Dalung gajah jantan berusia 9 tahun sedang menurunkan pawangnya.

Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Mediator Konflik Gajah dan Manusia

Gajah di suaka margasatwa Padang Sugihan,

Selamat datang di Bandar udara internasional” sesaat hening “Sultan Syarif Kasim II” kembali hening “maaf, bandar udara internasional Sultan Mahmud Badaruddin II”. Saya mengernyitkan dahi saat mendengar pengumuman dari awak kabin dari sebuah maskapai pesawat nasional yang menerbangkan saya dari Jakarta menuju Palembang. Seorang pramugari yang hampir setiap hari menyambangi Pekanbaru dan Palembang bisa saja salah sebut, begitu juga dengan saya yang acapkali tidak bisa membedakan jenis gajah asia dan afrika. Kisah salah sebut nama bandara oleh pramugari mengawali perjalanan menuju Kabupaten Banyuasin-Sumatra Selatan untuk menyambangi Pusat Latihan Gajah di Suaka Margasatawa Padang Sugihan.

Perahu untuk akses menuju SM Padang Sugihan.

Perahu cepat dengan 1 mesin berkekuatan 200 PK membelah sungai Musi menuju arah timur. Beberapa kali badan perahu ini terguncang hebat saat berpasan dengan perahu yang lain. Juru mudi melajukan perahu cepat rerata 50 km/jam seperti yang saya lihat di GPS, namun saat perairan tenang bisa mencapai 60 km/jam. Tujuan kali ini adalah menuju Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang terletak di 2 kabupaten yakni Ogan Komering Ilir dan Banyuasin.

Perjalanan menuju SM.Padang Sugihan bisa melalui darat, tetapi dengan jarak tempuh yang lebih jauh dibandingkan lewat sungai. Dari dermaga di dekat Jembatan Ampera, banyak perahu cepat yang bisa disewa untuk menuju ke sana. Waktu tempuh berkisar 1,5 – 2 jam, dan tergantung dengan kecepatan kapal dan lalu lintas sungainya. Sepanjang perjalanan mata akan di suguhi air sungai yang berwarna kuning kecokelatan, hutan gambut, rawa-rawa, dan beberapa titik sudah menjadi lahan sawit. Beberapa perkampungan juga nampak berjajar di tepi sungai dengan rumah panggung dan jamban apungnya.

SM Padang Sugihan dari tepi sungai.

Tidak terasa 2 jam berlalu dan sampai di sebuah dermaga kecil di Padang Sugihan. Sepintas saya tidak percaya, ini bukan Palembang tetapi Afrika seperti yang biasa saya lihat di kanal televise berbayar yang menayangkan film dokumenter alam liar. Dari dekat saya melihat padang yang luas dan dikejauhan nampak hutan yang lebat, yang menarik adalah kawanan gajah yang berlarian bebas. Gajah Sumatra, salah satu spesies endemik dengan nama ilmiah Elephas maximus sumatranus.

Para pawang sedang duduk di bawah pohon akasia.

Saya langsung dikenalkan dengan pak Jumiran. Dia adalah kepala para pawing gajah di Pusat Latihan Gajah. Sebelum mengenalkan gajah-gajahnya, dia menceritakan rekam jejak karirnya sebagai pawang gajah. Sudah 30 tahunan dia bergulat dengan gajah, dari mulai di Way Kambas-Lampung hingga di Sepokat-Lahat. Dari menangkap gajah liar, menjinakan, hingga melatihnya adalah pekerjaan dia berkaitan dengan gajah.

Menyusuri sebuah jembatan kayu lalu naik di sebuah panggung, lalu pak Jumiran menunjuk kawanan gajang yang sedang makan di tepi anak sungai Musi dan berkata. “di sana ada 30 ekor gajah, dimana ada 24 gajah dewasa dan 6 yang masih anak-anak. Baru saja ada yang baru lahir 1 ekor. Sasaran ke depan adalah meningkatkan jumlah populasi gajah menjadi 10% di tahun 2019”.

Gancu, alat untuk mengendalikan gajah,

Dalam benak saya bertanya, mengapa kawasan ini justru menangkap gajah liar dan dijinakan, bukankah seharunya dibiarkan bebas di alam liar. Sembari duduk dibawah lambung perahu yang dibalik tetapi dibawah pohon Akasia kami berdiskusi. Pak Jumiran menjelaskan sejarahnya pelatihan gajah ini. Dahulu gajah liar banyak yang masuk dalam perkampungan dan lahan pertanian penduduk. Terjadi konflik antara manusia dan gajah. Gajah menjadi ancaman sekaligus terancam. Untuk mensiasati itu maka kita bertindak bagaimana agar kedaua-duanya tidak saling merugikan.

Secara alami gajahi memiliki kemampuan ekolokasi dalam migrasi atau perpindahan tempat. Gajah memiliki jalur khusus yang akan dilewati dalam waktu-waktu tertentu. Gajah juga memiliki wilayah kekuasaan tempat dia mencari makan, tinggal dan kawin. Manusia acapkali masuk dalam wilayah teritori gajah, berada dijalurnya bahkan merubah lansekap wilayah gajah menjadi pemukiman dan perkebunan. Gajah yang merasa terdesak atau kehabisan makanan akan masuk dalam area penduduk. Di situlah konflik manusia dan gajah dimulai.

