Anemon dan ikan badut di Pulau Kecil-Karimnjawa.

Gunung Es Rusaknya Terumbu Karang Karimunjawa

Anemon dan ikan badut di Pulau Kecil-Karimnjawa.

Mungkin tidak banyak yang mengira jika warna-warni terumbu karang di laut adalah hewan. Satu-satunya jenis hewan yang tidak bisa berpindah tempat jika terancam bahaya. Mereka hanya bisa membela diri dengan kekuatan menyengkram batu karang, menyaru, dan mengeluarkan senyawa beracun. Namun bagaimana jika predatornya adalah lambung kapal dengan bobot ratusan ton. Mereka hanya pasrah, saat mereka menjadi remahan-remahan kecil karena digulas badan kapal yang masuk terlalu dangkal.

Terumbu karang yang rusak.

Beberapa situs berita memberikan kabar yang mencengangkan berkaitan dengan eksosistem laut. Kapal pesiar MV Caledonian Sky dari Inggris berbendera Bahama,  dengan bobot 4.200 GT, membuat terumbu karang yang ada di Raja Ampat, Papua, rusak berat pada pada 3 Maret 2017 lalu membuat. Berita yang menggemparkan, terlebih kejadiannya di Raja Ampat. Hasil investigasi menyatakan, kerusakan yang diakibatkan kapal pesiar tersebut 18.882 meter persegi luas terumbu karang.

Lokasi penyelaman,

Kejadian kerusakan terumbu karang juga terjadi di Kepulauan Karimunjawa. 14 Maret 2017 ada kapal tongkang bermuatan batu bara menimbulkan kerusakan yang diperkirakan mencapai 600 meter. 11 Februari 2017, ada empat kapal tongkang menabrak di sekitar Pulau Gosong Cilik dan Tengah yang dipastikan menghancurkan terumbu karang. Total kerusakan terumbu karang seluas 1.660 meter persegi. Kerusakan di Karimunjawa memang tidak seluas di Raja Ampat, tetapi memiliki dampak yang sama.

Hancurnya terumbu karang akibat tertabrak tongkang.

45 menit saya ikut berlayar dari dermaga Karimunjawa untuk melihat kerusakan terumbu karang yang barad di antara Pulau Cilik dan Tengah. Mendekati Pulau Tengah terlihat patok-patok bambu sebagai penanda terumbu karang yang dihajar oleh kapal tongkang. Perlahan kapal mendekati pulau lalu Kru Kapal memberi tahu jika dari ujung utara mengarah ke selatan adalah arah tongkang yang menabrak. Perlengkapan selam segera di kenakan, lalu satu persatu kami ingin melihat dengan mata kepala tentang kerusakan terumbu karang.

Area yang tidak terdampak di Pulau Tengah,

Dari kedalaman sekitar 2 meter hinggan 15 meter semua karang nampak rata dengan dasar laut. Karang tidak lagi menjadi potongan kecil, tetapi bisa saya katakan menjadi remahan kecil. Bisa dibayangkan kapal tongkang dengan muatan penuh batu bara menabrak terumbu karang dan menggilasnya. Beragam jenis karang nampak rata, namun yang paling dominan adalah Acropora yakni kacang mirip tanduk rusa yang sudah hancur berkeping-keping.

Dalam usai penyelaman, terjadi diskusi dari rekan-rekan yang berlatar belakang ilmu berbeda; kelautan, biologi, perikanan, pariwisata, hukum, dan ada yang awam bab terumbu karang. Diskusi yang menarik, karena ada perbedaan sudut pandang dan tujuan. Bagi mereka yang berorientasi wisata, kerusakan ini adalah kerugian yang besar. Bagi teman-teman dari kelautan, hanya menghirup nafas panjang sebab mereka tidak terkejut karena banyak kejadian yang jauh lebih parah dan disengaja. Teman dari perikanan, terlihat murung. Bagaimana tidak murung, dia melihat terumbu karang sabagai tempat tinggal dan berkembang biak ikan rusak parah. Ikan bisa lari menjauh, tetapi terumbu karang hanya bisa pasrah menerima nasib. Yang paham hukum nampak mencak-mencak, sebab tindakan ini jelas-jelas pelanggaran dan kesalahan besa, dan bisa dituntuk ganti rugi yang besar.

 

Lain kisah dengan orang biologi yang nampak adem. Dia menjelaskan jika terumbu karang tersebut hanya membutuhkan waktu untuk bisa sembuh kembali. Waktu bisa dalam bulan, tahun, bahkan puluhan tahun. Dia mengatakan juga, jika nanti karangnya bisa tumbuh lebih baik karena usai dipangkas, dengan bercanda dia menjelaskan. Secara prinsip karang bisa kembali berkembang biak dengan 2 cara yakni secara seksual dan aseksual. Secara seksual dia akan melibatkan adanya proses peleburan/ fertilisasi antara sperma dengan ovum. Proses reproduksi seksual lebih rumit, karena harus melalui tahapan fertilisasi, pembentukan larva, planula, penempelan (settlement), rekruitmen dan pertumbuhan koloni. Yang menjadi kendala adalah proses penepelan dan pertumbuhan, karena lokasi buat menempelkan yang rusak.

Ekosistem terumbu karang di Pulau Cilik.

Proses reproduksi karang yang ke-2 adalah dengan fragmentasi. Kali ini fragmentasi sudah dibantu dengan lambung kapal, tetapi sayangnya tidak tebang pilih. Semua difragmentasi/dipotong-potong menjadi ukuran yang tidak semestinya. Biasanya teknik menumbukan karang dengan cara transplantasi, yakni karang dipotong lalu diikatkan dalam batu dan ditenggelamkan. tetapi kali ini ini semua potongan bebas berkeliaran terbawa arus dan peluangnya kecil untuk hidup, terlebih yang masuk ke peairan dalam dan terdampar di pantai.

Siklus terumbu karang.

Kerusakan karang di Raja Ampat dan Karimunjawa adalah puncak gunung es, sebab tempat-tempat lain juga mengalami serupa bahkan dengan kesengajaan. Tidak peduli rusak karena apa, tetapi dampak yang ditimbulkan adalah sama yakni kerusakan ekosistem laut yang memiliki dampak domino. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengembalikan seperti sedia kala, yang perlu diperbaiki adalah manajemen lalu lintas yang baik, prilaku manusia yang ramah lingkungan, dan kesadaran bersama menjaga lingkungan. terumbu karang tidak bisa dipercepat pertumbuhannya layaknya tumbuhan terestrial, dan itulah konsekuensi logis jika karang itu terluka. Yang pasti alam memiliki tabibnya sendiri dalam menyembuhkan, dan manusia jangan lagi memperparah dan menyakitinya kembali. Salam lestari,

Rasa yang sama…

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

  Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk ...