.

Hujan Meteor untuk Sang Empu

 

Hujan meteor di puncak merapi.

Hujan meteor di puncak merapi.

“Warnanya hitam, bentuknya tidak beraturan, keras, dan permukaanya kasar” kata Profesor Francois Semah, seorang arkeolog dari Univeristas Paris. Siang itu saya ikut dengan peneliti yang suka blususkan di situs-situs purbakala di Indonesia untuk mencari batu meteor atau tektite di Sangiran-Jawa Tengah. Dikisahkan, di daerah tersebut sering ditemukan batu meteor yang beberapa waktu lalu digandrungi gegara demam akik. “hahahaha… itu kotoran kambing mas…” kata Prof. Semah sambil tertawa saat saya menunjkan bulatan hitam, sebab tak jauh dari situ memang ada kawanan kambing.

Bersama Prof. Semah megaduk-aduk tanah mencari tektit.

Bersama Prof. Semah megaduk-aduk tanah mencari tektit.

Sekian jam mencoba mengaduk-aduk tanah untuk mencari batu meteor tak membuahkan hasil. Akhirnya kami menyerah dan melupakan batu dari luar angkasa tersebut. Setahun berlalu, guru besar dari Paris tersebut mengundang saya untuk jalan-jalan di situs purbakala Filipina. Setelah hampir 2 minggu jalan-jalan, maka akhir perjalanan ditutup belanja untuk mencari cinderamata. Yang terpikir dalam otak saya, saya ingin mecari miniatur jeepney-angkutan umum Filipina. Namun, saya diingatkan jika di Filipina banyak batu meteor diperdagangkan.

Tetktik seharha 100 peso sekitar 27 ribu rupiah.

Tetktik seharha 100 peso sekitar 27 ribu rupiah.

Saya pun bergegas menuju tempat yang dimaksud, katanya disamping gereja di pusat Kota Manila. Kali ini mata saya terbelalak, ada banyak kotoran kambing ukuran raksasa yang jatuh dari angkasa. Batu meteor sebesar genggaman tangan ada dalam baki-baki dalam lapak-lapak penjual batu mulia. Satu batu meteor ukuran besar di harga 100 peso atau sekitar Rp 27.200,00 sedangkan yang ukuran kecil 50 peso. Niat membeli tektit saya urungkan karena masih ingin mencari miniatur jeepney, namun sayang tidak ada yang menjual. Kembalilah saya pada penjual batu meteor, namun sial nasib saya karena semua sudah raib dibeli orang. Siapa lagi kalau bukan rombongan saya yang mengatakan “jika di sangiran ada batu meteor“.

Gereja di Manila yang disampingnya dijual batu tektit, tetapi saya memilih jeepney

Gereja di Manila yang disampingnya dijual batu tektit, tetapi saya memilih jeepney

Bagi orang geologi yang mempelajari batuan, tetktit tak lebih istimewa dari batuan yang ada di bumi. Dia berharga karena asal-usulnya dan material yang ada didalamnya. Tektit merupakan istilah umum yangg digunakan kepada batu kaca alami yg terdiri dari silika yg terbentuk oleh efek benturan keras Meteorit. Meteorit adalah batu meteor yg berhasil mencapai permukaan bumi. Meteor berasal dari asteroid kecil di luar angkasa yang jatuh karena gravitasi bumi. Saat melintasi atmosfer bumi, asteroid ini bergesekan dan berpijar dan kita menyebutnya dengan meteor atau bintang pindah. Jika meteorit ketika mendarat di bumi dapat menghasilkan suhu yg sangat panas sehingga dapat melelehkan material yg berada di permukaan bumi

Bahan pembentuk meteor mengandung logam, batuan, dan atau campuran keduanya. Untuk jenis logam biasanya mengandung ferum dan nikel, sedangkan yang batuan dapat mengandung kalsium dan magnesium. Matarial yang ada di bumi yakni silika akan meleleh akibat panas dari benturan meteor dan akan mendingin dan jadilah kristal kristal Tektit. Nama tektit sendiri berasal dari bahasa Yunai yakni Tektos yang artinya meleleh.

Lantas apakah istimewanya batu leburan dari luar angkasa ini? Bagi mereka yang menyukai ‘tosan aji’ atau dunia persenjataan tradisional salah satunya keris akan sangat memahami tentang tektit. Batu meteor menjadi bahan campuran pembuatan keris, dimana ada material yang keras dan tahan panas. Ada penelitian jika batu meteor ada logam titanium yang terdapat di keris padaera Mataram Sultan Agung sekitar abad ke-16.

Mungkin kita akan teringat kisah seorang pembuat keris yakni Empu Gandring yang tewas di bunuh oleh Ken Arok dengan keris buatannya sendiri. Apakah Empu Gandring sudah memakian batu meteor, tidak ada yang tahu. Pada abad ke 12-13 diperkirakan empu-empu di Pulau Jawa telah menggunakan titanium sebagai bahan pembuatan pusaka. Para empu ini mendapatkan titanium dari batu meteor yang jatuh ke bumi. Di kisahkan para empu jaman dahulu untuk mendapatkan batu meteor dilakukan dengan lelaku. Mereka setiap malam mengamati langit, lalu mencari apakah ada meteor, dan jika ada maka akan dicarinya. Tentu saja mereka tak asal mencari tetapi juga dengan memadukan ilmu kanunaragan dan jiwa.

keris yang keluar pamornya konon dibuat  berbahan titanium dari tektit,

keris yang keluar pamornya konon dibuat berbahan titanium dari tektit,

Ada sebuah catatan yang menarik, yakni pada 19 Maret 1884 ada meteor jatuh di Alastua di Madiun. Konon batu meteor yang diberi nama meteor Jatipengilon tersebut memiliki bobot s mencapai 166 kg. Dengan meteor seberat itu, bisa dibayangkan berapa bilah keris bisa dibuat. Sebenarnya di Indonesia tidak sedikit ditemkan serpihan-serpihan batu meteor. Di pulau Belitung, banyak ditemukan batu meteor dan menjadi salah satu primadona untuk batu mulia. Saya hanya berguman, untung para empu itu ada di tanah Jawa, bayangkan jika mereka ada di Belitung atau Filipina pada waktu itu.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...