Kostum dari komunitas grasak internasional.

Goblog Bersama Festival Lima Gunung ke-16

 

Panggung Festival Lima Gunung

Sebuah gapura bertuliskan Pakis Kidul beberapa kali kami lewati hanya untuk mencari arah dusun Gejayan. Beberapa orang yang saya tanya juga tidak memberikan petunjuk yang jelas. Sepasang anak kembar yang sedang berjalan coba saya hentikan untuk bertanya. Dengan mimik serius dia menjelaskan ke mana arah dusun Gejayan. Sepertinya dia sangat kawatir dan ketakutan, bilamana saya tidak memahami penjelasaanya-wajahnya mengatakan itu. Hamparan pohon Pinus merkusii dengan aroma khasnya menyambut saya dengan tanjakan curam hanya untuk menyambangai festival lima gunung.

Peta Lokasi festival ditandai warna merah.

Gerbang menuju Dusun Gejayan.

Usai melewati hamparan hutan pinus, sampailah di sebuah gapura dusun yang berhiasan gunungan wayang yang dibelah menjadi dua bagian. Gunungan wayang yang terbuat dari untaian jerami menjadi penanda jika sudah sampi di Dusun Gejayan, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang-Jawa Tengah, sebagai tempat berlangsunganya Festival lima Gunung ke-16.

Suara tetabuhan terdengar nyaring, ratusan orang mamadati jalanan dusun. Mobil-mobil dari luar kota terparkir di tepian jalan, dan kendaraan bermotor berjajar di lapangan SD. Pengunjung membludak, sebab hari ini tanggal 30 Juli 2017 adalah puncak acara dari rangkaian acara yang dimulai sejak tanggal 28.

Pengunjung sedang menikmati pameran lukisan di balai dusun.

Festival lima gunung adalah pesta budaya yang diadakan oleh para penggerak seni dan budaya yang ada di lima gunung, yakni; Merbabu, Sumbing, Merapi, Andong, dan Menoreh. Penggiat seni dan budaya yang tinggal di lereng-lereng gunung tersebut pada hajatan ini akan menampilkan mahakarya yang telah mereka persiapkan.

Hawa yang dingin segera merasuk ke sumsum tulang sembari menikmati hembusan angin dan kabut tipis. Langit kelabu dan awan menggelayut seoalah hendak menumpahkan airnya. Beberapa kali saya menjumpai beberapa pemuda melempar dan menghamburkan butiran-burtiran garam ke beberapa sudut dusun. Konon, mereka sedang berharap agar hujan segera bisa ditunda, sebab akan ada perhelatan di kampung mereka.

Rempeyek tawon.

Puncak acara baru akan dimulai pukul 13.00, sembari menantikannya saya mencoba mencicipi makanan yang disediakan warga sekitar. Dalam perhelatan ini, warga Dusun Gejayan menyediakan rumahnya untuk tempat singgah, menginap, bagi para tetamu yang datang dan hendak bermalam secara cuma-cuma. Teh panas dan makanan kecil tersedia di meja. Yang manarik saya adalah makanan kecil berupa rempeyek. Rempeyek biasanya terbuat dari tepung lalu ada kacangf hijau, kedelai, atau kacang tanah. Rempeyek di sini diisi dengan gendon (larva lebah) dan lebahnya.

Sebuah kepala naga raksasa nampak di usung oleh seorang pemuda Gejayan. Sepertinya acara puncak akan segera dimulai ditandai dengan suara musik yang bertalu-talu untuk mengumpulkan penonton di lapangan pertunjukan. Bergegas saya segara ikut kerumunan orang, sekaligus mencari tempat yang pas agar bisa memotret acara tersebut.

Sa;lah seorang penari sedang mamatut rekannya dengan menggunakan cat.

Dalam rangkaian acara hingga puncaknya, ada 62 penyaji yang akan menampilkan karya seni dan budayanya. Sebuah festival yang diselanggarakan secara swadaya masyarakat, dan dusun Gejaya menjadi tuan rumah yang ke-empat dari 16 kali perhelatan festivsal lima gunung ini. Setiap tahun, perhelatan ini diadakan di waktu yang hampir bersamaan, dan berpindah-pindah dari gunung satu ke gunung lainnya.

Tema yang diangkat pada festivak ini “Mari Goblog Bareng“. Tema yang unik ini dipilih, sebagai kritik sosial terhadap perkembangan situasi yang terjadi, untuk diperbaiki secara cerdas. Ada banyak orang yang secara intelektual cerdas, tetapi nyatanya tidak perilakunya tidak seperti yang diharapkan masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat awam yang acapkali bertindak bodoh, karena mamang tidak memahami apa yang dilakukannya. Mari goblog bareng, menjadi refleksi bagaimana menyikapi keadaan saat ini dengan cerdas dan bijaksana.

Kostum dari komunitas grasak internasional.

Anak-anak pun dilibatkan dalam tarian.

Arak-arakan pun dimulai, satu persatu peserta menuju lapangan pertunjukan. Yang menarik mata saya untuk terus membidikan lensa adalah komunitas Grasak Internasional. Nama yang tidak lazim, namun konstum yang dikenakan sangat unik. Grasak artinya memungut barang bekas/memulung yang identik dengan kostum mereka yang terbuat dari barang bekas seperti; bunga pinus, kulit kelapa, daun pakis kering dan lain sebagainya. Mereka berkreasi membuat kostum yang unik, dan inilah daya tariknya.

Salah satu tarian yang ditampilakn dalam festival ini.

Pertunjukan demi pertunjukan berlalu. Wajah-wajah penyaji menampilkan rasa puas dan atusias, begitu juga dengan penonton yang memadai tepi panggung pertunjukan. Para jurnalis, masih saja terpaku di titik stratisnya, begitu juga dengan penghobi fotografi hari ini terpuaskan sudah mendapat bidikan human interest dan portrait yang melimpah. Pesawat tanpa awak meraung-raung diatas dusun Gejayan untuk mengambil citra aerial. Sebuah konstelasi seni dan budaya, menyatu di lereng merbabu untuk menyonsong festival lima gunung tahun depan.

About dhaverst

Dhanang DhaVe I'm a Biologist who is trapped in photography world, adventure, and journalism but I enjoy it..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kisah Pilu di Laut Indramayu

Masa kritis itu akhirnya lewat juga, masa dimana isi lambung sudah tidak ada lagi dan tidak mungkin untuk muntah. Guncangan ombak yang semula membuat kepala ...