Sangat susah jika harus berkonfrontasi dengan gajah dan risiko keselamatan menjadi taruhan. Solusi terbaiknya adalah gajah melawan gajah. Beberapa gajah liar ditangkap, lalu dijinakan dan dilatih. Gajah dilatih untuk melakukan apa yang pawang perintahkan. Tujuan awalnya adalah untuk menghadapi gajah-gajah liar yang keluar jalur atau memasuki lahan penduduk. Selain untuk melawan gajah liar, gajah di pusat pelatihan juga dilatih beragam atraksi seperti mengalungkan karangan bunga, mengerek bendera, duduk, main bola. “kami belum behasil melatih gajah untuk menggambar dan menulis seperti di Way Kambas” kata pak Jumiran. Saya hanya berseloroh “kalau bisa jangan dilatih motret dan main komputer ya pak, nanti saya kehilangan pekerjaan”. Gelak tawa, mengakhiri diskusi sembali menikmati air kelapa  muda yang disediakan pak Camat Muara Padang dan Sugihan.

Atraksi naik gajah, suguhan di pusat latihan gajah padag sugihan,

Tetiba saya dipanggil seorang pawang yang bernama Setiono. Saya diajak naik gajah. Sebuah kesempatan langka saya bisa menaiki gajah di habitat aslinya. “Ini namanya Jimy, umur 26 tahun dan dia jantan” pak Setiono menjelaskan spesifikasi kendaraan berkaki empat yang dia tunggangi. Sembari duduk di punggung Jimy, dia menceritakan suka duka menjadi pawang gajah.

Butuh waktu yang lama agar gajah kenal dengan pawangnya. Hampir 10 tahun pak Setiono mengajari Jimy agar mau menuruti perintahnya. Di sini da 40 pawang dan masing-masing mendapat jatah 1 – 2 ekor gajah untuk dipelihara, dirawat dan dilatih. Kami harus sabar dan hati-hati. Gajah sangat pekat terhadap lingkungan sekitarnya dan kami harus selalu waspada. Gajah bisa saja mengamuk saat dia merasa terusik atau sedang memasuki masa birahi.

Dia menuturkan mengapa gajah menjadi pilihan hidupnya dan sepertinya menjadi bagian dari hidupnya. Gajah satu-satunya binatang yang bisa menembus medan apa saja. Lahan gambut dengan ketebalan 2 – 5 m bisa dilalui dengan mudah dengan naik gajah. Gajah juga bisa berenang sejauh 100 – 200 m dan kita tinggal naik di punggungnya. Dengan naik gajah, kita aman akan ancaman binatang liar termasuk gajah liar. Gajah liar tidak mau mendekati gajah jinak, bahkan takut. Gajah jinak sudah memiliki prilaku yang berbeda dengan gajah liar, begitu juga dengan aroma tubuhnya sudah beraroma manusia dan lingkungan barunya.

Tidak terasa sudah jauh saya berjalan menaiki punggung Jimy. Pak Setiono yang asli Ponorogo mengarahkan tunggangnya menuju induk gajah yang sedang mengasuh anaknya. Tetiba anak gajah yang masih mungil lari mengejar Jimy lalu menghadang seolah tidak memperbolehkan pergi. Saya merasakan interaksi gajah dalam komunitasnya. Mungkin apa yang dilakukan gajah mungil ini bagian dari interaksi kawanan gajah yang saling memiliki kedekatan emosional.

Dari ujung sana, Pak Parlan yang menjadi pawang induk gajah dan anaknya berteriak “wadooh maaf itu gajah saya yang nakal dan suka usil” sambil menunjuk gajah yang masih mungil itu. Lantas saya bertanya siapa nama gajah kecil itu. “Belum ada nama untuk 6 gajah yang masih kecil, karena belum ada kesepakatan nama-nama, mungkin suatu saat ada penggede negeri ini yang akan datang ke sini dan memberi nama gajah”. Kata pak Parlan sambil naik Dalung gajah jantan berusia 9 tahun.

Dalung gajah jantan berusia 9 tahun sedang menurunkan pawangnya.

Suaka Margasatwa Padang Sugihan membuka pintu lebar buat para pengunjung yang sebelumnya harus mengurus surat Simakasi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Lokasi ini bisa menjadi lokasi kunjungan wisata bagi mereka yang sudak akan alam liar. 30 gajah sudah lebih dari cukup, terlebih kawasan yang lebih dari 2.000 hektar. Sumatra Selatan memiliki alam liar yang tidak kalah dengan Afrika yang selama ini saya hanya bisa saksikan di layar kaca. Suaka Marga Satwa Padang Sugihan kemungkinan akan manjadi salag satu tujuan kunjungan delegasi Bonn Challenge dari 30 negara dalam konfrensi tingkat tinggi tentang perubahan iklim di Sumatra Selatan 9 – 10 Mei 2017. Jimy dan Dalung menanti anda untuk berkunjung, yang pasti jangan salah bandara.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

2 comments

  1. Krenyes tulisanmu mas.

    Sebenarnya memang gak tega juga untuk kita menaikin gajah begitu mendengar cerita bagaimana mereka “dijinakkan”. Semoga kita bisa menikmati mereka tanpa menyakiti mereka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...