Cover buku Merbabu (Buku Merbabu/Widhi Bek).

Merbabu, Tak Sekedar Pendakian Bertabur Bintang Namun Pesan Moral dan Keindahan

Cover buku Merbabu (Buku Merbabu/Widhi Bek).

Merbabu, salah satu gunung yang paling cantik di Jawa Tengah. Dengan ketinggian 3142 m dpl dan lengkap dengan 4 puncak menjadikan gunung ini salah satu favorit pendaki gunung. Merbabu semakin lengkap kemasyurannya manakala berada di tengah-tengah jajaran gunung di Jawa Tengah. Entah berapa kali saya mendaki, yang pasti sejak tahun 1998 hingga saat ini. Kekaguman saya tidak berhenti sampai di situ, tetapi juga pada dedikasi kepada Seorang Widhi Bek yang sudah melukis gunung ini siang malam dan menorehkannya pada sebuah buku yang bertajuk “Merbabu, pendakian bertabur bintang”.

Buku mungil berisi mahakarya dari Widhi Bek, seorang juru foto dan penulis narasinya.

Entah sudah berapa ribu file foto sudah saya hasilkan, tetapi hanya beberapa yang saya cetak. Widhi Bek berbeda, lewat satu jalur pendakian dia memotret dan membuat sebuah buku setebal 108 halaman. Buku yang lebih tepatnya adalah sebuah catatan perjalanan mendaki Merbabu melalui jalur Suwanting. Dia bercerita lewat gambar, seoalah mengajak penikmatanya merasakan hembusan aroma Pinus merkusii di awal pendakian, merasakan pekatnya debu, peluh di teriknya matahari, dan kerontangnya tenggorokan saat sumber air tidak tersedia.

Pendakian yang sangat melelahkan, walau dia memberi anak judul dengan bertabur bintang. Saya mengartikan, taburan bintang adalah kenyataan dia semalaman hampir tidak tertidur. Dengan penyangga kaki tiga, dan hawa dingin yang menusuk tulang dia seperti mahluk nokturnal. Saat pendaki lain sedang meringkuk dalam hangatnya kantung tidur, dia sibuk menseting kamera, menentukan komposisi, dan berdoa agar langit cerah.

Salah satu lembar favorit saya. Mengambil ini butuh perhitungan yang matang, selain itu siap-siao kedinginan ditengah malam. (Buku Merbabu/Widhi Bek).

Saya yakin memotret lansekap malam bukan pekerjaan penembak jitu “one shoot one kill“. Saya bisa membayangkan, saat memotret star trail langit selatan yang merapi menjadi subyeknya adalah sebuah pertaruhan besar. Membuka rana sekian detik bahkan hingga membakar sensor bermenit-menit adalah sebuah risiko yang besar. Risiko yang besar adalah hasil yang tidak sesuai dengan keinginan kita, bisa saja faktor alam, atau kesalahan seting kamera. Yang pasti pekerjaan ini mirip orang autis yang lagi kumat dan penderita Schizophrenia dadakan.

Saya mengakui, ini dalah potret terbaik yang dirangkum dalam sebuah buku terlebih dengan satu trip perjalanan. Namun tanpa mengurangi rasa hormat saya berharap untuk kedepannya buku mungil ini juga bisa menjadi pembelajaran buat fotografer. Mungkin akan sangat sempurna, selain narasi juga ada bocoran sedikit data exif sehingga bisa menjadi rujukan. Meskipun hanya mm lensa, diafragma, iso, kecepatan, dan waktu itu bisa memberikan informasi kunci bagaiamana bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Untuk fotopanorama sukur-sukur bisa diberikan tips bagaimana teknik pengambilan dan olah digitalnya.

Foto yang epic menurut saya, penuh dengan pesan moral dan sangat langka ditemukan (Buku Merbabu/Widihi Bek).

Sisi lain yang menarik buku ini adalah pesan moral juga disampaikan dengan contoh yang nyata. Sebungkus kue kering dan pesan menjadi foto yang kuat, bahkan nyaris ditemukan foto sejenis. Cerita yang lain adalah saat tragedi ketiadaan air, dengan suka rela warga pengelola base camp mengirimkan air. Sangat jarang saya mendapatkan kepedulian dan tanggung jawab warga pengelola terhadap permasalahan pendaki, disaat semua ini banyak kesan komersialisasi.

Sekali lagi saya ucapkan selamat buat Widhi Bek buat buat sbuah maharkarya dari sisi barat daya Merbabu. Yang pasti tidak hanya cerita manis tentang pendakian bertabur bintang, tetapi juga debu dan nafas yang tersengal-sengal. Saya tunggu karya-karya dari jalur-jalur berikutnya dan gunung-gunung selanjutnya. Merbabu selalu merindumu, selamat… dan terimakasih TelusuRI.

Pesan moral tidak hanya dari pendaki, tetapi juga dari pengelola (Buku Merbabu/Widhi Bek).

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

15 comments

  1. Jadi pengen ke semarang, explore jawa tengah lagi om..

  2. Jadi pengen ke semarang, explore jawa tengah lagi om.

  3. aku belum pernah daki gunung, kalau tingkat dinginnya sendiri di merbabu bisa capai brp derajad sih?

  4. aku purun..

  5. Terima kasih mas Dhanang sudah berkenan membaca dan memberikan ulasan tentang buku Merbabu. Dan terima kasih untuk masukan mengenai data exif foto. Mudah-mudahan nanti bisa ditambahkan data-data exifnya.

    Salam kenal dan minta ijin share ulasannya di web dan facebook njih

  6. aku mau juga, storybooknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Berkah dari Limbah Kepala Manyung

3 tahun bekerja di sebuah perusahaan ikan, membuat saya semakin memahami seluk beluk tantang bisnis ikan. Acapkali, ikan yang beredar di pasaran adalah ikan kelas ...