Busana kontenporer (dok.pri).

Tabalong Ethnic Festival, Karya Anak Muda untuk Daerahnya

Busana kontenporer (dok.pri).

“Ise mao na doho tonga” siapa lagi kalau bukan kita, demikian arti dari bahasa Dayak yang sempat saya tanyakan saat mengunjungi TEF (Tabalong Ethnic Festival). TEF menjadi sebuah kesadaran melestarikan budaya nenek moyang yang semakin tersisih oleh perkembangan zaman, sekaligus mengenalkan etnisnya. TEF menjadi salah satu festival tahunan yang diselenggarakan di Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Festival ini menampilkan seni dan budaya masyarakat Tabalong yang berakar dari budaya Banjar dan Dayak yang dimulai sejak tahun 2011 yang diinisiasi oleh perkumpulan Pusaka (putra putri saraba kawa).

Tugu Obor ikon Kabupaten Tabalong (dok.pri).

9 April 20017 adalah pelaksaan TEF yang tahun ke-6. Sudah menjadi agenda rutin tahunan Kabupaten Tabalong untuk menggelar acara ini. Puncak acara TEF adalah karnaval, tetapi ada banyak rangkaian acara yang sudah digelar sejak tanggal 1 April 2017 di Tanjung Expo Center hampir 8 hari berturut-turut. Kegiatan lain yang ada dalam gelaran TEF tahun ini seperti permainan lokal, musik, tarian lokal, dan stand rumah tradisional.

Backlight, keluhan beberapa forografer yang tidak memakain lampu kilat (dok.pri).

Di bawah terik matahari nampak para juru foto sudah berkumpul di bundaran Tugu Obor atau Monumen Tanjung Puri. Lokasi ini menjadi favorit, karena menjadi penciri dari Kabupaten Tabalong. Suara drum band sudah melantun artinya peserta karval sudah mulai berjalan. Garis start dimulai dari SMAN 2 Tanjung dan finis di Tanjung Expo Center dengan total jarak tempuh 1,8 km. Sengatan matahari yang begitu membakar tidak melunturkan peserta menampilkan aksinya dan masyarat yang terus memadati badan jalan.

Anak yang memakai busana banjar (dok.pri)

Pukul 02.00 Wita dan cahaya matari yang masih kuat membuat beberapa juru foto mengeluhkan. Arbain Rambey salah satu juru foto senior nampak hilir mudik mencari lokasi yang tepat agar bisa memotret wajah peserta karnaval dengan pencahayaan yang rata. Dia menyarankan lain kali, jalur karnaval jangan membelakangi matahari agar tidak back light, sehingga hasil foto akan baik. Di sisi selatan, Dia menemukan lokasi yang tepat untuk memotret, nampak serempak beberapa fotografer lokal mengekor di belakang dan di sampingnya. Saya masih bertahan di bayangan tugu obor, untuk berteduh.

Etnis dayak (dok.pri).

Jika melihat karnaval ini, tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat lain seperti Jember yang menjadi salah satu kiblatnya dengan Jember Fashion Festival. TEF tidak sekedar menyajikan fashion, tetapi budaya lokal yang begitu menonjol dan kental. Peserta karnaval TEF terdiri dari sanggar, sekolah, instansi pemerintah, bahkan ada yang dari Kalimantan Tengah.

Kentalnya budaya di Tabalong adalah saat iring-iringan etnis Dayak Maa’nyan, Dayak Deah, dan Banjar. 3 etnis yang dominan di Tabalong, meskipun sebenarnya ada juga etnis-etnis yang lain seperti Jawa, Batak, Minang dan lain sebagainya yang sudah sejak lama menjadi warga transmigran ataupun pendatang. Jumlah peserta ada 210 orang yang melibatkan orang dewasa dan anak-anak, bahkan ada yang sudah kakek-nekek yang juga tampil.

Penampilan total dari etnis dayak (dok.pri).

Tetiba muncul kericuhan dari bawah tugu obor. Anak-anak kecil nampak berlarian, namun para putugrapher (Aksen Tabalong, O mirip U) malah mendekat. Salah satu peserta yang katanya dari Dayak Sampit berlari sambil berteriak-teriak. Sebuah penampilan yang totalitas untuk mengenalkan adat-istiadatnya. Mereka berpakaian nyaris sempurna dengan budaya nenek moyangnya, begitu juga dengan atraksi-atraksi yang ditampilkan. Bagi yang sebagian orang mungkin menakutkan, tetapi ada yang menganggapnya sebagai penampilan yang menarik dan membuktikan akan kekayaan budaya Nusantara.

Bupati Tabalong, H. Anang Syakhfiani mengungkapkan jika kegitan ini bisa memberikan hiburan yang bersifat insipiratif dan edukatif bagi masyarakat Tabalong. PT Adaro Indonesia sebagai salah satu sponsor melalui manajer CSR Idham Kurniawan mengatakan bangga terhadap kawula muda Tabalong, dan berharap kegiatan ini menjadi motor penggerak dalam pemberdayaan masyarakat di Tabalong. Ketua Panitia, sekaligus pendiri perkumpulan pusaka, Firman Yusi mengungkapkan jika TEF ini tidak lepas dari kerja keras pemuda-pemudi Tabalong. Jumlah relawan yang terlibat ada sekitar 300 orang yang terdiri kelompok aremania, pramuka, cisc tanjung, fotografer tabalong, Cbr tanjung, miss gym. “Mereka bekerja selama 6 bulan tanpa minta dibayar, demi memajukan daerahnya” ungkapnya melalui pesan singkatnya. Ise mao na doho tonga sampai jumpa di TEF 2018.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...